Viral Sabana Prambanan Klaten Ramai Dikunjungi, Ternyata Sawah Milik Warga, Bukan Tempat Wisata
Vincentius Jyestha Candraditya July 31, 2026 12:14 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Hamparan sabana hijau yang viral di wilayah perbatasan Kecamatan Prambanan dan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, ternyata bukan objek wisata.

Lokasi tersebut merupakan lahan pertanian milik warga yang kini mulai dikeluhkan para petani karena banyaknya pengunjung yang masuk ke area persawahan.

Sabana yang viral dikunjungi orang di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
VIRAL DAN DIKUNJUNGI - Sabana yang viral dikunjungi orang di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). Ternyata sabana itu bukanlah tempat wisata melainkan lahan persawahan di perbatasan Desa Sengon, Kecamatan Prambanan dengan Desa Katekan, Kecamatan Gantiwarno.

Lokasi yang ramai diperbincangkan di media sosial itu berada di perbatasan Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, dengan Desa Katekan, Kecamatan Gantiwarno.

Hamparan rumput hijau yang tampak luas sebenarnya merupakan lahan pertanian yang saat ini mulai dipersiapkan untuk musim tanam.

Jika Musim Hujan Terendam Air

Kepala Desa Sengon, Agus Sumaryono, membenarkan bahwa kawasan tersebut merupakan lahan milik warga.

"Itu kan misalnya setahun itu kalau musim hujan kan lelep (terendam) kena air. Lah ini sudah mau ditanami, malah viral gitu," ujarnya, Kamis (30/7/2026).

Menurut Agus, lokasi tersebut mulai ramai didatangi pengunjung sejak sekitar dua pekan terakhir setelah videonya beredar di media sosial.

Baca juga: Fakta Menarik! Airlangga Hartarto Rutin Pulang ke Jatinom Klaten saat Tradisi Yaa Qowiyyu Sejak SMA

"Nggih kalau untuk pengunjung, karena sudah ini kan viral sudah sekitar 2 minggu," jelasnya.

Ramainya wisatawan justru memunculkan persoalan baru bagi para petani. Sejumlah lahan yang telah dibajak, ditanami jagung, hingga diberi pupuk dilaporkan terinjak pengunjung.

"Intinya kan sebagian sudah dibajak, sudah ditanami jagung. Terus yang sudah ditanam jagung sudah dikasih rabuk (pupuk), sudah kasih tulisan (malah) diinjek-injek," ucapnya.

"Lah bingung di situ, ya juga namanya orang banyak nggih," tambahnya.

10 Petani Mengeluh

Agus mengungkapkan, hingga kini sekitar 10 petani telah melaporkan keluhan tersebut kepada pemerintah desa. Luas area pertanian yang viral itu diperkirakan mencapai lebih dari satu hektare.

Salah seorang petani, Ngatijo (66), mengatakan para petani baru mulai kembali bercocok tanam memasuki musim kemarau. Selama musim hujan, lahan tersebut biasanya tergenang air sehingga baru bisa dimanfaatkan saat kondisi mengering.

Baca juga: Asal-usul Nama Desa Bonyokan di Klaten, Terdengar Nyeleneh tapi Menyimpan Kisah Korban Perang

Menurutnya, meningkatnya jumlah pengunjung juga menimbulkan persoalan sampah yang harus dibersihkan sebelum lahan ditanami.

"Niku masalah sampah, katah sampah (itu masalah sampah, banyak sampah)," ujarnya.

Ngatijo menggarap lahan seluas sekitar 760 meter persegi yang kini mulai ditanami jagung. Ia mengaku musim tanam kali ini juga penuh pertaruhan setelah tahun sebelumnya terjadi kemarau basah.

Berdasarkan pantauan TribunSolo.com, sebagian lahan pertanian sudah mulai diolah. Meski demikian, sejumlah pengunjung masih terlihat mendatangi area yang belum digarap.

Sementara pada lahan yang telah ditanami, petani memasang tulisan peringatan dan pembatas menggunakan tali rafia agar tanaman tidak kembali terinjak.

(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.