SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Isu viral terkait pempek tumpah di kawasan Pasar 16 Ilir Palembang berbuntut panjang.
Imbas dari kepungan komentar negatif di media sosial, sejumlah pedagang terpaksa menghentikan aktivitas jualannya untuk sementara waktu lantaran drastisnya penurunan jumlah pembeli.
Para pedagang yang biasanya sibuk meracik dagangan sejak pagi, kini terpaksa memilih 'wait and see' mengamati situasi pasar sebelum memutuskan untuk menggelar lapak kembali.
Mega, salah seorang penjual pempek tumpah, mengungkapkan bahwa omzetnya turun drastis dibanding hari biasa.
Dari puluhan hingga ratusan porsi yang biasa habis, kini modal yang ia keluarkan tidak sebanding dengan hasil penjualan.
"Kemarin sepi sekali. Biasanya bisa menjual seratus sampai dua ratus pempek sehari, ini cuma habis 50. Sementara pempek kita menumpuk. Modal beli bahan sangat besar, jadi tidak sebanding," kata Mega, Jumat (31/7/2026).
Berdasarkan pantauan di lokasi, area yang biasanya dipadati stan penjual pempek tumpah tampak lengang dan sepi pembeli.
Untuk menyambung hidup, beberapa pedagang menyiasati situasi dengan memindahkan barang dagangannya ke dalam keranjang dan berjualan secara keliling di area dalam pasar.
Terkait maraknya tuduhan bahwa produk mereka tidak higienis, para pedagang membantah tegas.
Mardi, salah seorang pedagang keliling, menegaskan bahwa kualitas dagangannya tetap terjaga.
"Komentar negatif seperti pempeknya berbau atau berlendir itu tidak benar. Kita jual yang masih hangat. Sangat disayangkan tuduhan itu membuat pembeli ragu," tegas Mardi.
Ia juga menyoroti soal kondisi tempat berjualan yang terkesan kumuh.
Menurutnya, hal tersebut menjadi ranah pemerintah daerah untuk menata kawasan dan memfasilitasi pedagang.
Ia berharap Pemerintah Kota Palembang, khususnya Dinas Pariwisata, turun tangan memberikan edukasi dan pembinaan agar tradisi kuliner pempek tumpah tetap bertahan.
Meski diterpa isu miring, menjelang sore hari masih ada pembeli yang setia menikmati pempek tumpah.
Trisna, salah seorang pengunjung pasar, mengaku tetap yakin mengonsumsi pempek tersebut selama konsumen cermat memilih pedagang yang bersih.
"Saya sering makan di sini dan tidak pernah sakit perut. Soal harga dan rasa kan sesuai bujet. Semoga komentar negatif ini bisa dijadikan evaluasi bagi para pedagang untuk lebih menjaga kebersihan ke depannya," pungkas Trisna.