Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Musim kemarau yang mulai melanda Provinsi Bengkulu berdampak pada meningkatnya kasus kebakaran lahan di Kota Bengkulu.
Sepanjang musim kemarau ini, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bengkulu mencatat sedikitnya 15 laporan kebakaran lahan di wilayah Kecamatan Muara Bangkahulu.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bengkulu, Yuliansyah, mengatakan sebagian besar kebakaran dipicu oleh kelalaian masyarakat, mulai dari membakar sampah hingga membuang puntung rokok sembarangan di lahan kering.
“Sejak memasuki musim kemarau, kami sudah menerima sekitar 15 laporan kebakaran lahan di Kecamatan Muara Bangkahulu. Mayoritas penyebabnya bukan faktor alam, melainkan kelalaian masyarakat,” kata Yuliansyah saat dihubungi TribunBengkulu.com, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, kondisi vegetasi yang mengering akibat minimnya curah hujan membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan meski hanya berasal dari sumber api berukuran kecil.
Menurutnya, aktivitas membakar sampah di pekarangan maupun lahan kosong masih menjadi penyebab utama kebakaran.
Selain itu, puntung rokok yang dibuang sembarangan juga berpotensi memicu api ketika mengenai rumput atau semak yang telah mengering.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan selama musim kemarau. Begitu juga bagi para perokok agar tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat karena risikonya sangat besar,” ujarnya.
Yuliansyah menambahkan, pihaknya terus meningkatkan patroli dan kesiapsiagaan personel untuk mengantisipasi potensi kebakaran lahan yang diperkirakan masih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Ia juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar proses pemadaman dapat dilakukan lebih cepat sebelum api meluas.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sebagian besar wilayah Provinsi Bengkulu telah memasuki musim kemarau sejak Juni 2026.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu, Tri Widiarto, menjelaskan awal musim kemarau dimulai secara bertahap sejak dasarian pertama atau 10 hari pertama Juni 2026, terutama di wilayah selatan Bengkulu yang meliputi Kabupaten Kaur hingga Kabupaten Seluma, serta sebagian Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong.
Pada dasarian kedua Juni, musim kemarau mulai meluas ke sebagian wilayah Kabupaten Mukomuko. Selanjutnya pada dasarian ketiga Juni, kondisi serupa terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Lebong dan sebagian kecil Kabupaten Bengkulu Utara.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Bengkulu terjadi pada Juli 2026. Namun, beberapa daerah diprediksi baru mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.
Tri Widiarto mengatakan musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal akibat pengaruh fenomena El Nino di Samudra Pasifik yang mengurangi pasokan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Bengkulu.
Berdasarkan data historis BMKG, curah hujan di Bengkulu selama periode Juni hingga November berpotensi berkurang lebih dari 20 persen dibandingkan kondisi normal.
Analisis curah hujan dasarian juga menunjukkan hampir seluruh wilayah Provinsi Bengkulu menerima curah hujan kurang dari 50 milimeter.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, menurunnya ketersediaan air bersih, penyusutan debit sungai dan waduk, hingga memperbesar potensi kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, menggunakan air secara bijaksana, serta menjaga kelestarian lingkungan guna mengurangi dampak musim kemarau.
Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dengan menghindari aktivitas yang dapat memicu api, termasuk membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan di area yang dipenuhi rumput atau semak kering.