TRIBUNJATIM.COM - Perkembangan baru terungkap dalam penyelidikan kasus tewasnya seorang satpam bernama Sumarna yang ditemukan mengambang di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, dengan kondisi tangan terborgol.
Polisi kini mendalami dugaan adanya persoalan pribadi yang dialami korban sebelum peristiwa tersebut terjadi.
Informasi mengenai dugaan masalah pribadi itu masih terus ditelusuri penyidik untuk mengetahui apakah memiliki kaitan dengan kematian korban.
Baca juga: Momen Terakhir Sumarna Satpam Waduk Sebelum Tewas dengan Tangan Terborgol, sempat Dicari Istri
Sebagaimana diketahui, Sumarna (42) ditemukan meninggal dunia di Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026). Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, polisi menduga korban merupakan korban pembunuhan.
Meski demikian, hingga saat ini aparat kepolisian belum menetapkan tersangka maupun melakukan penangkapan terhadap pelaku.
Dalam proses pengungkapan kasus tersebut, penyidik telah memeriksa sedikitnya 15 orang saksi.
"Kita sudah melakukan hipotesa atau beberapa kemungkinan. Sudah banyak kemungkinan yang kita kumpulkan itu kami dalami lebih lanjut," ungkap Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara dilansir dari Kompas TV, Selasa (28/7/2026).
Di sisi lain, penyidik juga mengungkap adanya dugaan persoalan keuangan yang tengah dihadapi korban sebelum meninggal dunia.
"Terkait dengan permasalahan yang ada di korban (sedang didalami)," ujar AKP I Made Purwantara.
Persoalan tersebut sebelumnya turut disinggung Kepala Desa setempat saat berbincang dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Menurut kepala desa, Sumarna yang menjabat sebagai komandan regu (Danton) Linmas dipercaya untuk memegang Dana Bagi Hasil Pajak (DBHP) yang digunakan sebagai pengganti uang Siltap untuk pembayaran BPJS Ketenagakerjaan anggota Linmas.
"Uang BPJS itu dititip ke kalau Linmas ke Danton, saya umumkan bahwa uang itu udah dibayarkan, uang ganti BPJS Ketenagakerjaan itu udah dibayarkan tapi dititipkan ke kepalanya," ungkap kades.
Namun hingga peristiwa pembunuhan terjadi, dana tersebut disebut belum sempat dibagikan kepada anggota Linmas.
"Uang yang dititipkan sama almarhum itu sudah dibagikan?" tanya Dedi Mulyadi.
"Belum, Saya tahu belum itu begitu saya umumkan, mungkin teman-temannya itu mau ngambil ke pos, tapi ternyata enggak ada," ungkap kades.
"Berapa uangnya?" tanya Dedi lagi.
"Rp1.050.000 untuk 14 orang," ujar kades.
Sementara itu, hasil autopsi juga mengungkap dugaan kuat bahwa korban meninggal dunia sebelum tubuhnya dibuang ke perairan Waduk Jatiluhur.
Temuan tersebut didasarkan pada tidak ditemukannya lumpur di paru-paru korban, sementara volume air di paru-parunya hanya sedikit.
Kondisi itu mengindikasikan korban diduga dibunuh di darat sebelum akhirnya diborgol dan ditenggelamkan.
Selain itu, autopsi menemukan sejumlah luka pada tubuh korban, antara lain di bagian wajah, belakang kepala, serta bekas jeratan di leher.
Dalam olah tempat kejadian perkara, polisi juga mengamankan dua borgol, yakni satu yang masih terpasang di tangan korban dan satu lainnya ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Selain itu, telepon seluler milik korban turut ditemukan di area sekitar TKP.
Jika diinginkan, saya juga bisa mengubahnya menjadi gaya Tribun, Kompas, detik, atau tempo tanpa mengubah isi kutipan narasumber.