Jakarta (ANTARA) - Sejumlah berita humaniora pada Kamis yang mendapat banyak perhatian pembaca dan masih menarik untuk kembali disimak pagi ini, mulai dari pengasuhan tanpa kekerasan hingga fenomena El Nino di Indonesia.

Berita-berita tersebut dapat kembali disimak dalam ringkasan berikut.

1. Kemendukbangga ingatkan pentingnya pengasuhan tanpa kekerasan

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengingatkan pentingnya membangun fondasi pengasuhan tanpa kekerasan yang harus disiapkan sejak masa calon pengantin guna menciptakan keluarga yang harmonis.

Pelaksana Tugas Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN Yuni Hastutiningsih di Jakarta, Kamis, mengatakan untuk membentuk keluarga yang harmonis tanpa kekerasan, diawali dari persiapan pernikahan.

Selengkapnya di sini

2. BBKSDA Riau pantau keberadaan harimau Sumatra di Inderagiri Hilir

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau memantau keberadaan harimau sumatra melalui kamera jebak dan "drone", di mana ditemukan jejak kaki binatang buas tersebut di Desa Sungai Danai, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir.

Kepala BBKSDA Riau Supartono mengatakan, berdasarkan identifikasi Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) di lokasi ditemukan jejak baru harimau sumatra dengan ukuran telapak kaki sepanjang 14 centimeter dan lebar 13 cm.

Selengkapnya di sini

3. Kurangi anak tak sekolah, Kemendikdasmen perkuat Pendidikan Jarak Jauh

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) siap memperkuat penyelenggaraan layanan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) guna menekan angka anak tidak sekolah (ATS) yang masih mencapai sekitar 4 juta murid per Juni 2026.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengatakan sekitar 54 persen dari angka ATS tersebut merupakan anak yang benar-benar belum bersekolah, sementara sisanya merupakan anak putus sekolah maupun mereka yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Selengkapnya di sini

4. Charles Honoris: Ukuran keberhasilan MBG harus gunakan indikator yang valid

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyampaikan ukuran keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus menggunakan indikator yang valid.

Ia menjelaskan Indonesia telah memiliki instrumen yang secara khusus digunakan untuk mengukur status gizi masyarakat, yaitu Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang selama ini sudah digunakan sebagai acuan utama oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Selengkapnya di sini

5. BMKG: 5.019 titik panas, lonjakan terpesat dibanding El Nino 2015

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat akumulasi titik panas indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mencapai 5.019 titik hingga pertengahan Juli 2026.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa grafik akumulasi titik panas sejak awal tahun menunjukkan laju peningkatan yang signifikan dan lebih cepat dibandingkan periode El Nino sebelumnya, bahkan medio 2015 atau lebih dari satu dekade yang lalu.

Selengkapnya di sini