Agustina Sebut Revitalisasi Stasiun Tawang Jadi Langkah Jaga Sejarah dan Gerakkan Ekonomi
Content Writer July 31, 2026 12:20 PM

TRIBUNNEWS.COM - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyambut baik peresmian Revitalisasi Tahap I Bangunan Cagar Budaya Stasiun Semarang Tawang oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, revitalisasi salah satu ikon Kota Semarang tersebut membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur modern dapat berjalan beriringan dengan pelestarian sejarah sebagai fondasi kemajuan bangsa.

"Stasiun Tawang bukan sekadar simpul transportasi. Ia adalah bagian dari identitas Kota Semarang. Selama lebih dari satu abad, bangunan ini menjadi saksi perjalanan perdagangan, mobilitas masyarakat, hingga perkembangan Semarang sebagai kota pelabuhan dan pusat ekonomi di Pulau Jawa. Karena itu, revitalisasi ini merupakan investasi peradaban yang manfaatnya akan dirasakan lintas generasi," ujar Agustina dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Jumat (31/7/2026).

Sebagai informasi, Stasiun Semarang Tawang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1911 dan mulai beroperasi pada 1914. Bangunan ini menjadi salah satu cagar budaya terpenting di Kota Semarang.

Adapun revitalisasi tahap pertama yang dikerjakan selama 330 hari mencakup penataan fasad, hall utama, sisi barat dan timur bangunan, ruang tunggu, ruang VIP, selasar, hingga perbaikan sistem drainase. Berbagai ornamen dan elemen arsitektur juga dikembalikan mengacu pada dokumentasi lama sehingga karakter asli bangunan tetap terjaga.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan, revitalisasi tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas pelayanan transportasi sekaligus menjaga kelestarian bangunan bersejarah.

Menurutnya, proses revitalisasi dilakukan dengan mengembalikan fasad, hall utama, sisi barat dan timur bangunan, serta berbagai ornamen berdasarkan dokumentasi dan foto-foto lama. Dengan demikian, bangunan yang telah berusia lebih dari 112 tahun itu tetap terjaga nilai sejarahnya.

Peningkatan fasilitas itu juga didukung tingginya mobilitas masyarakat yang dilayani Stasiun Semarang Tawang. Sepanjang 2025, stasiun ini melayani 3.862.127 aktivitas pelanggan. Sementara itu, pada Semester I 2026 tercatat sebanyak 2.152.894 aktivitas naik dan turun pelanggan dengan rata-rata 34 perjalanan kereta api setiap hari.

Data tersebut semakin mempertegas posisi Stasiun Tawang sebagai salah satu simpul mobilitas terpenting di Jawa Tengah yang berperan besar dalam memperkuat konektivitas wilayah, mendukung sektor pariwisata, serta menggerakkan perekonomian Kota Semarang.

Agustina menilai, komitmen PT KAI menunjukkan bahwa peningkatan pelayanan publik tidak harus menghilangkan nilai sejarah sebuah bangunan. Sebaliknya, pelestarian warisan budaya justru mampu memberikan nilai tambah bagi kota, baik sebagai daya tarik wisata, ruang edukasi sejarah, maupun pengungkit pertumbuhan ekonomi.

"Bagi Kota Semarang, pesan presiden memiliki makna yang sangat relevan. Kemajuan tidak boleh memutus hubungan dengan sejarah. Justru warisan budaya harus menjadi modal untuk membangun kota yang semakin maju, inklusif, dan berdaya saing. Revitalisasi Stasiun Tawang menjadi contoh nyata bahwa pelestarian cagar budaya mampu berjalan berdampingan dengan peningkatan kualitas pelayanan publik," kata Agustina.

Baca juga: Pemkot Semarang Ajukan Banding Putusan PTUN, Jamin Layanan PDAM Tetap Prima

Agustina menambahkan, keberadaan Stasiun Tawang yang berada di pintu masuk Kawasan Kota Lama Semarang memberikan nilai strategis yang tidak dimiliki banyak kota lain. Setiap wisatawan yang datang menggunakan kereta api akan langsung disambut kawasan heritage yang menjadi kebanggaan Kota Semarang.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Semarang akan terus memperkuat integrasi antara Stasiun Tawang dengan Kota Lama, Pecinan, Kampung Melayu, pusat UMKM, kawasan ekonomi kreatif, serta sistem transportasi perkotaan. Langkah tersebut diharapkan membuat manfaat revitalisasi semakin luas dirasakan masyarakat.

"Besarnya jumlah penumpang menunjukkan bahwa Stasiun Tawang bukan hanya aset sejarah, tetapi juga infrastruktur strategis yang menopang aktivitas ekonomi Kota Semarang. Semakin nyaman pelayanan transportasi, semakin besar peluang tumbuhnya sektor perdagangan, jasa, perhotelan, kuliner, UMKM, hingga ekonomi kreatif yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah," jelas Agustina.

Momentum revitalisasi ini juga dinilai sangat strategis mengingat Kota Semarang akan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026. Infrastruktur transportasi yang semakin representatif akan menjadi gerbang utama untuk menyambut ribuan tamu dari seluruh Indonesia. Di sisi lain, kondisi tersebut juga akan memperkuat citra Semarang sebagai kota yang modern tanpa kehilangan karakter sejarahnya.

Maka itu, Pemerintah Kota Semarang mengapresiasi komitmen pemerintah pusat dan PT KAI dalam menjaga warisan sejarah bangsa.

"Kami siap memperkuat kolaborasi agar revitalisasi Stasiun Tawang tidak berhenti pada bangunan fisik semata, tetapi mampu menghidupkan kawasan sekitarnya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat sektor pariwisata dan investasi, serta semakin mengukuhkan Semarang sebagai kota yang nyaman dikunjungi, dihuni, dan menjadi tujuan berusaha," terang Agustina.

Menutup rangkaian peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Presiden Prabowo kembali mengingatkan bahwa pembangunan harus selalu berpijak pada sejarah sebagai fondasi membangun masa depan bangsa.

"Kita buktikan Indonesia menghadapi masa depan dengan optimistis, dengan semangat, tanpa melupakan sejarah. Sejarah penting bagi kepribadian kita dan masa depan kita," ujar Prabowo.

Sejalan dengan semangat tersebut, Pemerintah Kota Semarang berkomitmen menjadikan revitalisasi Stasiun Tawang sebagai momentum untuk memperkuat konektivitas, mengembangkan kawasan heritage, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta menjaga warisan sejarah sebagai identitas kota.

Revitalisasi ini diharapkan tidak hanya menghadirkan stasiun yang lebih representatif, tetapi juga menjadi simbol bahwa kemajuan dapat berjalan selaras dengan pelestarian sejarah demi kesejahteraan masyarakat dan masa depan Kota Semarang.

Baca juga: Kepemimpinan Walkot Agustina Wilujeng Antar Semarang Raih Predikat Transformer City

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.