TRIBUNJAMBI.COM – Peluang pemulihan jalur diplomasi di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mencuat di tengah jeda saling serang yang bertahan selama tiga hari berturut-turut.
Kendati penghentian sementara aksi militer ini memberi angin segar bagi prospek perdamaian, kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai masih sangat rapuh dan rawan memanas kembali.
Ancaman eskalasi lanjutan tetap membayangi lantaran rentetan serangan pesawat nirawak (drone) Iran masih menghantam beberapa negara di kawasan.
Selain itu, belum dicapainya titik temu terkait status pelayaran strategis di Selat Hormuz membuat ketegangan belum sepenuhnya mereda.
Mengutip laporan Al Jazeera, Senin (28/7/2026), tim mediator dari Qatar dan Pakistan bekerja ekstra keras menjembatani perbedaan tajam antara Washington dan Teheran.
Langkah diplomasi ini dikonfirmasi oleh sejumlah pejabat Timur Tengah kepada Associated Press secara anonim, mengingat proses komunikasi masih berjalan tertutup.
Para mediator aktif menyambung pesan dari kedua pihak guna membuka kembali kran negosiasi yang sempat buntu akibat gempuran militer dalam beberapa pekan terakhir.
Momentum ini diperkuat oleh absennya serangan udara AS ke Iran selama 72 jam terakhir, meski kepastian perundingan langsung masih menggantung.
Klaim Trump di Air Force One vs Bantahan Teheran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengeklaim pihak Iran telah berulang kali melayangkan permohonan untuk menggelar audiensi resmi.
Baca juga: Trump Ancam Gempur Iran Lagi jika Diplomasi Buntu, Pamer Stok Amunisi AS
Baca juga: Rekam Jejak Adirozal, Mantan Bupati Kerinci Jambi Calon Pengganti H Bakri di DPR RI
"Iran telah meminta pertemuan melalui perwakilan mereka dan secara langsung, dan kami akan bertemu," pamer Trump saat memberikan keterangan kepada awak media di atas pesawat kepresidenan Air Force One.
Donald Trump optimistis dialog berjalan ke arah yang positif.
"Kami sedang berbicara dengan Iran saat ini. Kami sedang melakukan pembicaraan yang baik," tambahnya. Kendati demikian, ia tetap menyelipkan gertakan bahwa Washington siap melancarkan aksi lebih keras jika Teheran menolak kompromi.
Pernyataan Donald Trump tersebut langsung direspons dingin oleh Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran membantah keras klaim dialog langsung dan menegaskan bahwa interaksi yang terjadi murni berjarak melalui saluran pihak ketiga.
"Para mediator dapat menyampaikan pesan kepada kami dari pihak Amerika, tetapi tidak ada negosiasi langsung," tegas Jubir Kemenlu Iran.
Amerika Serikat menghentikan operasi militernya pada Sabtu setelah hampir dua pekan melancarkan serangan terhadap wilayah pesisir dan infrastruktur Iran.
Eskalasi tersebut dipicu oleh tindakan Iran yang menembaki kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama distribusi minyak dunia.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Serangan itu menewaskan sedikitnya tiga personel militer AS di Yordania serta satu orang di Irak.
Trump membantah laporan yang menyebut penghentian operasi dilakukan karena kekurangan rudal pencegat.
Baca juga: Netanyahu Terbang ke AS Temui Trump: Bahas Konflik Iran dan Damai Gaza
• Rekam Jejak Anom W, Politisi Golkar yang Rela Mundur dari BUMN Demi Kursi Bupati Terjaring OTT KPK
Ia menegaskan militer AS masih memiliki persediaan amunisi dalam jumlah besar.
"Kami memiliki banyak amunisi, berbagai jenis," kata Trump.
Ia juga menyebut produksi rudal pencegat Patriot terus ditingkatkan untuk memperkuat stok persenjataan Amerika Serikat.
Jurnalis Al Jazeera, Osama Bin Javaid, yang melaporkan dari Doha mengatakan para mediator masih berusaha menghidupkan kembali nota kesepahaman yang pernah ditandatangani AS dan Iran pada pertengahan Juni lalu.
Kesepakatan tersebut sebelumnya berhasil menghentikan pertempuran sebelum akhirnya kembali runtuh akibat meningkatnya ketegangan pada awal Juli.
Menurut Bin Javaid, salah satu persoalan utama yang masih menjadi perdebatan adalah pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Iran menginginkan seluruh kapal dagang menggunakan jalur pelayaran yang lebih dekat ke wilayahnya.
Teheran bahkan disebut telah menembaki kapal-kapal yang memilih melintas melalui jalur selatan yang lebih dekat ke wilayah Oman.
Sementara itu, Oman mengusulkan mekanisme pembayaran tol sukarela bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.
Namun Iran tetap menginginkan sistem pembayaran itu bersifat wajib.
"Pihak Iran mengatakan situasi di jalur perairan strategis tersebut tidak dapat kembali seperti sebelum perang dan bersikeras akan ada biaya tol," kata Bin Javaid.
Meski demikian, menurutnya, Iran masih membuka peluang untuk membahas bentuk mekanisme pembayaran tersebut.
Di tengah proses mediasi, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan masih menjalankan operasi pengawasan di Selat Hormuz.
Menurut CENTCOM, hingga Senin mereka telah mengalihkan 17 kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut.
Militer AS juga menonaktifkan dua kapal lain serta menaiki dua kapal tambahan guna memastikan kepatuhan terhadap blokade yang diberlakukan terhadap Iran.
Selain itu, setelah nota kesepahaman sebelumnya dinyatakan runtuh, Washington kembali mencabut pengecualian yang mengizinkan penjualan minyak Iran.
Amerika Serikat juga tetap memberlakukan blokade angkatan laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun tembakan telah berhenti untuk sementara, hubungan kedua negara masih jauh dari kata normal.
Keberhasilan mediasi Qatar dan Pakistan kini menjadi salah satu harapan utama agar konflik tidak kembali meluas dan mengganggu stabilitas kawasan maupun perdagangan energi dunia.
Baca juga: Breaking News DPC Demokrat Muaro Jambi Pecat Ade Asmara, Posisi di DPRD Terancam PAW
Baca juga: Lantik Pamong Praja IPDN, Prabowo: Indonesia Bakal Salip Ekonomi Eropa
Baca juga: Vonis Banding Ilhamsyah DPRD Batang Hari Diperberat, Hukuman Naik Jadi 2 Tahun Penjara