Jakarta (ANTARA) - Warga Jalan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, mengeluhkan aksi tawuran antarkelompok remaja yang disebut terjadi hingga dua sampai tiga kali dalam sepekan dan meminta aparat meningkatkan patroli serta membangun pos polisi permanen untuk menekan kejadian tersebut.
Seorang warga sekaligus juru parkir di sebuah minimarket kawasan tersebut, Tatang (59) mengatakan, tawuran di kawasan tersebut umumnya melibatkan kelompok remaja dari wilayah Krendang dan Duri.
“Itu seminggu bisa dua sampai tiga kali, yang pada tawuran bocah dari Krendang sama dari Duri. Pemicunya enggak ada apa-apa sebenarnya, mereka cuma keprok-keprok doang nyari lawan,” kata Tatang saat ditemui di lokasi, Rabu.
Menurut Tatang, aksi tawuran itu biasanya bermula dari saling mencari lawan di sekitar yang tak jauh dari lokasi tempat kejadian perkara (TKP). Ia menilai, kedua kubu sudah saling mengetahui jadwal-jadwal mereka akan bertempur.
“Mereka enggak ada dari media sosial, intinya dia kaya punya jadwalnya sendiri, datang ke rel kereta api terus keprok-keprok baru dah mereka saling langsung keluar,” jelasnya.
Ia menyebutkan, tawuran di lokasi itu paling sering terjadi pada akhir pekan, terkhusus pada Sabtu hingga Minggu dini hari. Namun, kata Tatang, tidak jarang juga bentrokan juga kerap terjadi pada malam Senin.
“Sering mah Sabtu, malam Minggu tapi kadang malam Senin juga ada. Kalau jamnya mereka enggak nentu, kadang jam warga masih rame jam 12 malam aja mereka udah mulai,” kata Tatang.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa tawuran yang terjadi beberapa hari lalu sempat memakan korban jiwa. Dari laporan yang diketahuinya, seorang remaja berusia sekitar 17 hingga 18 tahun asal RW 9, Duri, meninggal dunia setelah mengalami luka bacok saat tawuran.
“Baru minggu lalu anak RW 9 Kelurahan Duri itu kena bacok. Umurnya sekitar 17 atau 18 tahun gitu, dia meninggal di tempat,” tutur Tatang.
Tatang melanjutkan, aksi kriminal yang dilakukan secara berkelompok itu sering kali merusak gerobak milik pedagang sekitar.
“Mengganggu masyarakat juga itu, banyak banget pecahan-pecahan kaca botol di sini. Gerobak-gerobak pedagang juga banyak yang hancur. Kalau toko-toko sih enggak, karena biasanya sudah tutup,” katanya.
Dia pun berharap, aparat keamanan bisa meningkatkan patroli rutin pada jam-jam rawan, terutama antara pukul 00.00 hingga 03.00 WIB.
Ia juga mengusulkan pembangunan pos polisi permanen di kawasan Jalan Jembatan Besi yang dinilai menjadi titik rawan tawuran.
“Jam 12 sampai jam 3 itu harus sering dikontrol. Tolong juga dibuatkan satu pos polisi di daerah sini. Saya yakin kalau ada pos polisi mereka enggak berani tawuran,” ujarnya.
Menurut dia, keberadaan pos polisi pernah terbukti efektif menekan aksi tawuran di kawasan dekat kali di Season City. Ia menyebut, usai pos polisi didirikan di lokasi tersebut, aksi tawuran yang sebelumnya sering terjadi disebut tidak lagi terlihat.
“Saya yakin pasti kalau ada pos polisi mereka itu pada ga berani. Ini sudah teruji kok di kawasan Season City pinggir kali itu, sebelumnya kan mereka pada tawuran nya disana, terus didiriin pos polisi mereka jadi ga berani lagi tawuran di sana,” ujar dia.





