Drakula adalah pejuang Transylvania. Nama aslinya Vlad III yang dijuluki sebagai Vlad Tepes alias Vlad The Impaler alias Vlad Sang Penyula.
Penulis: P.J. Blumenthal | Tayang di Majalah Intisari edisi April 1982 dengan judul "Drakula Bukan Vampir"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Vampir ialah mayat yang konon bisa menyedot darah manusia hidup, sedangkan drakula sebetulnya seorang pejuang Transylvania yang berhasil memukul mundur tentara Turki. Kejamnya bukan main.
Namun apa yang menyebabkan orang percaya akan vampir? Manusia (hidup) peminum darah memang bukan khayalan.
KABUT menutupi makam-makam. Ketika itu hari masih subuh.
Dua orang petugas dinas kesehatan dengan ditemani oleh seorang penggali kubur dan seorang pemukul genderang muda, memasuki tempat pemakaman di sebuah kota kecil yang berada agak di luar kota.
Dengan rasa tegang kedua orang petugas dinas kesehatan itu memperhatikan sodokan pertama si penggali kubur. Pemukul genderang memandang dengan tegang waktu tanah mulai menumpuk di sisi kuburan.
Kemudian peti mati dibuka dan anak muda pemukul genderang itu jatuh pingsan. Petugas dinas kesehatan berdiri terpaku.
Hanya si penggali kubur memandang mayat itu dengan tenang. Mulut mayat itu setengah terbuka, dari antara kedua bibirnya yang berwarna kebiruan masih mengalir darah segar.
"Seharusnya dia mandi dulu setelah bekerja malam," kata si penggali kubur dengan tenang.
Petugas dinas kesehatan memeriksa mayat itu dengan seksama. Mayat itu tidak kaku, bahkan tampak seperti masih hidup.
Kulitnya segar, begitu juga kuku dan rambutnya. Sekarang semuanya telah jelas. Petugas dinas kesehatan tahu, apa yang harus mereka perbuat.
Cepat-cepat mereka menebarkan irisan bawang putih ke atas mayat dan menancapkan sebuah pasak kayu ke jantungnya. Mayat itu mengeluarkan suatu teriakan yang mengerikan.
Darah menyembul dari lukanya. Dia tidak akan mengganggu orang hidup lagi.
Ini bukan adegan film horor, melainkan bagian dari suatu berita resmi. Pembuatnya tidak lain dari salah seorang petugas dinas kesehatan itu untuk atasannya di Belgrade.
Pada 1727 dia dikirim ke kota Meduegna di Serbia, untuk menyelidiki suatu peristiwa yang misterius: Arnold Paole, seorang tuan tanah yang sudah meninggal masih terlihat di daerah itu.
Empat orang yang diserang oleh tuan tanah yang sudah almarhum itu meninggal dengan cara yang tidak wajar.
Bagi penduduk, setelah kejadian itu tidak ada lagi keragu-raguan, bahwa Arnold Paole telah menjadi vampir. Tetapi apakah benar demikian?
Supaya tidak timbul salah pengertian: hal semacam itu tentu saja tidak pernah ada, walaupun cerita mengenai adanya vampir masih banyak beredar di Eropa Barat, Yunani, dan Asia Tengah. Di Wina tahun 1732 saja tidak kurang dari 40 kuburan digali kembali, karena orang yang dimakamkan di situ dianggap vampir.
Pada 17 dari 40 mayat itu ditancapkan pasak di bagian jantungnya, kepala mayat dipenggal dan dibakar.
Jerman juga tidak terbebas dari takhayul ini. Tahun 1870 di Prusia Barat, istri Gehrke, seorang kepala hutan, meninggal. Suami dan anak-anaknya jatuh sakit. Menurut penduduk desa, nyonya Gehrke ingin membawa serta keluarganya ke liang kubur.
Kakak Gehrke menggali kembali kuburan itu dan mendapati wajah tersebut masih segar. Hal itu tampaknya semakin memperkuat ketakutan yang ada.
