Menulis Dengan Lidah Leluhur, Menjaga Nyawa Bangsa
suhendri July 30, 2026 12:03 PM

Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali

SELASA (28/7/2026), penulis ikut menjadi bagian dari kegiatan bimbingan teknis pengajar utama  revitalisasi bahasa  daerah di Toboali, Bangka Selatan. Puluhan guru dari berbagai satuan pendidikan di Bangka Selatan hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan Kantor Badan Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dihadiri Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Afriyendy Gusti dan Kepala Dinas  Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan Anshori.

Sebagai penulis, tentunya sebuah kehormatan bisa berkumpul dan berdiskusi serta berbagi pengetahuan dengan puluhan tenaga pendidik dari berbagai sekolah yang ada di Bangka Selatan tentang menulis cerita pendek dalam bahasa daerah. 

Selain penulis, pemateri dalam bimtek pengajar utama revitalisasi bahasa daerah di antaranya  Datuk Rosyadi Ateng (pantun), Ketua Lembaga Adat Melayu ( LAM) Junjung Behaoh Kulul ( pidato bahasa daerah), dan Husna yang mengajarkan materi mendongeng.  Husna, guru  di Tiram, memang dikenal sebagai  pelahir pendongeng di mana binaannya selalu tampil di level kompetisi nasional. 

Adalah suatu kebanggaan ketika sebagai penulis kita  bisa melahirkan karya dalam bahasa daerah. Terasa sangat istimewa karya kreatif kita dalam bahasa daerah, di tengah globalisasi yang melanda kehidupan sehingga terkadang kita melupakan eksistensi bahasa kampung kite, bahasa lokal kite dan bahasa ibu kite. 

Sebagaimana kita ketahui bersama, saat ini puluhan bahasa daerah sebagai khazanah kekayaan budaya, pemikiran, dan pengetahuan yang dimiliki bangsa Indonesia terancam punah.  Untuk itu, pewarisan bahasa daerah yang dapat digunakan sehari-hari dan relevan bagi anak muda perlu dilakukan semua pihak, termasuk melibatkan komunitas dan keluarga yang masih menuturkan bahasa daerah.

Punahnya bahasa daerah terutama karena para penutur tidak menggunakan lagi, tidak mewariskan kepada generasi selanjutnya. Padahal di sudut-sudut wilayah di Indonesia, cerita dan dongeng orang tua kepada anak-anaknya kerap kali dituturkan dalam bahasa derah.

Namun, bahasa daerah makin hari makin menipis penuturnya. Ditambah kurangnya catatan tertulis dan rekaman digital, tidak ada jaminan bahasa daerah akan hidup di generasi-generasi mendatang.

Punahnya suatu bahasa daerah berarti punah pula warisan nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Padahal nilai-nilai luhur ini penting bagi kelangsungan eksistensi bangsa Indonesia.

Bila tidak segera dilakukan upaya serius, punahnya bahasa daerah ini kelak di kemudian hari akan menjadi ancaman serius bagi identitas nasional dan semangat kebangsaan. Bila dua hal ini melemah, maka nasionalisme dan rasa cinta tanah air pun akan turut melemah.

Melalui sastra dan tradisi lokal, tentunya upaya untuk menjadikan bahasa daerah hidup dan lestari serta dituturkan kembali menyiratkan bahwa bahasa ibu kembali hadir di tengah kehidupan adalah salah satu cara untuk menjadikan bahasa daerah tetap eksis, hidup, dan berkembang. Penulis kreatif menggunakan bahasa lokal secara strategis, lengkap dengan penjelasan kontekstual agar pembaca tetap memahami maknanya. 

Bahasa lokal pun rentan tergerus jika kita tidak mengadaptasinya secara kreatif dalam karya sastra. Menulis sastra dalam bahasa ibu, bahasa lokal adalah upaya dari penulis untuk ikut menjadi bagian dari upaya kecil melestarikan dan mempopulerkan bahasa daerah di ruang publik.  Dan itu terasa sangat istimewa. 

Pengalaman penulis menjadikan kosakata bahasa daerah Toboali sebagai judul tulisan sastra  dan dimuat di media luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sesuatu yang sangat istimewa.  

Dan kita perlu belajar pula dari dua siswa SMPN 2 Toboali , Aridha dan Rafel Aditya, yang meluncurkan buku Berek Bangka Selatan Bekisah yang ditulis dalam bahasa daerah Toboali. 

Dari kegiatan bimbingan teknis pengajar utama revitalisasi bahasa daerah yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Toboali selama dua hari berturut-turut ini, penulis melihat dan membaca karya sastra yang ditulis para peserta yang merupakan tenaga pendidik dalam bahasa daerah tentunya sangat luar biasa, sangat istimewa. 

Momentum ini tentunya perlu terus dinyalakan dan diberikan ruang bagi mereka untuk memublikasikan karya mereka di media massa dan membukukan kreativitas mereka sehingga dibaca publik. Betapa hebatnya ketika buku-buku dalam bahasa daerah menyala di rak-rak buku perpustakaan sekolah  dan perpustakaan desa. 

Tentunya kita memberikan apresiasi yang tinggi dan rasa hormat terhadap media massa lokal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang membuka ruang yang luas bagi penulis untuk memublikasikan karya kreatif mareka dalam bahasa daerah. 

Ini adalah PR kita semua.  Tanggung jawab kita semua. 

Kalau macem tuh tunggu ape agik. Segera ambik pena ikak.  Tulislah karya kreatif kita  dalam bahasa derah, bahasa ibu kite. Lidah leluhur kita.

Ayo kite mencintai bahasa daerah kite. Mari menulis karya sastra dengan bahasa daerah, bahasa ibu kite. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.