Viral Sabana Hijau di Klaten Ternyata Bukan Tempat Wisata, Petani Dibuat Resah Lahannya Diinjak
Candra Isriadhi July 31, 2026 08:08 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Hamparan sabana hijau yang viral di media sosial di wilayah perbatasan Kecamatan Prambanan dan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, ternyata bukan destinasi wisata.

Lokasi yang belakangan ramai dikunjungi masyarakat itu sejatinya merupakan lahan pertanian milik warga yang sedang dipersiapkan untuk musim tanam.

Viralnya pemandangan hijau tersebut justru membawa persoalan baru bagi para petani.

VIRAL DAN DIKUNJUNGI - Sabana yang viral dikunjungi orang di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
VIRAL DAN DIKUNJUNGI - Sabana yang viral dikunjungi orang di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). (TribunSolo.com/Zharfan Muhana)

Banyak pengunjung yang masuk ke area persawahan hingga menginjak lahan yang sudah mulai diolah.

Lokasi yang ramai diperbincangkan itu berada di perbatasan Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, dengan Desa Katekan, Kecamatan Gantiwarno.

Hamparan rumput hijau yang terlihat luas dan menyerupai sabana membuat banyak orang datang untuk berfoto maupun menikmati pemandangan.

Baca juga: Sosok Aripat, Kini Sah Jadi Suami Nathalie Holscher, Dulu Kerja di Bidang Leasing dan Sales Properti

Namun, Kepala Desa Sengon, Agus Sumaryono, menegaskan bahwa kawasan tersebut bukan objek wisata, melainkan lahan pertanian milik warga yang setiap tahunnya digunakan untuk bercocok tanam.

"Itu kan misalnya setahun itu kalau musim hujan kan lelep (terendam) kena air. Lah ini sudah mau ditanami, malah viral gitu," ujarnya, Kamis (30/7/2026).

Menurut Agus, lokasi tersebut mulai ramai didatangi pengunjung sejak sekitar dua pekan terakhir setelah video pemandangannya menyebar luas di media sosial.

"Nggih kalau untuk pengunjung, karena sudah ini kan viral sudah sekitar 2 minggu," jelasnya.

WISATA KLATEN - Kondisi terkini persawahan di danau dadakan Gantiwarno Klaten.
WISATA KLATEN - Kondisi terkini persawahan di danau dadakan Gantiwarno Klaten. (Instagram/@hyoubie)

Di balik ramainya kunjungan wisatawan, para petani justru mulai merasakan dampak yang merugikan.

Beberapa lahan yang sudah dibajak, ditanami jagung, hingga diberi pupuk dilaporkan rusak karena banyak pengunjung berjalan di atas area pertanian tersebut.

"Intinya kan sebagian sudah dibajak, sudah ditanami jagung. Terus yang sudah ditanam jagung sudah dikasih rabuk (pupuk), sudah kasih tulisan (malah) diinjek-injek," ucapnya.

Baca juga: Reaksi Sule Setelah Nathalie Holscher Resmi Menikah dengan Aripat, Ngaku Jujur Cemburu Soal Adzam

"Lah bingung di situ, ya juga namanya orang banyak nggih," tambahnya.

Pemerintah desa pun berharap masyarakat dapat lebih bijak saat mengunjungi lokasi yang sedang viral tersebut.

Pasalnya, kawasan itu bukan tempat wisata, melainkan lahan pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian warga dan tengah dipersiapkan untuk memasuki musim tanam.

10 Petani Mengeluh

VIRAL DAN DIKUNJUNGI - Sabana yang viral dikunjungi orang di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). Ternyata sabana itu bukanlah tempat wisata melainkan lahan persawahan di perbatasan Desa Sengon, Kecamatan Prambanan dengan Desa Katekan, Kecamatan Gantiwarno.
VIRAL DAN DIKUNJUNGI - Sabana yang viral dikunjungi orang di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). Ternyata sabana itu bukanlah tempat wisata melainkan lahan persawahan di perbatasan Desa Sengon, Kecamatan Prambanan dengan Desa Katekan, Kecamatan Gantiwarno. (TribunSolo.com)

Agus mengungkapkan, hingga kini sekitar 10 petani telah melaporkan keluhan tersebut kepada pemerintah desa.

Luas area pertanian yang viral itu diperkirakan mencapai lebih dari satu hektare.

Salah seorang petani, Ngatijo (66), mengatakan para petani baru mulai kembali bercocok tanam memasuki musim kemarau.

Selama musim hujan, lahan tersebut biasanya tergenang air sehingga baru bisa dimanfaatkan saat kondisi mengering.

Menurutnya, meningkatnya jumlah pengunjung juga menimbulkan persoalan sampah yang harus dibersihkan sebelum lahan ditanami.

"Niku masalah sampah, katah sampah (itu masalah sampah, banyak sampah)," ujarnya.

Ngatijo menggarap lahan seluas sekitar 760 meter persegi yang kini mulai ditanami jagung.

Ia mengaku musim tanam kali ini juga penuh pertaruhan setelah tahun sebelumnya terjadi kemarau basah.

Berdasarkan pantauan TribunSolo.com, sebagian lahan pertanian sudah mulai diolah.

Meski demikian, sejumlah pengunjung masih terlihat mendatangi area yang belum digarap.

Sementara pada lahan yang telah ditanami, petani memasang tulisan peringatan dan pembatas menggunakan tali rafia agar tanaman tidak kembali terinjak.

(Tribunnewsmaker.com/TribunSolo.com/Zharfan Muhana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.