Gehrke memisahkan kepala mayat dari tubuhnya sebelum menguburkannya kembali. Dia dipenjarakan dan dihukum karena menodai kuburan. Gehrke naik banding dan pengadilan yang lebih tinggi menerima motif vampir itu.
Seratus tahun yang silam vampir mempunyai dasar hukum di Jerman.
"Dewi Panen" yang dipenggal kepalanya
Mengapa sampai bisa begitu?
Keterangannya mudah sekali. Darah bukan hanya merupakan suatu lambang untuk hidup, tetapi darah itu sendiri memang kehidupan.
Dengan darah kita akan hidup, tanpa darah kita akan mati. Warna merah itu sendiri menimbulkan emosi, yang tidak mungkin terjadi jika kita melihat warna hijau atau biru. Merah menandakan aktivitas, energi, gairah.
Tentu arti warna merah tidak sama besarnya bagi semua kebudayaan. Beberapa kebudayaan sangat harus darah.
Sebagai contoh kita ambil suku bangsa Aztec. Pada setiap musim gugur mereka merayakan suatu upacara kesuburan. Pada waktu itu seorang wanita muda didandani sebagai dewi panen (Chicomecoatl).
Orang-orang yang telah berpuasa seminggu memperhatikan tari-tarian yang penuh gairah, yang dibawakan oleh wanita muda itu di atas padang rumput dengan iringan suara seruling. Mereka menggores telinga masing-masing dan darah yang menetes dikumpulkan dalam mangkuk.
Jika mangkuk itu telah penuh berisi darah, mereka meminumkannya pada wanita muda itu. Kemudian wanita malang itu dipenggal kepalanya dan darahnya ditaburkan ke padang, dengan maksud menyuburkan tanah.
Hubungan yang erat antara hidup dan darah merupakan tradisi yang berumur ribuan tahun.
Ketika pahlawan Homerus, yaitu Odysseus, ingin berbicara dengan sahabat akrabnya yang sudah meninggal, dia mengorbankan dua ekor kambing jantan dan membiarkan darah binatang itu mengalir ke dalam mangkuk. Sekarang kita akan cenderung menganggap bahwa sahabat Odysseus itu bukan sebagai hantu biasa, melainkan sebagai vampir.
Vampir ialah orang-orang mati yang dihidupkan kembali, karena jiwanya menolak untuk mati.
Tentu hal itu dilakukan dengan mengorbankan jiwa orang-orang yang masih hidup. Karena itu mereka tidak disukai.
Tetapi bagaimanakah sebenarnya seseorang bisa menjadi vampir? Menurut suatu dalil kuno: Vampir membangkitkan vampir dan jika orang membuka kuburan vampir dan menancapkan sebatang pasak kayu kc jantungnya, maka semua korbannya akan mengalami nasib yang sama.
Arnold Paole, sosok vampir dari Meduegna, menurut kekasihnya pernah disergap oleh vampir ketika menjadi tentara di Yunani. Setelah mayatnya dibunuh benar-benar oleh para petugas dinas kesehatan, empat korbannya mengalami nasib yang sama.
Daftar dari orang-orang yang dicurigai sebagai vampir sangat panjang: banyak tukang sihir termasuk di dalamnya, begitu juga pembunuh, perampok, orang-orang yang dikucilkan, orang-orang yang meninggal secara tiba-tiba, dan tentu orang-orang yang bunuh diri.
Mereka itu umumnya orang yang tidak beres semasa hidupnya dan selalu tidak merasa puas. Dapat kita bayangkan, pada zaman takhayul berkembang, orang yang sifatnya tidak umum dapat dicurigai oleh tetangga-tetangganya.
Di Inggris sampai tahun 1823 ada undang-undang yang mengharuskan orang-orang bunuh diri dikuburkan di sebuah persimpangan jalan. Biasanya di bawah pohon yang besar, di mana orang itu menggantung diri.
