TRIBUNFLORES.COM, MATARAM – Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko 2×10 MW di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, memasuki tahapan penting. PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) memastikan berbagai kesiapan proyek sebelum pelaksanaan pengeboran atau drilling dimulai.
General Manager PLN UIP Nusra, RDW. Manurung, bersama Vice President Panas Bumi PLN, Maternikus Tigor Marolop Situmorang, melakukan peninjauan langsung progres pembangunan PLTP Mataloko pada Jumat (24/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, jajaran manajemen PLN meninjau sejumlah infrastruktur pendukung yang telah dibangun, seperti wellpad, akses jalan, sistem penyediaan air, serta lokasi manifestasi panas bumi yang menjadi dasar pengembangan proyek.
Peninjauan ini juga dilakukan untuk mengevaluasi kesiapan teknis pekerjaan pengeboran, termasuk ketersediaan air yang akan mendukung aktivitas drilling. Saat ini, PLN masih menunggu keputusan dari KfW selaku pemberi pinjaman terkait skema pemanfaatan air untuk tahapan pengeboran.
Baca juga: Srikandi PLN UIP Nusra Perkuat Peran Perempuan Hadapi Ancaman Bencana
RDW. Manurung mengatakan, proyek PLTP Mataloko terus menunjukkan perkembangan dan kini berada pada fase penting sebelum memasuki tahap drilling.
"Kami ingin memastikan seluruh kesiapan proyek, mulai dari infrastruktur pendukung, aspek teknis, hingga pengelolaan lingkungan telah memenuhi standar sehingga tahapan drilling dapat dilaksanakan secara aman, efektif, dan sesuai rencana," ujar Manurung.
Menurutnya, potensi panas bumi Mataloko tidak hanya dapat mendukung penyediaan listrik, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan langsung yang memberi nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian daerah.
Energi panas bumi tersebut dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, seperti sumber panas industri, kawasan pemandian air panas berbasis geowisata, hingga sektor pertanian melalui pengembangan greenhouse berbasis energi panas bumi.
"PLTP Mataloko merupakan salah satu proyek strategis di Flores yang diproyeksikan mampu meningkatkan keandalan sistem kelistrikan Flores sekaligus mendukung target transisi energi nasional melalui pemanfaatan energi panas bumi," jelasnya.
Dalam pengembangan proyek tersebut, PLN juga menyiapkan berbagai langkah pengelolaan dan mitigasi lingkungan. Upaya yang dilakukan antara lain pemasangan Automatic Water Level Logger (AWLR), pelibatan masyarakat dalam kegiatan monitoring, menjaga aliran ekologis sungai, serta menyediakan ruang dialog dan pengaduan bagi masyarakat.
Manurung menegaskan, seluruh tahapan pengembangan PLTP Mataloko dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, keterbukaan, dan keberlanjutan.
"Setiap tahapan kami laksanakan dengan memperhatikan aspek teknis, lingkungan, dan sosial secara seimbang," katanya.
Sebelum melakukan peninjauan lapangan di Mataloko, jajaran PLN UIP Nusra juga mengikuti Forum Komunikasi Para Pemangku Kepentingan Proyek Panas Bumi Flores dan Lembata di Kampus II IFTK Ledalero, Maumere, Kamis (23/7/2026).
Forum tersebut menjadi ruang dialog antara PLN, akademisi, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan proyek panas bumi di Flores dan Lembata, termasuk menyampaikan aspirasi serta isu strategis yang berkembang di masyarakat.
Manager Unit Pelaksana Proyek (MUPP) Nusra 2, Avianda Edwin Fachruddin, mengatakan PLN berkomitmen melaksanakan pengembangan PLTP Mataloko secara transparan dan partisipatif dengan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
"PLN memastikan masyarakat memperoleh informasi mengenai rencana kegiatan, potensi dampak, serta langkah pengelolaan yang dilakukan. Pendekatan ini penting untuk membangun komunikasi terbuka dan hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar proyek," ujar Avianda.