Balita hingga Ibu Menyusui Ikut Keracunan MBG, Total Korban Capai 103 Orang
Robertus Didik Budiawan Cahyono July 31, 2026 08:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jawa Timur - Balita hingga ibu menyusui ikut keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di wilayah Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Total korban keracunan menu MBG tersebut mencapai 103 orang.

Menurut keterangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, mereka semua mengalami gejala keracunan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung dr. Aris Setiawan, M.Kes. mengungkap, berdasarkan hasil surveilens menemukan 113 penerima manfaat, 103 di antaranya bergejala.

Diungkap Aris, dari ratusan korban yang bergejala itu, sebanyak 16 masih usia balita, lima ibu menyusui, tujuh siswa SD dan enam guru. Salah satu dari lima ibu menyusui tersebut membutuhkan perawatan di Puskesmas.

Dia mengakui bahwa Dinkes Tulungagung terlambat menerima kabar kejadian keracunan ini. Namun pihaknya masih mendapat sampel makanan yang diduga sebagai pemicu keracunan.   

"Kami juga terlambat mendapat kabar kejadian ini. Tapi kami masih mendapatkan sampel makanan," jelas Aris, Jumat (31/7/2026) dikutip dari TribunJatim.com.

Menu MKB yang menjadi sumber keracunan disebut dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo.

Dari pemeriksaan Dinkes, SPPG ini sudah beroperasi sejak 2025, namun belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Lanjut Aris, keracunan ini diduga disebabkan oleh menu yang dibuat pada Senin (27/7/2026). Sejumlah penerima manfaat mulai merasakan gejala pada Senin malam, hingga Selasa (28/7/2026) sore.

Sementara Dinkes baru mendapatkan kabar kejadian pada Rabu (29/7/2026) sore. Dinkes hanya menerima sampel dari menu makanan harian yang disimpan dalam lemari pendingin.

"Sesuai ketentuannya, menu setiap hari wajib ada yang disimpan di lemari pengawet. Tujuannya jika ada keracunan seperti ini ada sampel yang bisa diuji di laboratorium," sambung Aris.

Diduga Olahan Daging Sapi

Dari keterangan kader Posyandu di desa itu, diduga menu daging sapi oseng-oseng kecap yang menjadi sumber keracunan. Olahan daging sapi ini ketika agak siang bentuknya berubah jadi agak mengembang dan agak berlendir.

Kader Posyandu yang paham kondisi ini sebenarnya sudah melarang makanan ini dimakan, namun terlanjur banyak yang sudah beredar di antara penerima manfaat.

"Hari Rabu malam sampel olahan daging sapi langsung kami kirim ke laboratorium di Surabaya. Lainnya kami uji di laboratorium kita, seperti oseng tempe dan kacang panjang, nasi putih, dan selada air," ungkap Aris.

SPPG Sudah Berhenti Operasi

Sementara dari pihak SPPG diketahui, dapur yang mengolah MBG ini belum mengantongi SLHS.

"Karena belum punya SLHS, pasti juga belum punya SOP. Kami dapat kepastian dari pihak BGN (Badan Gizi Nasional), SPPG ini sudah berhenti beroperasi di Hari Kamis," papar Aris.

Pihak SPPG sempat berinisiatif memberikan obat diare kepada penerima manfaat yang mengalami gejala diare. Mereka mengedarkan minuman Hydrococo dan obat Diapet atau Entrostop.

Meski inisiatif ini baik, namun prosedur kejadian keracunan seharusnya secepatnya dilaporkan. "SOP dari BGN sudah jelas, kalau ada keracunan segera laporkan. Ini kami mendapat informasi sudah di hari ke-3," keluh Aris.

Pihak SPPG Pakisrejo belum memberikan penjelasan terkait kejadian ini. Upaya konfirmasi melalui saluran WhatsApp di media sosial SPPG ini juga belum direspons.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.