Konten AI Slop Banjiri LinkedIn, Pengguna Kini Bisa Melaporkannya
Tiara Shelavie July 31, 2026 06:19 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - LinkedIn mulai mengambil langkah untuk mengatasi "AI slop" atau konten berkualitas rendah yang dibuat secara artifisial dan memenuhi linimasa penggunanya.

Pada Kamis (30/7/2026), perusahaan mengumumkan fitur baru yang memungkinkan pengguna menekan tombol "seems like AI slop" ketika sebuah unggahan tampak ditulis menggunakan AI, mengutip techcrunch.com.

Langkah ini mencerminkan perubahan yang lebih luas di berbagai platform penerbitan daring untuk mengurangi konten buatan AI.

Hal ini terjadi ketika masyarakat semakin frustrasi dengan banyaknya unggahan yang dibuat komputer dan dianggap tidak autentik memenuhi internet.

Pekan lalu, misalnya, platform buletin Substack menambahkan fitur untuk membantu pengguna mengetahui apakah konten yang mereka baca di situs tersebut dibuat oleh AI, melalui kerja sama dengan Pangram.

Sementara itu, Pangram pekan ini mengumumkan pendanaan baru sebesar 9 juta dolar AS untuk mengatasi masalah membanjirnya konten AI di internet.

Masalah serupa juga berdampak pada perusahaan rintisan baru. 

Digg bahkan harus menutup layanan pesaing Reddit miliknya pada Maret setelah mengaku tidak mampu mengatasi jumlah bot yang membanjiri situs tersebut.

Baca juga: 10 Negara dengan Konsentrasi SDM Pekerja AI Tertinggi Versi LinkedIn, Israel Tempati Urutan Pertama

Perusahaan infrastruktur internet Cloudflare mengatakan masalah ini terus memburuk. Saat ini, lalu lintas bot di internet telah melampaui permintaan yang dihasilkan manusia, sebuah tonggak yang tercapai lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Dalam unggahan di LinkedIn, Chief Product Officer perusahaan, Hari Srinivasan, mengakui bahwa jejaring sosial milik Microsoft tersebut juga menghadapi masalah serupa.

"AI slop menjadi prioritas utama bagi kita semua. Kami benar-benar peduli terhadap masalah ini. Orang-orang datang ke LinkedIn untuk terhubung dengan orang sungguhan dan membagikan perspektif, ide, serta keahlian mereka yang sebenarnya," ujarnya.

Srinivasan menjelaskan bahwa tombol baru "Seems like AI slop" merupakan salah satu dari sejumlah langkah yang dilakukan LinkedIn untuk mengurangi jumlah konten berkualitas rendah yang dibuat AI di platformnya.

Perusahaan juga berinvestasi dalam sistem pertahanan otomatisasi. Saat ini, LinkedIn memblokir "ratusan ribu" upaya komentar otomatis setiap hari serta jutaan upaya otomatisasi lainnya hanya dalam beberapa bulan terakhir.

Srinivasan mengatakan LinkedIn juga memperkenalkan sistem klasifikasi baru untuk mengidentifikasi apakah sebuah unggahan merupakan AI slop atau konten berkualitas rendah lainnya.

Sistem tersebut akan mengurangi jumlah konten semacam itu yang muncul dalam rekomendasi unggahan dari luar jaringan pengguna.

Tombol tersebut juga terkait dengan sistem ini karena laporan dari pengguna akan menjadi sumber sinyal yang membantu LinkedIn menyempurnakan model AI-nya agar lebih mampu mengenali konten AI slop.

Selain itu, LinkedIn akan mulai memberikan tanda secara pribadi di dasbor pengguna ketika orang lain menilai konten mereka terlihat tidak autentik karena penggunaan AI secara berlebihan.

Perusahaan berharap fitur ini dapat membantu pengguna memperbaiki gaya penulisan mereka, terutama bagi mereka yang menggunakan teknologi AI sekadar untuk menyempurnakan karya sendiri, bukan untuk membuat konten yang sepenuhnya dianggap sebagai "slop".

Menariknya, perusahaan juga menarik fitur "enhance your post" yang sebelumnya menggunakan AI untuk membantu pengguna menulis unggahan.

Fitur tersebut akan digantikan dengan alat yang hanya memeriksa tata bahasa dan tulisan pengguna tanpa mengubah gaya atau karakter suara mereka.

Perbaikan lainnya mencakup perluasan akses terhadap fitur verifikasi profil dan halaman, serta penambahan opsi untuk memblokir komentar dari halaman perusahaan yang tidak lagi ingin dilihat pengguna, kata Srinivasan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.