Gunung Anjing di Bandung Terbakar, Sumber Api Ternyata Berasal dari Puncak
Ravianto July 31, 2026 10:11 AM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kabupaten Bandung, Jawa Barat mencatat lonjakan tajam kasus kebakaran lahan sepanjang periode 1 Januari hingga 29 Juli 2026. 

Dari total 88 kejadian yang terdata, mayoritas kasus meluas secara masif dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Kepala Disdamkar Kabupaten Bandung, Iman Irianto Sudjana, mengungkapkan bahwa tren kenaikan kasus mulai terlihat sejak bulan Juni sebelum akhirnya meledak pada Juli 2026.

"Lonjakan mulai terlihat pada Juni dengan 13 kejadian. Kemudian bulan Juli sampai tanggal 29 itu sudah mencapai 72 kejadian. Sementara sebelum bulan Juni hanya ada tiga kali kejadian," ujar Iman saat dikonfirmasi, Kamis (30/7/2026).

Pembakaran Sampah Jadi Pemicu Utama

Berdasarkan pemetaan data Disdamkar Kabupaten Bandung, kelalaian manusia menjadi salah satu faktor pemicu utama maraknya kebakaran lahan.

Baca juga: Kebakaran Lahan Meroket di Kabupaten Bandung, Juli Sumbang 72 Kasus

Tercatat 29 kasus dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah yang tidak terkontrol, 5 kasus akibat unsur kesengajaan, dan 1 kasus disebabkan oleh buangan puntung rokok. Sementara 53 kasus lainnya masih dalam proses penyelidikan atau tidak diketahui penyebab pastinya.

Salah satu peristiwa terkini terjadi di area perbukitan Kampung Cikuya, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Rabu (29/7/2026).

Kebakaran yang menghanguskan semak belukar seluas 200 meter persegi di perbatasan Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini diduga kuat berawal dari pembakaran sampah yang merembet.

Kendala Pemadaman di Area Perbukitan

Selain di Margaasih, kebakaran lahan juga melanda kawasan Gunung Anjing, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung pada hari yang sama.

Video peristiwa tersebut sempat viral dan menyita perhatian warga di media sosial.

Kepala Bidang Pemadaman Disdamkar Kabupaten Bandung, Asep Bintang, menjelaskan bahwa petugas terpaksa tidak melakukan pemadaman darat secara langsung di Gunung Anjing lantaran titik api berada di puncak gunung yang sulit dijangkau kendaraan maupun pejalan kaki.

"Penanganannya kami koordinasikan dengan BPBD karena lokasi kebakaran sangat jauh."

" Area yang terbakar jauh dari permukiman warga, jadi kami melakukan monitoring ketat untuk mengantisipasi apabila api mendekati rumah penduduk," kata Asep.

Masyarakat imbau untuk lebih waspada dan menghentikan kebiasaan membakar sampah sembarangan di area terbuka, terutama di dekat vegetasi kering dan semak belukar guna mencegah potensi kebakaran yang lebih luas.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.