BANGKAPOS.COM - Partai Gerindra menegaskan tidak panik menyikapi hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan penurunan tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bagi Gerindra, hasil riset opini publik tersebut diposisikan sebagai instrumen evaluasi internal, bukan penentu arah kebijakan nasional.
Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menilai fluktuasi angka kepuasan publik merupakan hal yang dinamis dalam sistem demokrasi, terlebih saat pemerintah sedang merumuskan dan mengeksekusi berbagai kebijakan strategis.
Baca juga: Harta Kekayaan Lurah Syerly Viral Karena Celetukan Viral Cie Curhat ke Warga
"Bagi Partai Gerindra, survei adalah instrumen evaluasi yang baik, tetapi bukan penentu arah kebijakan. Angka elektabilitas atau kepuasan publik itu sifatnya dinamis, naik turun di survei adalah hal yang lumrah dalam demokrasi," kata Sugiat saat dihubungi, Jumat (31/7/2026).
Sugiat yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI menjelaskan bahwa dinamika angka survei tidak lepas dari proses penataan anggaran serta transisi program-program besar.
Ia menegaskan, Gerindra membaca angka tersebut secara jernih sebagai pengingat untuk mempercepat kinerja birokrasi.
"Partai Gerindra sama sekali tidak panik dengan penurunan atau dinamika angka survei. Justru angka-angka ini kami baca secara jernih sebagai alarm pengingat dan aspirasi jujur dari masyarakat yang harus direspons dengan percepatan kinerja, bukan dengan kegelisahan politik," ujarnya.
Mengingat usia pemerintahan Presiden Prabowo belum genap dua tahun baru memasuki dua tahun pada 20 Oktober 2026 Sugiat mengimbau publik untuk tidak menghabiskan energi dalam polemik wacana politik jangka pendek.
"Ibarat membangun rumah yang kokoh, fondasinya harus kuat dulu. Pemerintah saat ini sedang menata fondasi tersebut. Kan butuh waktu. Begitu pelayanan publik bergerak dijalankan maksimal dan dampak positifnya makin masif, kepercayaan publik tentu akan berlipat ganda," tutur Sugiat.
Berdasarkan survei nasional SMRC bertajuk "Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden" yang dirilis Juli 2026, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto berada di angka 51,1 persen.
Angka tersebut mencatatkan penurunan sebesar 30,1 persen jika dibandingkan dengan capaian pada November 2025 yang sempat menyentuh angka 81,2 persen. Temuan ini turut memunculkan wacana publik terkait kemungkinan terjadinya perombakan kabinet (reshuffle).
Survei SMRC diselenggarakan pada 5–19 Juli 2026 melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak (random sampling) melalui wawancara telepon dan tatap muka. Toleransi kesalahan (margin of error) survei ini diperkirakan sebesar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Menanggapi hasil survei tersebut, Partai Gerindra optimistis persepsi publik akan membaik seiring dengan kian matangnya eksekusi program-program prioritas, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan ketahanan pangan, hingga penataan harga kebutuhan pokok.
"Proses pembenahan, konsolidasi anggaran, dan penataan program-program unggulan, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan ketahanan pangan, dan perbaikan tata kelola birokrasi, kini sudah memasuki tahap eksekusi matang. Dalam beberapa bulan ke depan, dampak langsungnya akan dirasakan secara nyata oleh masyarakat," jelas Sugiat.
Gerindra memastikan partai-partai koalisi akan terus mengawal jajaran kabinet agar fokus bekerja memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Partai Gerindra akan terus mengawal agar birokrasi tetap menjadi mesin pelayanan publik yang responsif, bukan mesin pencitraan. Kami menjadikan setiap hasil survei sebagai pengingat internal untuk terus meningkatkan kinerja," pungkasnya.
(Tribunnews/Bangkapos.com)