Perdana, Palebon Sulinggih di Krematorium Tyaga Margananda Karangasem, Wasiat Terakhir Sang Pandita
Ida Ayu Suryantini Putri July 31, 2026 06:22 AM

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Rangkaian upacara Palebon Ida Pandita Mpu Acharya Nanda dari Griya Widya Giri Kusuma, Sidembunut, Desa Cempaga, Kabupaten Bangli, mencapai puncaknya pada Kamis (30/7).  

Prosesi palebon digelar di Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda, Ujung Mantri, Karangasem, sesuai dengan wasiat almarhum semasa hidup.

Pelaksanaan palebon tersebut menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya sejak diresmikan pada 27 September 2025, Krematorium Tyaga Margananda digunakan sebagai lokasi palebon seorang sulinggih.

Sebelum prosesi Bumi Suda dilaksanakan, jenazah diberangkatkan dari Bangli menuju Karangasem menggunakan ambulans.

Baca juga: Jika Jasad Putu Wini Tak Ditemukan, Kremasi Tetap Dilakukan Pada 25 Maret 2026

Setibanya di krematorium, rangkaian upacara diawali dengan prosesi di padma, dilanjutkan Purwasaya, kemudian jenazah ditempatkan di petulangan lembu sebelum memasuki proses kremasi.

Usai Bumi Suda, upacara diteruskan dengan pengiriman, nganyut di Segara Ujung Mantri, pengedetan hingga penyekahan.

Ida Pandita Mpu Jaya Sattwika Nanda atau Nabe Napak menjelaskan, pilihan melaksanakan kremasi merupakan amanat langsung dari almarhum semasa hidup.

Padahal, keluarga telah menyiapkan tegal suci sebagai lokasi palebon apabila prosesi dilakukan secara konvensional.

"Beliau memang menghendaki kremasi. Karena itu keluarga menghormati sepenuhnya keinginan beliau," ujarnya.

Menurut Nabe Napak, keberadaan krematorium tidak bertujuan mengubah adat maupun tradisi pelaksanaan yadnya umat Hindu.

Fasilitas tersebut justru menjadi alternatif bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan lahan, waktu, maupun kondisi tertentu, tanpa mengurangi kesakralan upacara.

 "Krematorium hadir sebagai pilihan yang memudahkan masyarakat. Pelaksanaan yadnya tetap berpedoman pada sastra agama, sehingga nilai kesakralannya tidak berkurang," katanya.

Putra almarhum, I Komang Pujawan, mengatakan keluarganya hanya menjalankan pesan terakhir sang ayah.

Selain karena merupakan wasiat almarhum, saat bersamaan di Desa Sidembunut juga sedang berlangsung upacara adat sehingga kremasi menjadi pilihan yang paling memungkinkan.

 "Ini memang permintaan Ida Sulinggih semasa hidup. Kami hanya menjalankan pesan beliau. Kebetulan di desa juga sedang ada upacara adat, sehingga kremasi menjadi pilihan yang lebih sederhana tanpa mengurangi makna yadnya," ungkapnya.

Di sisi lain, Pengelola Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda, I Wayan Pasek Yasa, mengaku bangga karena fasilitas yang dikelolanya dipercaya menjadi lokasi palebon Ida Pandita Mpu Acharya Nanda.

Menurutnya, pihak pengelola baru menerima informasi beberapa hari sebelum prosesi berlangsung, namun seluruh persiapan dapat diselesaikan sesuai tata upacara yang berlaku.

"Kami merasa bangga karena belum genap setahun beroperasi, krematorium ini sudah dipercaya menjadi tempat pelaksanaan Palebon Ida Pandita Mpu Acharya Nanda," kata Pasek Yasa. 

Ia menambahkan, keberadaan krematorium mulai mendapat sambutan positif dari masyarakat Karangasem. Warga dari Kecamatan Karangasem, Abang, Bebandem hingga Kubu telah memanfaatkan fasilitas tersebut untuk pelaksanaan yadnya. (mit)

Sosok Pendidik

Seluruh sarana upacara, termasuk banten yang disiapkan, tetap mengikuti ketentuan sebagaimana prosesi ngaben di rumah.

Rangkaian karya pelebon sendiri telah dimulai sejak 26 Juli 2026 dengan sejumlah tahapan, di antaranya matur piuning, nancep taring, nunas tirta Tri Kahyangan, hingga mesucian agung. 

Setelah puncak Bumi Suda, keluarga masih akan melaksanakan nganyut dan Atma Wedana di Segara Ujung Mantri, disusul mecaru, mekelud, serta melukat.

Seluruh rangkaian yadnya dijadwalkan berakhir pada Minggu (2/8) melalui prosesi nebusin, nyegara gunung di Gua Lawah, dan meajar-ajar ke sejumlah pura.

Semasa hidup, Ida Pandita Mpu Acharya Nanda dikenal sebagai sosok pendidik sebelum menjalani kehidupan sebagai sulinggih. Beliau pernah mengabdi sebagai kepala sekolah serta dosen di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa.

Prosesi palebon yang dilaksanakan di Krematorium Ujung Mantri menjadi penghormatan terakhir keluarga, sekaligus pelaksanaan wasiat yang telah almarhum sampaikan semasa hidup. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.