4 Bulan Diteror Bau dan Belatung, Warga Karangmulya Cirebon Desak DLH Segera Angkut Gunungan Sampah
Ravianto July 31, 2026 03:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Tumpukan sampah yang menggunung hingga menutup sebagian akses jalan di Desa Karangmulya, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dikeluhkan warga.

Kepala Desa Karangmulya, Masadi atau yang akrab disapa Kuwu Gondrong mengaku, pemerintah desa sebenarnya telah menyiapkan solusi sementara untuk mengatasi persoalan tersebut.

Pemerintah desa, kata dia, telah menyiapkan lahan di kawasan (blok) Sigundul yang rencananya akan dijadikan lokasi pembuangan sementara.

Namun, rencana itu belum bisa direalisasikan karena masih menunggu persetujuan peminjaman alat berat berupa ekskavator (beko) untuk meratakan lahan.

"Kita punya tanah di daerah Sigundul. Rencana mau saya bikin tempat pembuangan. Secara tidak langsung saya ingin membantu Kabupaten Cirebon dan Dinas Lingkungan Hidup."

"Saya tinggal pinjam beko untuk pemerataan tanah, cuma sampai sekarang persetujuannya belum ada," ujar Masadi saat ditemui di Balai Desa Karangmulya, Jumat (31/7/2026).

Baca juga: Warga Gang Bahagia Cirebon Merana, Akses Tertutup Gunung Sampah, Terganggu Bau Menyengat Tiap Hari

Menurutnya, persoalan sampah yang terjadi saat ini tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja.

Ia mengajak masyarakat, pemerintah desa, hingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon untuk bersama-sama mencari solusi.

"Kalau masalah sampah, tidak hanya masyarakat, tidak hanya pemerintah desa dan tidak hanya pemerintah kabupaten. Intinya ayo kita sama-sama menangani sampah," ucapnya.

SAMPAH MENUMPUK - Selama sekitar empat bulan terakhir, gunungan sampah setinggi hampir dua meter menutup sebagian akses jalan di Gang Bahagia, Desa Karangmulya, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kondisi tersebut tak hanya menghambat aktivitas warga menuju Pasar Rumput Plumbon, tetapi juga memunculkan bau menyengat, belatung dan lalat yang dikeluhkan warga sekitar.
SAMPAH MENUMPUK - Selama sekitar empat bulan terakhir, gunungan sampah setinggi hampir dua meter menutup sebagian akses jalan di Gang Bahagia, Desa Karangmulya, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kondisi tersebut tak hanya menghambat aktivitas warga menuju Pasar Rumput Plumbon, tetapi juga memunculkan bau menyengat, belatung dan lalat yang dikeluhkan warga sekitar. (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

Masadi menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya, penumpukan sampah mulai terjadi setelah kontrak pembuangan sampah ke TPA Gunung Putri berakhir sehingga proses pengangkutan sempat terhenti.

"Kalau sampah menumpuk terkait kontrak TPA Gunung Putri, silakan dikoordinasikan dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup. Semenjak kontrak itu selesai, sampah tidak pernah diambil," jelas dia.

Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Camat Plumbon untuk meminta bantuan peminjaman alat berat agar lahan di Sigundul dapat segera difungsikan sebagai lokasi pembuangan sementara.

"Saya sudah koordinasi dengan Pak Camat, meminta izin untuk pinjam beko. Kalau bekonya sudah ada, tanah di Sigundul akan kami ratakan, baru sampah dibuang ke sana untuk sementara sambil menunggu realisasi dari LH," katanya.

Meski banyak warga mengeluhkan kondisi tersebut, Masadi mengatakan, Pemerintah Desa Karangmulya siap membantu kapan pun proses pengangkutan kembali dilakukan.

"Kalau dari Pemerintah Desa Karangmulya siap terus. Kapan pun diangkut, siap. Dengan cara apa pun kami siap," ujarnya.

Ia berharap proses pengangkutan sampah kini bisa kembali berjalan normal setelah mendengar informasi bahwa kontrak pembuangan ke TPA Gunung Santri telah dilanjutkan.

"Mudah-mudahan sekarang sudah berjalan lagi. Harapan saya secepat mungkin sampah diangkut semua. Lebih cepat lebih baik," ucap Masadi.

Masadi menyebut, biaya pengangkutan sampah mencapai sekitar Rp 250 ribu per kontainer.

Sementara untuk membersihkan seluruh tumpukan sampah yang ada saat ini diperkirakan membutuhkan lebih dari lima kontainer.

"Kalau melihat kondisinya sekarang mungkin lebih dari lima atau enam kontainer, karena sudah menggunung sekali," jelas dia.

Senada dengan itu, Pengelola Pasar Rumput Plumbon, Susanto mengatakan, tumpukan sampah terjadi akibat penutupan sementara lokasi pembuangan akhir di Gunung Santri.

"Karena TPA Gunung Santri tutup, tidak ada tempat buangnya, jadi sementara ditaruh di sini. Sekarang sudah mulai berjalan lagi dan rutin seperti biasa," kata Susanto.

Ia menyebut, sampah yang menumpuk berasal dari aktivitas pedagang pasar dan permukiman warga di sekitar pasar.

"Sampahnya dari pemukiman warga sekitar dan pedagang pasar," ujarnya.

Menurut Sutanto, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kenyamanan pedagang maupun masyarakat.

"Dampaknya banyak. Bau, kemudian warga mengeluh. Biasanya setiap tiga hari sampah sudah diangkut. Sekarang tidak karena TPA sempat tutup," ucap dia.

Ia berharap, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kembali melakukan pengangkutan secara rutin agar kondisi pasar kembali bersih.

"Harapannya LH berjalan seperti biasa lagi supaya semua terkondisikan. Dulu setiap tiga hari diangkut, sekarang mudah-mudahan kembali normal," jelas Susanto.

Pantauan di lokasi, Jumat (31/7/2026), menunjukkan bak kontainer sampah berwarna hijau telah penuh.

Sampah rumah tangga berupa plastik, sisa makanan, dedaunan hingga potongan kayu meluber ke badan jalan dan menempel di dinding permukiman.

Akibatnya, kendaraan roda empat tidak lagi bisa melintas. 

Pengendara sepeda motor harus bergantian melewati ruas jalan yang tersisa, sementara pejalan kaki tampak menutup hidung karena bau menyengat yang berasal dari tumpukan sampah.

Lokasi tersebut hanya berjarak sekitar 50 meter dari Pasar Rumput Plumbon dan sekitar 100 meter dari kawasan permukiman warga.

Warga yang tinggal di sekitar lokasi mengaku paling terdampak. Lukman (59), pemilik rumah kontrakan di depan lokasi, mengatakan bau menyengat, lalat, dan belatung selalu muncul, terutama saat hujan.

"Yang paling mengganggu itu baunya. Kalau hujan ulatnya banyak sekali. Lalat juga kalau pintu dibuka langsung masuk ke rumah," ujar Lukman.

Keluhan serupa disampaikan petugas parkir pasar, Suta (60), yang menyebut kawasan pasar menjadi kumuh sehingga banyak pengunjung enggan parkir di lokasi tersebut.

"Kalau musim hujan banyak belatung dan lalat. Orang yang parkir di sini banyak yang pindah karena bau dan jalannya becek," katanya.

Sementara itu, warga lainnya, Rahadi (30), berharap persoalan sampah segera dituntaskan karena dikhawatirkan memicu munculnya penyakit.

"Baunya sangat tidak enak dan mengganggu. Bisa menimbulkan penyakit juga, apalagi di sini banyak anak-anak. Harapannya segera diangkut supaya bersih lagi seperti tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.