TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN - Senyum kebahagiaan tampak tak lepas dari wajah Sugeng (40), warga Kelurahan Kupangsari, Kecamatan Ambarawa, saat melangkah menuju Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang pada Rabu (29/7/2026).
Penyandang tuna daksa tersebut hadir bukan sekadar untuk mengikuti prosesi seremoni semata, melainkan membawa harapan baru bagi keberlanjutan usaha pembuatan jaran kepang yang telah ia tekuni bertahun-tahun.
Di tengah keterbatasan fisik yang dimilikinya, Sugeng tetap memilih untuk bertahan hidup dengan mengandalkan keterampilan tangannya sendiri.
Baca juga: Unik! Warga Banyuwangi Gelar Pesta Sunatan Meriah untuk Ketiga Kucingnya, Ada Hiburan Jaran Kepang
Setiap hari ia menganyam, mengecat, hingga merangkai bilah-bilah bambu menjadi sebuah karya seni jaran kepang yang bernilai jual.
Dalam sehari, Sugeng mampu menyelesaikan pengerjaan sekitar dua buah jaran kepang, sementara total produksi dalam sebulan dapat mencapai kisaran 50 unit.
Hasil karya kerajinannya tidak hanya diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pentas kesenian tradisional, tetapi juga dibuat dalam ukuran mini sebagai produk mainan anak-anak.
Selama ini, seluruh operasional usaha kerajinan bambu tersebut ia jalankan secara mandiri dengan modal pribadi yang tergolong terbatas.
"Modal awal itu sekitar Rp 300 ribu. Saya buat sekitar 30 jaran kepang dari modal itu," ungkap Sugeng.
Hingga akhirnya, Sugeng terpilih menjadi salah satu penerima bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang disalurkan melalui Dinas Sosial Kabupaten Semarang.
Penerimaan bantuan modal kerja tersebut membuatnya terus tersenyum bahagia lantaran tersimpan harapan besar agar usahanya dapat terus berkembang maju.
"Bantuan ini untuk beli kompresor, cat, dan bambu," kata Sugeng.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang Istichomah menjelaskan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan program kerja Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang direalisasikan berdasarkan usulan pemerintah daerah.
Ia memaparkan bahwa terdapat dua skema bantuan yang dikucurkan, salah satunya yakni program Kelompok Usaha Bersama (KUBE).
Terdapat sebanyak 18 kelompok yang masing-masing menerima kucuran modal KUBE sebesar Rp20 juta.
Setiap kelompok KUBE tersebut beranggotakan 10 orang dengan ragam jenis bidang usaha, mulai dari sektor perikanan hingga peternakan ayam pedaging maupun petelur.
Selain KUBE, skema bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) disalurkan kepada 20 orang penerima manfaat dengan nominal sebesar Rp2,5 juta per individu.
Dari total 20 penerima UEP tersebut, sebanyak 15 orang merupakan pelaku usaha mandiri, empat orang berasal dari program Kecamatan Berdaya, dan satu penerima memperoleh bantuan khusus Pemprov Jateng.
"Mayoritas penerima UEP adalah penyandang disabilitas. Syaratnya, mereka belum pernah menerima bantuan usaha, masuk dalam desil 1 sampai 4, dan usahanya kami verifikasi terlebih dahulu apakah layak untuk dikembangkan," ujar Istichomah.
Menurut penilaian Istichomah, pemberian bantuan modal ini menjadi langkah nyata untuk mendorong warga penyandang disabilitas agar mampu berdaya dan mandiri secara ekonomi.
"Harapan kami sesuai slogan 'berdaya dan setara', penyandang disabilitas memiliki usaha yang bisa menghidupi dirinya sendiri sehingga semakin mandiri," ungkapnya.
Ia mengungkapkan bahwa wilayah Kabupaten Semarang saat ini memiliki lebih dari 100 warga penyandang disabilitas yang mempunyai potensi besar untuk mengembangkan bidang usaha.
Kendati demikian, adanya keterbatasan alokasi anggaran membuat pihak pemerintah daerah belum dapat memberikan bantuan modal kepada seluruh calon penerima.
"Selama ini kami juga memberikan pelatihan seperti tata boga dan menjahit. Ke depan kami ingin tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi juga memberikan dukungan permodalan agar ilmu yang mereka miliki benar-benar bisa menjadi usaha yang menghasilkan," terangnya.
Khusus bagi kelompok penerima bantuan KUBE, Istichomah menambahkan bahwa jajaran Dinas Sosial bakal menjalankan proses pendampingan serta pemantauan berkala selama enam bulan ke depan.
Apabila unit usaha kelompok menunjukkan tren perkembangan positif, pihak pemerintah daerah bakal mengusulkan tambahan kucuran permodalan demi menjaga keberlanjutan usaha warga.
Sementara itu, Bupati Semarang Ngesti Nugraha menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang telah mengalokasikan program bantuan KUBE dan UEP bagi warganya.
Menurut Ngesti, kucuran bantuan permodalan ini menjadi suntikan motivasi bagi para pelaku usaha kecil, terutama kalangan disabilitas, untuk memajukan usaha dan menyejahterakan keluarga.
Ia menambahkan bahwa ragam usaha yang dikembangkan oleh para penerima bantuan sangat bervariasi, mulai dari sektor perikanan, peternakan ayam, warung kelontong, hingga kerajinan jaran kepang.
"Semuanya merupakan usaha yang kreatif, terutama yang dijalankan oleh teman-teman penyandang disabilitas. Kami berharap bantuan ini bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga usaha mereka semakin maju, berhasil, dan terus berkembang," kata Ngesti. (eyf)