Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tari Rahmaniar
POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Di tengah menjamurnya restoran berkonsep premium di Labuan Bajo, hadir pilihan baru bagi warga lokal dan para perantau.
Dago di Bajo yang berada di jalan pantai pede blok A3 resmi menggelar soft opening dengan membawa cita rasa khas Sunda, menu western, serta harga yang ramah di kantong, mulai dari Rp10 ribu.
Owner Dago di Bajo, Tikki Capriati Marieski, mengatakan restoran tersebut lahir dari pengalamannya sebagai perantau asal Bandung yang kesulitan menemukan makanan enak dengan harga terjangkau di Labuan Bajo.
"Awalnya saya datang ke Labuan Bajo mengikuti suami yang bekerja di sini. Saya merasakan sendiri sulit mencari makanan yang enak, porsinya besar, tetapi harganya terjangkau. Dari situ muncul keinginan menghadirkan tempat makan yang nyaman untuk warga lokal maupun para perantau," ujarnya, Rabu (29/7/2026).
Baca juga: Penerbangan Wings Air Labuan Bajo-Tambolaka Resmi Dibuka, Dorong Pertumbuhan Pariwisata
Tak hanya menyajikan masakan Sunda, Dago di Bajo juga menawarkan aneka menu Nusantara, steak, pasta, hingga berbagai hidangan western.
Salah satu menu andalan yang menjadi ciri khas restoran ini adalah ayam goreng basah dengan sambal terasi, tenderloin steak, serta jukut goreng, sayuran renyah khas Sunda yang diklaim baru pertama kali hadir di Labuan Bajo.
Berdasarkan pantauan TRIBUNFLORES.COM, antusias masyarakat dari semua kalangan usia saat soft opening pada hari kedua yang diselenggarakan pada minggu 27 Juli 2026 sangat ramai.
Selain itu, cita rasa menu favorit ayam goreng basah yang empuk, gurih dengan bumbu yang menempel menambah selera makan.
"Jukut goreng ini biasanya hanya ada di daerah Sunda. Selama dua tahun saya tinggal di Labuan Bajo, saya belum menemukan yang menjual menu ini. Jadi kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda," ungkapnya.
Dengan harga mulai Rp10 ribuan untuk menu sayuran, sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu untuk nasi dengan lauk, hingga menu western berkisar Rp30 ribuan, Dago di Bajo menargetkan keluarga, pekerja, hingga masyarakat lokal yang ingin menikmati makanan berkualitas tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Menurut Tikki, dengan anggaran sekitar Rp200 ribu, satu keluarga berisi empat hingga lima orang sudah dapat menikmati hidangan bersama.
"Kami ingin mengubah anggapan bahwa makan enak di Labuan Bajo harus mahal. Di sini orang bisa makan kenyang, tempatnya nyaman, dan tetap terjangkau," ujarnya.
Tak hanya mengusung konsep kuliner yang ramah kantong, Dago di Bajo juga berkomitmen memberdayakan masyarakat setempat. Seluruh karyawan restoran, mulai dari manajer hingga pelayan, berasal dari Labuan Bajo dan sekitarnya.
"Semua kru kami sekitar 20 orang, semuanya orang lokal. Selain itu, bahan baku seperti ayam, sayuran, daging hingga air minum juga kami beli dari petani dan pemasok lokal. Kami ingin ikut memajukan ekonomi masyarakat di sini," ungkapnya.
Saat ini Dago di Bajo masih menjalani masa soft opening selama dua hari. Dalam satu hingga dua pekan ke depan, restoran tersebut dijadwalkan menggelar grand opening dengan jam operasional yang lebih panjang, mulai dari layanan sarapan hingga pukul 22.00 WITA.
Selain itu sejak hari pertama soft opening suasana Dago di Bajo tampak ramai dengan kisaran pengunjung mencapai 300 lebih pengunjung.
"Kami masih membuka diri terhadap berbagai masukan dari pelanggan agar ke depan pelayanan dan kualitas makanan semakin baik," ujar Tikki. (iar)