Tetapi hal itu belum cukup: Pada jantung orang-orang yang bunuh diri harus ditancapkan sebuah pasak kayu. Semua tindakan ini dimaksudkan untuk mencegah orang itu mengganggu orang lain. Setelah tahun 1823 undang-undang itu diperlunak.
Orang yang malang itu hanya boleh dimakamkan antara pukul 21.00-24.00. Sudah tentu tanpa upacara Kristen. Baru setelah tahun 1882 cara pemakaman itu diserahkan kepada pendeta dan keluarga si korban.
Lilith atau Lamia
Dongeng mengenai hantu dan monster yang mengganggu manusia selalu ada. Orang Babilonia dan Hebria mengenai Lilith, suatu makhluk yang menakutkan, yang menculik anak-anak pada malam hari.
Di Yunani kuno juga ada yang tidak kalah menakutkannya, yaitu Lamia yang anggun. Lamia adalah kekasih Zeus, dewa yang tertinggi. Hera, istri Zeus, membunuh anak Lamia, karena iri hati.
Sejak itulah Lamia gentayangan pada malam hari dan membunuhi anak-anak wanita lain.
Tetapi apakah cerita-cerita mengenai vampir itu hanya dongeng anak-anak? Bukan. Banyak orang yang mati karena takhayul ini.
Pernah terjadi orang-orang menuduh tetangga mereka atau orang-orang asing sebagai vampir. Akibatnya jantung orang itu dipaku dengan sebuah pasak kayu dalam keadaan masih hidup.
Ini sering terjadi kalau ada penyakit menular, perang atau perubahan sosial yang tiba-tiba. Orang-orang itu dituduh bisa berubah menjadi serigala, kelelawar, atau harimau, yang kemudian menghisap darah orang lain.
Binatang yang seringkali dipakai sebagai gambaran untuk vampir ialah kelelawar. Hal itu dimulai oleh Hernando Cortez, orang Spanyol, yang menundukkan Meksiko. Dia orang Eropa pertama yang mendengar mengenai kelelawar penghisap darah itu dan barangkali juga melihatnya.
Sampai sekarang bahaya binatang terbang yang menyusui itu dianggap terlalu dilebih-lebihkan.
Jarang sekali binatang-binatang itu menyerang manusia. Sebagai korban mereka mencari hewan ternak dan kuda.
Mereka hanya dapat mengisap darah sebanyak-banyaknya 60 gram setiap kali mengisap (yaitu 3 gelas anggur penuh). Jadi dalam setahun tidak lebih dari 30 liter.
Bahaya yang sebenarnya adalah kelelawar dapat menularkan penyakit rabies. Para ilmuwan tertarik pada vampir — kelelawar, karena mereka menemukan suatu zat pada air liur binatang itu yang dapat mencegah pembekuan darah untuk sementara.
Zat dalam air liur kelelawar itu akan merupakan pertolongan yang besar bagi pasien penderita thrombosis.
Ciri-ciri seorang vampir
Bagaimanakah tampaknya seorang vampir itu? Jika kita teringat pada film, kita akan melihat sesosok tubuh yang pucat, memakai pakaian hitam yang anggun — dengan gigi taring yang luar biasa panjang, yang sulit dilupakan.
Meskipun demikian pertunjukan ini hanya memiliki sedikit gambaran umum yang tradisional.
Vampir gaya Cina, yang hanya keluar mencari mangsa pada setiap malam hari, memiliki mata yang menyala, cakar yang panjang dan rambut yang putih sampai putih kehijau-hijauan. Di Rumania vampir memiliki rambut merah, seperti rambut Yudas.
Tanda pengenal yang lain adalah badan yang sangat kurus, yang berbau busuk — karena keadaan di sekitar vampir itu: mayat-mayat dan darah. Di banyak tempat orang juga percaya bahwa vampir tidak ada bayangannya dalam cermin, siang tidur dan malam hari ia menuruti nafsunya (kecuali di Rusia dan Polandia, di mana vampir-vampir itu aktif antara waktu tengah hari dan tengah malam).
