TRIBUNKALTIM.CO - Transfer minyak antar kapal (ship-to-ship transfer) di luar Selat Hormuz kembali menggeliat sebagai strategi utama produsen minyak Teluk Persia dalam mengamankan ekspor energi ke pasar internasional.
Skema ini dimanfaatkan untuk menjaga kelancaran distribusi minyak mentah di tengah situasi lalu lintas pelayaran Selat Hormuz yang belum pulih sepenuhnya akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Bloomberg melaporkan bahwa skema pemindahan muatan ini dilakukan dengan mengangkut minyak mentah dari kapal tanker yang beroperasi di dalam Teluk Persia menuju kapal super tanker berkapasitas lebih besar di perairan lepas pantai Oman.
Baca juga: Trump Murka usai Iran Tolak Kompromi Selat Hormuz, Target IRGC Digempur, Harga Minyak Melonjak
Melalui metode penyeberangan muatan ini, kapal penerima dapat langsung melanjutkan pelayaran menuju negara tujuan tanpa perlu menghabiskan waktu lama di zona perairan yang terindikasi berisiko tinggi.
Pantauan data citra satelit Copernicus Sentinel milik European Space Agency (ESA) mengonfirmasi sedikitnya ada tujuh pasang kapal tanker yang tengah melangsungkan proses ship-to-ship transfer di lepas pantai Sohar, Oman, pada Kamis (30/7/2026).
Peningkatan intensitas penggunaan metode pemindahan minyak dari kapal ke kapal ini mencerminkan adaptasi cepat para pelaku industri energi global dalam merespons potensi ancaman keamanan di salah satu terusan minyak tersibuk di dunia.
Bloomberg menyebutkan bahwa strategi alternatif ini kian intensif diterapkan sejak gejolak konflik menimbulkan keraguan atas keselamatan armada kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Konflik AS-Iran, Selat Hormuz Jadi Ancaman Pasokan Global
Daripada mengerahkan armada kapal tanker berukuran besar untuk masuk langsung ke dalam Teluk Persia, sejumlah perusahaan minyak memilih menerjunkan kapal tanker berukuran sedang atau lebih kecil untuk mengambil pasokan dari terminal-terminal ekspor.
Selanjutnya, muatan minyak mentah ditransfer ke kapal pengangkut yang lebih besar di luar area selat sebelum berlayar ke negara tujuan.
Dalam pelaksanaannya, sebagian armada kapal bahkan memilih untuk menonaktifkan sistem identifikasi otomatis (Automatic Identification System/AIS) selama proses pemindahan muatan berlangsung guna menghindari risiko pelacakan posisi.
Kendati volume pelayaran langsung yang melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya normal, skema ship-to-ship transfer di luar selat terbukti berhasil menjaga ritme ketersediaan stok ekspor dari produsen Teluk Persia.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik, Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Melambat Akibat Ketegangan AS–Iran
Mengutip laporan Bloomberg, media Iran International menyebutkan bahwa kebangkitan aktivitas transfer minyak antar kapal ini turut memberikan dampak positif dengan meredakan kepanikan pasar global atas potensi krisis pasokan energi.
Meski demikian, kawasan Selat Hormuz tetap memegang peran krusial serta menjadi titik paling sensitif dalam rantai pasok perdagangan energi dunia.
Dengan kontribusi mencapai sekitar seperlima dari total perdagangan minyak bumi global, setiap gangguan keamanan maupun eskalasi di terusan ini masih berpotensi besar memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengerek biaya logistik distribusi energi internasional. (*)