Kemeriahan Pawai Sapi di Acara Yaa Qowiyyu Klaten, Atraksi Unik yang Bikin Warga Tumpah Ruah
Candra Isriadhi July 31, 2026 09:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ada pemandangan tak biasa yang tersaji dalam rangkaian Tradisi Yaa Qowiyyu atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Sebaran Apem Jatinom 2026.

Jika umumnya sebuah pawai identik dengan kendaraan hias, kesenian tradisional, atau iring-iringan peserta berjalan kaki, suasana berbeda justru terlihat di Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Puluhan sapi berhias tampil menjadi bintang dalam pawai sapi tunggang yang melintas di jalan raya Jatinom.

WISATA KLATEN - Pawai gerobag sapi di Jatinom Klaten.
WISATA KLATEN - Pawai gerobag sapi di Jatinom Klaten. (TikTok/@hyoubie)

Sapi-sapi tersebut tidak sekadar diarak. Hewan ternak yang biasanya ditemui di kandang atau membantu aktivitas pertanian itu justru ditunggangi peserta dan berjalan beriringan menyusuri rute pawai.

Pemandangan unik tersebut sontak menyedot perhatian warga.

Sejak iring-iringan mulai melintas, tepi jalan raya dipenuhi masyarakat yang sengaja datang untuk menyaksikan salah satu rangkaian acara Yaa Qowiyyu tersebut.

Baca juga: Reaksi Sule Setelah Nathalie Holscher Resmi Menikah dengan Aripat, Ngaku Jujur Cemburu Soal Adzam

Banyak warga terlihat mengarahkan kamera telepon seluler mereka ke arah sapi-sapi yang telah dihias.

Setiap rombongan yang melintas seolah memiliki daya tarik tersendiri, terutama ketika peserta menunjukkan kebolehannya menunggangi sapi di tengah keramaian.

Sapi-sapi yang mengikuti pawai tampil dengan beragam ornamen. Bagian kepala, leher, hingga pelana dihias menggunakan berbagai aksesori dan warna sehingga membuat penampilan hewan tersebut semakin mencolok.

Keunikan inilah yang membuat pawai sapi tunggang berbeda dari parade budaya pada umumnya.

WISATA KLATEN - Pawai sapi tunggang di Jatinom Klaten.
WISATA KLATEN - Pawai sapi tunggang di Jatinom Klaten. (TikTok/@hyoubie)

Tak hanya sapi tunggang, iring-iringan juga diramaikan dengan keberadaan gerobak sapi tradisional.

Kehadiran gerobak sapi tersebut semakin memperkuat nuansa pedesaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jatinom sejak dahulu.

Sapi dan gerobak tradisional seolah menjadi dua gambaran yang berjalan bersamaan dalam satu pawai.

Di satu sisi, masyarakat disuguhkan atraksi yang menghibur.

Baca juga: Sosok Aripat, Kini Sah Jadi Suami Nathalie Holscher, Dulu Kerja di Bidang Leasing dan Sales Properti

Di sisi lain, mereka kembali diingatkan pada kehidupan agraris yang pernah dan masih menjadi bagian penting dari masyarakat pedesaan.

Yang menarik, peserta pawai juga datang dari berbagai kalangan.

Bukan hanya peternak atau masyarakat yang sehari-hari akrab dengan sapi, anak-anak, orang dewasa hingga tokoh masyarakat turut ambil bagian.

Para peserta menggunakan pelana khusus sehingga dapat duduk dengan lebih nyaman selama mengikuti iring-iringan yang melintasi jalan raya.

Kehadiran anggota TNI dan Polri yang ikut menunggangi sapi juga menjadi salah satu momen yang menarik perhatian.

Aparat yang biasanya terlihat menjalankan tugas pengamanan justru ikut berada di tengah rombongan dan menikmati suasana pawai bersama masyarakat.

Momen tersebut menciptakan suasana yang semakin akrab. Batas antara aparat dan masyarakat seolah melebur dalam sebuah perayaan budaya yang digelar secara bersama-sama.

Tak ketinggalan, Camat Jatinom bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) juga ikut ambil bagian dalam pawai.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab kelompok tertentu, tetapi dapat dilakukan bersama-sama oleh masyarakat dan pemerintah.

Sepanjang rute pawai, suasana semakin ramai.

Warga yang memenuhi sisi jalan tampak antusias menunggu setiap rombongan. Begitu sapi berhias muncul dari kejauhan, perhatian warga langsung tertuju pada iring-iringan tersebut.

Sebagian mengabadikan momen dengan kamera ponsel, sementara lainnya memilih menyaksikan secara langsung dari tepi jalan.

Sorak-sorai warga pun terdengar ketika rombongan sapi tunggang melintas.

WISATA KLATEN - Pawai sapi tunggang di Jatinom Klaten.
WISATA KLATEN - Pawai sapi tunggang di Jatinom Klaten. (TikTok/@hyoubie)

Bagi masyarakat, atraksi tersebut bukan sekadar hiburan dalam rangkaian Yaa Qowiyyu.

Pawai sapi tunggang juga menghadirkan gambaran tentang hubungan manusia dengan hewan ternak yang telah berlangsung lama dalam kehidupan masyarakat pedesaan.

Sapi yang selama ini dikenal sebagai hewan yang membantu aktivitas pertanian kini mendapat ruang dalam sebuah perayaan budaya.

Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa unsur kehidupan sehari-hari dapat dikemas menjadi atraksi budaya yang menarik tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Pawai sapi tunggang merupakan salah satu rangkaian perayaan Tradisi Yaa Qowiyyu atau Saparan Jatinom 2026.

Sementara itu, puncak rangkaian tradisi akan digelar pada Jumat (31/7/2026) di Lapangan Klampeyan, Jatinom.

Sebaran apem menjadi acara utama yang selalu dinanti masyarakat. Tradisi tersebut bahkan mampu menarik warga dari berbagai daerah untuk datang langsung ke Jatinom.

Namun, sebelum puncak sebaran apem berlangsung, pawai sapi tunggang telah lebih dulu memberikan warna tersendiri bagi kemeriahan Yaa Qowiyyu tahun ini.

Keberadaan sapi-sapi berhias yang berjalan di tengah jalan raya menjadi atraksi yang tidak setiap hari dapat disaksikan.

Di tengah perkembangan zaman dan semakin beragamnya bentuk hiburan, masyarakat Jatinom justru menunjukkan bahwa tradisi lokal tetap bisa tampil menarik dengan mengangkat sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka.

Pawai sapi tunggang pun bukan hanya menjadi tontonan unik, tetapi juga menjadi cara masyarakat memperkenalkan kembali kekayaan budaya lokal kepada generasi berikutnya.

Dengan perpaduan sapi berhias, gerobak tradisional, peserta dari berbagai kalangan, hingga antusiasme ribuan warga di sepanjang jalan, pawai sapi tunggang menjadi salah satu warna paling unik dalam rangkaian Yaa Qowiyyu 2026.

Atraksi tersebut sekaligus memperkuat posisi Yaa Qowiyyu sebagai salah satu agenda budaya yang lekat dengan identitas masyarakat Jatinom dan Kabupaten Klaten.

(Tribunnewsmaker.com/Candra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.