Vampir-vampir itu tidak dapat masuk dan berjalan di atas air dan mereka takut pada tanda salib dan bawang putih.
Jadi jika Anda bertemu dengan seseorang yang memiliki ciri-ciri seperti itu, maka Anda pasti berhadapan dengan vampir. Namun Anda baru mendapat kepastian kalau sudah menggali kuburannya — jika mayat itu masih tampak utuh dan Anda menemukan 2 tanda kecil pada lehernya dan darah di atas dan di tepi tubuhnya. Lalu Anda perlu mengetahui bagaimana cara mengalahkan kekuatannya.
Membuat vampir tak berdaya
Mengenai hal ini kita banyak memperoleh informasi. Cara yang terpenting adalah seperti yang digunakan terhadap Arnold Paole, yaitu menaburkan bawang putih ke atas mayat dan menancapkan sebuah pasak kayu ke jantungnya. Pasak kayu ini biasanya terbuat dari kayu espe, duri putih (pohon mawar) dan ahorn.
Kebanyakan kepala mayat dipisahkan dari tubuhnya dan tubuhnya dibakar.
Di Rumania cara ini masih diperluas. Orang yang telah meninggal dan dianggap sebagai vampir, kuburnya akan digali kembali. Ke dalam mulut mayat itu akan dijejalkan bawang putih.
Di atas kuburannya akan ditaburkan jewawut. Maksudnya untuk memberi makan kepada mayat sehingga mencegah ia meninggalkan makam.
Dengan alasan yang sama sebuah batu dikepalkan pada tangan mayat itu. Di atas makam ditanami bunga mawar yang berduri. Maksudnya untuk menghalangi tubuh yang ingin ke luar. Mayat itu diletakkan dengan posisi kepala telungkup dan sebuah pasak kayu dihujamkan ke jantungnya.
Kita mendengar banyak cerita mengenai vampir yang haus darah, yang keluar lagi dari kuburannya. Apakah semua cerita itu hanya merupakan gambaran fantasi yang bersumber pada nenek moyang? Atau memang benar ada orang yang melihat bentuk makhluk seperti Arnold Paole dalam peti mati yang telah terbuka?
Mati suri membuat gara-gara
Banyak teori yang berbeda mengenai sumber legenda itu. Salah satu mendasarkan teorinya pada bukti bahwa sampai abad ini seringkali manusia dikuburkan hidup-hidup.
Tentu saja hal itu tidak disengaja, melainkan karena mati suri. Kemungkinan semacam itu mengakibatkan rasa takut yang besar.
Komponis Frederic Chopin menulis pada secarik kertas di atas ranjang kematiannya: "Pastikanlah bahwa saya benar meninggal. Saya takut dikuburkan dalam keadaan masih hidup."
Ada bukti medis yang menunjukkan bahwa ada orang yang masih hidup, meskipun mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Dokter menamakannya mati suri. Fungsi alat-alat tubuh sudah sedemikian lemah, sehingga tidak terlihat.
Mati suri dapat disebabkan karena kelelahan yang sangat. Ada orang yang sadar sepenuhnya dalam keadaan seperti ini. Dia mendengar dan melihat semua yang terjadi di sekelilingnya, meskipun tidak bisa menggerakkan sebuah otot pun.
Dulu di Eropa Timur penggalian makam bukan hal yang luar biasa. Maksud penggalian ialah untuk melihat apakah roh mayat sudah pergi.
Dari waktu ke waktu sudah terbukti, bahwa orang yang disangka mati itu dikubur terlalu cepat. Penemuan ini pasti sangat mengejutkan. Entah mayat itu didapati dalam posisi lain daripada posisi semula, atau dapat dilihat tanda-tanda perjuangan untuk tetap hidup.
Ada yang sampai menggigit bibir atau lengannya, mengoyak kain kafan atau bajunya. Adakala darah membasahi peti mati itu. Tak heran bahwa penemuan-penemuan semacam itu mempertebal takhayul.
