BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dewan Kesenian Banjar (DKB) menyampaikan keprihatinan atas hilangnya Monumen Kayuh Baimbai di kawasan taman kota simpang empat Jalan Pangeran Antasari, Banjarmasin, yang kini tengah ditata ulang oleh Pemerintah Kota Banjarmasin.
Melalui pernyataan sikap resminya, DKB menilai penataan ruang kota semestinya tidak menghilangkan jejak sejarah dan karya seni yang telah menjadi bagian dari identitas Kota Seribu Sungai.
Ketua Dewan Kesenian Banjar, Hajriansyah, mengatakan pihaknya mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Banjarmasin mempercantik wajah kota melalui pembangunan Taman Bamara. Namun, menurutnya, proses tersebut seharusnya tetap memperhatikan nilai sejarah dan budaya yang melekat pada ruang publik.
“Kami mengapresiasi niat baik pemerintah dalam menata kota agar lebih artistik dan rapi. Namun keindahan fisik semestinya tidak mengorbankan jejak sejarah maupun karya seni yang telah menjadi bagian dari identitas kota,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Menurut Hajriansyah, Monumen Kayuh Baimbai bukan sekadar ornamen taman, melainkan simbol semangat gotong royong masyarakat Banjar sekaligus karya Maestro Misbach Tamrin yang memiliki nilai artistik dan historis.
Ia menilai apabila kondisi monumen mulai mengalami kerusakan, langkah yang lebih tepat adalah melakukan konservasi atau pemugaran, bukan menghilangkannya dari ruang publik.
“Jika monumen itu telah termakan usia, semestinya mendapat perawatan dan konservasi yang bermartabat, bukan dihilangkan,” katanya.
DKB juga menyoroti minimnya pelibatan seniman maupun budayawan dalam proses penataan kawasan tersebut.
Menurut Hajriansyah, pembangunan ruang publik yang memuat unsur seni seharusnya disusun melalui dialog bersama komunitas seni agar nilai sejarah dan estetika kota tetap terjaga.
Baca juga: Rekonstruksi Duel Berdarah di Kelayan B Banjarmasin, Usai Terkena Sabetan Celurit Korban Sempat Lari
“Kami menyayangkan penataan ruang publik yang berjalan tanpa ruang dialog bersama seniman, budayawan maupun pakar estetika kota. Kehadiran mereka penting agar pembangunan tetap memiliki ruh serta memahami konteks historis dan kultural dari karya yang sudah ada,” ujarnya.
Selain meminta ruang dialog dibuka, DKB juga berharap pemerintah menghadirkan kembali bentuk penghormatan terhadap karya Maestro Misbach Tamrin di ruang publik, baik melalui pemulihan monumen maupun bentuk penghormatan lain yang disepakati bersama.
Tak hanya itu, DKB juga mendorong adanya komitmen pemerintah agar setiap penataan ruang publik di masa mendatang mampu memadukan modernisasi dengan pelestarian aset seni dan budaya.
“Pembangunan fisik boleh berkembang, tetapi akar kebudayaan kota harus tetap dijaga. Modernitas dan pelestarian warisan budaya semestinya berjalan berdampingan, bukan saling meniadakan,” katanya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kawasan bekas Monumen Kayuh Baimbai kini telah ditutup menggunakan pagar seng. Di balik penutup tersebut terlihat material konstruksi berupa tiang-tiang bambu, sementara pada bagian depan pagar terpasang spanduk bertuliskan “Lima Abad Kami Gawi Sabumi, Banjarmasin Maju Sejahtera” sebagai bagian dari pembangunan Taman Bamara. (Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)