Iran Dikabarkan Terima Ratusan Rudal Buatan China di Tengah Ancaman Baru Trump
Nuryanti July 30, 2026 09:19 AM

TRIBUNNEWS.COM - Iran dikabarkan bakal menerima pengiriman ratusan unit sistem rudal pertahanan udara panggul buatan China dalam beberapa pekan ke depan.

Menurut laporan eksklusif Reuters, kesepakatan bernilai sekitar 70 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,1 triliun tersebut mencakup pembelian 300 hingga 400 unit sistem pertahanan udara portabel.

Jenis rudal yang dibeli Iran mencakup varian QW-12 dan FN-16, yang dirancang khusus untuk merontokkan sasaran udara berjarak dekat dan terbang rendah seperti helikopter, pesawat tempur taktis, hingga drone pengintai.

Langkah ini menjadi transaksi alutsista terbesar Teheran untuk kategori pertahanan jarak pendek sejak fasilitas militer dan infrastruktur vital mereka digempur oleh serangan udara AS dan Israel dalam beberapa bulan terakhir.

Guna menghindari deteksi serta sanksi internasional, transaksi pembelian dilaporkan tidak dilakukan secara langsung antar pemerintah.

Melainkan memanfaatkan perusahaan perantara yang berbasis di Hong Kong, yakni Zhongqing Baoshang International Investment.

Menurut sumber intelijen, pengiriman tahap pertama akan diterbangkan dari wilayah Urumqi di China barat, sebelum melintasi wilayah transit menuju Iran.

Kendati demikian, Kementerian Luar Negeri China membantah keras laporan transaksi alutsista tersebut.

Beijing menegaskan, klaim mengenai penjualan rudal panggul ke Iran "tidak berdasar".

Senada dengan Beijing, otoritas militer Pakistan juga membantah tuduhan yang menyebut wilayahnya dijadikan jalur transit pasokan senjata tersebut.

Baca juga: 5 Populer Internasional: Pakar Tanggapi Kelanjutan Serangan AS-Iran - Netanyahu dan Zelenskyy ke AS

Ancaman Baru Trump

Laporan mengenai pembelian rudal tersebut beredar di tengah ancaman terbaru dari Presiden AS, Donald Trump.

Trump menyampaikan ancaman terbuka bahwa pihak militer AS akan memberikan respons militer yang sangat keras terhadap Iran.

Pernyataan keras tersebut sekaligus mengakhiri jeda kemanusiaan dan diplomasi singkat yang sempat berlangsung selama beberapa hari, untuk meredakan bentrok fisik yang telah berlanjut selama hampir lima bulan.

Dalam wawancara telepon resmi bersama Fox News, Trump tidak menahan diri saat mengomentari eskalasi terbaru ini.

Mengesampingkan bahasa diplomasi yang halus, Trump menegaskan AS tidak akan tinggal diam terhadap setiap ancaman yang menargetkan personel maupun fasilitas militernya di luar negeri.

"Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras," ujar Trump.

"Mereka akan merasakan pukulan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya," lanjut Trump.

Kendati mengeluarkan peringatan keras, Trump mengisyaratkan pintu komunikasi diplomatik tidak sepenuhnya tertutup rapat.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan dimulainya kembali negosiasi damai, ia menyatakan masih membuka celah tipis.

Baca juga: Kesal Markas AS di Yordania Diserang, Trump Klaim Siap Buat Iran Babak Belur

"Kami akan membiarkan mereka terus berbicara," tambahnya. 

Namun, pengamat politik internasional menilai pernyataan Trump ini sebagai penanda bahwa AS siap melancarkan operasi militer balasan dalam skala yang jauh lebih besar dibanding gelombang serangan sebelumnya.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.