BANJARMASINPOST.CO.ID- KEMARAU panjang di wilayah Kalimantan Selatan belum ada tanda-tanda berakhir. Titik api akibat lahan terbakar pun kian banyak bermunculan. Tak cukup satu persoalan kebakaran lahan, kekeringan pun melanda.
Kota Banjarbaru dan sekitarnya mulai mengalami kekeringan. Sejumlah sumur warga tidak lagi dapat disedot airnya karena mengering.
Demikian pula di kawasan hulu Kalsel, seperti di Kabupaten Hulu Sungai Utara, sungai dan rawa di Kecamatan Banjang mulai surut dan kering.
Dampak utama dari kemarau panjang yang disusul oleh kekeringan lahan adalah krisis sanitasi dan air bersih, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ancaman gagal panen.
Krisis pertanian akibat gagal panen karena kekurangan pengairan dari irigasi atau terlambat memulai musim tanam bagi lahan tadah hujan.
Sedangkan kekeringan lahan menyebabkan berkurangnya pasokan air bersih yang menjadi salah satu keperluan utama bagi kehidupan manusia, dan dampak susulannya adalah krisis kesehatan.
Sedangkan lahan kering mudah terbakar, menimbulkan titik api di mana-mana yang ujung-ujungnya menimbulkan kabut asap dan polusi udara.
Data dari Balai Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalsel, kemarau panjang di Banua baru berangsur berakhir di bulan Oktober 2026, yakni masa transisi ke musim hujan.
Berarti, masih sekitar lebih dua bulan Kalsel alami kemarau dan kekeringan hingga akhir Oktober 2026.
Artinya pula, selama lebih dua bulan itu risiko atau dampak negatif dari musim kemarau ini bisa meningkat dan buruk bagi Kalimantan Selatan. Sementara dari data BMKG, bulan September jadi bulan terkering yang patut lebih diwaspadai dampak buruknya.
Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap dampak ikutan musim kering panjang wajib dilakukan, baik pemerintah daerah maupun masyarakat.
Pemerintah harus mempertimbangkan untuk mengambil tindakan modifikasi cuaca untuk mengurangi dampak kekeringan.
Setidaknya, modifikasi cuaca membantu untuk mengurangi kekeringan ekstrem di beberapa wilayah yang menjadi lumbung padi agar keseimbangan pangan terjaga.
Modifikasi cuaca juga membantu mengurangi risiko kebakaran lahan dan hutan atau mengurangi titik api yang sudah terjadi demi menjaga kualitas udara.
Hujan yang turun akibat modifikasi cuaca juga akan mengisi embung-embung air, waduk sebagai sumber air bersih, membasahi kembali rawa yang kering untuk menjaga ekosistem di sana tetap bertahan hingga musim penghujan tiba.
Selain modifikasi cuaca, pemerintah daerah juga wajib menyiapkan tim mitigasi bencana kekeringan.
Edukasi kepada masyarakat maupun warga yang tinggal di sekitar hutan penting agar jangan membakar lahan, namun tidak kalah penting adalah tegas kepada pemilik lahan besar, pengusaha perkebunan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. (*)