Tribunlampung.co.id, Metro – Kabupaten Lampung Timur terus mengoptimalkan sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama ketahanan pangan. Dengan luas lahan sawah mencapai 55.941 hektare, daerah ini menjadi salah satu wilayah strategis dalam mendukung kebutuhan pangan di tingkat kabupaten, Provinsi Lampung, hingga nasional.
Baca juga: Progres KNMP di Desa Durian Capai 84,42 Persen, Ditarget Rampung Akhir Agustus
Wakil Bupati Lampung Timur, Azwar Hadi, menegaskan luasnya areal pertanian tersebut menjadi modal besar bagi pemerintah daerah untuk menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan.
"Lampung Timur memiliki potensi pertanian yang sangat besar dengan luas lahan sawah mencapai 55.941 hektare. Potensi ini memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan daerah, Provinsi Lampung, bahkan nasional. Karena itu, sektor pertanian akan terus menjadi prioritas pembangunan daerah," ujar Azwar, Jumat (31/7/2026).
Menurut dia, pengembangan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan, tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur, teknologi, serta peningkatan kapasitas petani agar produktivitas dapat terus terjaga di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika produksi.
Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, kata Azwar, akan memperkuat jaringan irigasi, menyediakan alat dan mesin pertanian modern, meningkatkan penggunaan benih unggul, serta memperluas pendampingan petani melalui penyuluh lapangan.
"Melalui sinergi antara pemerintah daerah, aparat pendamping, dan masyarakat, potensi puluhan ribu hektare lahan sawah di Lampung Timur diharapkan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan demi meningkatkan kesejahteraan petani," ujarnya.
Salah satu wilayah yang terus mengembangkan potensi pertanian tersebut adalah Desa Pasir Sakti. Kepala Desa Pasir Sakti, Swarto, mengatakan desanya saat ini mengelola lahan sawah seluas 340 hektare yang tersebar dan dikelola oleh 16 kelompok tani.
Selain lahan yang sudah produktif, pengembangan kawasan pertanian di desa tersebut juga diperkuat melalui program perluasan area tanam baru.
"Masyarakat kami juga memperoleh dukungan Program CSR Cetak Sawah Rakyat seluas 355 hektare yang telah dikerjakan bersama TNI," kata Swarto.
Meski didukung dengan luas lahan yang memadai, Swarto mengakui produktivitas pertanian tetap menghadapi tantangan, terutama pada musim tanam kedua. Pada panen kali ini, hasil produksi berada di angka 6,15 ton per hektare, sedikit menurun dibandingkan musim tanam pertama yang mampu mencapai 7 hingga 8 ton per hektare.
Namun, penurunan produktivitas tersebut tertutupi oleh meningkatnya harga gabah di tingkat petani. Swarto menyebut harga jual gabah saat ini menjadi yang tertinggi sepanjang pengalamannya bertani.
"Sepanjang sejarah, harga gabah yang kami rasakan paling tinggi sekitar Rp6.500 per kilogram. Hari ini bisa mencapai Rp7.200 per kilogram. Ini tentu menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi para petani," ungkap Swarto usai panen raya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)