Ada juga mayat yang memerlukan waktu lebih lama untuk membusuk. Entah apa alasannya, ketika kuburan seorang wanita Prancis bernama Ancone digali pada tahun 1952, darah masih mengalir di pipi wanita berumur 70 tahun itu. Padahal dia meninggal tahun 20-an. Akibatnya banyak orang yang menganggapnya sebagai vampir.
Manusia peminum darah zaman modern
Kita telah memastikan bahwa sebenarnya tidak ada vampir.
Meskipun demikian belum ada kesepakatan. Ada bukti-bukti otentik bahwa ada manusia peminum darah manusia lain.
Salah satu contoh ialah Duchess Elisabeth, wanita bangsawan dari Bathory di Hungaria pada abad ke-17. Peristiwa itu sangat terkenal karena dia telah membunuh sekitar 300-600 orang wanita muda.
Apa alasannya? Wanita bangsawan yang sudah tua ini ingin mandi dalam darah manusia, untuk menjaga agar kulitnya tetap muda dan segar.
Di Dusseldorf sekitar tahun 1930 tersiar kabar yang menakutkan dan mengejutkan mengenai Peter Kurten. Dia membunuhi anak-anak untuk meminum darah mereka.
Di pengadilan dia berkata: "Saya membutuhkan darah seperti orang lain minum alkohol." Kurten dihukum mati.
Masih ada lagi, Fritz Haarmann, pembantai dari Hannover. Dia membujuk anak-anak remaja untuk mau menginap di tempatnya. Mereka diberinya roti, kemudian dia menggigit leher anak-anak muda itu dan membunuhnya.
Suatu contoh vampirisme yang mengerikan baru terjadi pada 1970-a. Kuno Hofmann yang berusia 39 tahun, yang dinamakan "Vampir dari Nurnberg", pada 1972 dituduh sebagai pembunuh sepasang anak muda.
Orang menemukan korban-korbannya di dalam mobilnya. Ahli-ahli kedokteran berpendapat, mereka dibunuh dengan sebuah revolver. Tetapi setelah kedua korban itu meninggal, Kuno menghisap darah kedua mayat itu.
Sebelum melakukan hal itu Kuno Hofmann menggali beberapa kuburan dan membuka peti mati wanita-wanita.
Ketika memberikan alasan mengapa dia membunuh pasangan itu, Hofmann mengatakan bahwa dia membunuh si pria dan meminum darahnya, agar menjadi cakap dan kuat seperti korban. Dia membunuh wanita muda itu, karena wanita itu lebih cantik dari wanita dalam kuburan.
Lain drakula, lain vampir
Sebaliknya vampir yang paling terkenal bukan vampir sebenarnya. Namanya Vlad Tepes. Dalam bahasa Rumania berarti Vlad si Tonggak.
Dia hidup pertengahan abad ke-15 di Pegunungan Karpatia (Transylvania). Sampai sekarang di Rumania dia dianggap sebagai pahlawan nasional, karena dia berhasil memukul mundur tentara Turki.
Meskipun demikian Vlad kejam luar biasa jika berhadapan dengan musuh-musuhnya. Dalam masa pemerintahannya lebih dari 100.000 orang Turki, Saksen, Hungaria, dan Rumania ditancapkan pada tonggak-tonggak.
Cerita ini mengilhami pengarang Bram Stoker untuk menulis cerita vampir yang paling terkenal pada tahun 1897. Ayah Vlad adalah anggota "Ordo naga".
Naga dalam bahasa Rumania adalah "dracul". Kata itu merupakan nama ejekan bagi ayahnya.
Vlad, putranya, mewarisi nama itu — nama yang kemudian dipakai dalam cerita-cerita roman dan film-film horor. Dia dijuluki "naga kecil", yang dalam bahasa Rumania-nya: Dracula. (P.J. Blumenthal)