Oleh : Bruder Pio Hayon SVD
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Hari Jumat Biasa Pekan XVII– 31 Juli 2026 dari Bruder Pio Hayon SVD berjudul “Menolak Dia”.
Renungan Harian Katolik Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I : Yer. 26: 1-9
Injil: Mat. 13: 54-58
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hari ini Gereja memperingati Santo Ignasius dari Loyola, seorang pejuang rohani yang berani menyerahkan seluruh hidupnya untuk Kristus.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 30 Juli 2026, Menemani Langkahmu Setiap Hari dengan Sabda Tuhan
Bacaan Kitab Suci mengajak kita merenungkan realitas penolakan terhadap nabi Yeremia dan Yesus sendiri.
Penolakan ini bukan hanya kisah masa lalu, tetapi juga cermin bagi kita yang sering menutup hati terhadap suara Allah.
Saudara-saudari terkasih.
Pada bacaan pertama ini (Yer. 26:1-9), Nabi Yeremia diutus untuk menyampaikan firman Allah di pelataran Bait Allah.
Namun, pesan yang keras tentang pertobatan membuat umat menolak dan bahkan ingin membunuhnya.
Penolakan terhadap nabi adalah tanda hati yang keras dan enggan berubah. Sedangkan dalam bacaan Injil (Mat. 13:54-58) Yesus ditolak di Nazaret, kampung halamannya.
Orang-orang tidak mampu melihat karya Allah karena terjebak pada pandangan manusiawi: “Bukankah ini anak tukang kayu?” Akibatnya, Yesus tidak banyak membuat mukjizat di sana karena ketidakpercayaan mereka. Bacaan-bacaan ini mengajak kita untuk memeriksa diri: apakah kita lebih sering menolak atau menerima suara Allah?
Apakah kita membuka hati pada hal-hal sederhana di mana Allah bekerja? Atau kita masih terjebak pada kesombongan dan prasangka yang menutup jalan iman?Refleksi kita atas permenungan ini adalah “Hati yang keras menolak pertobatan”: Seperti umat Israel yang menolak Yeremia, kita pun sering menolak suara hati nurani atau teguran rohani.
Pertobatan menuntut kerendahan hati, dan tanpa itu kita mudah menolak kebenaran. “Kesombongan menutup mata iman”: Orang Nazaret tidak bisa menerima Yesus karena mereka merasa tahu siapa Dia. Kesombongan membuat kita menilai berdasarkan penampilan luar, bukan pada karya Allah yang tersembunyi.
“Iman membuka jalan karya Allah”: Mukjizat terjadi di tempat yang ada iman. Ketika kita percaya, Allah bekerja dengan kuasa-Nya.
Tetapi ketika kita menolak, kita sendiri yang membatasi karya-Nya dalam hidup kita.
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, penolakan terhadap Allah adalah cermin hati yang kerasdan sombong.
Kedua, iman yang sederhana membuka jalan bagi karya-Nya.
Ketiga, maka mari belajar dari Santo Ignasius yang rela menyerahkan segalanya demi Kristus. Tuhan memberkati kita.(*)