Bertahan Melawan Autoimun dan Lupus, Tata Tak Lagi Khawatir Biaya Berkat JKN 
Ayu Prasandi July 31, 2026 11:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com MEDAN- Senin 27 Juli 2026, ruang fisioterapi di Instalasi Rehabilitasi Medik RS Adam Malik Medan mulai dipenuhi pasien. 

Sebagian duduk menunggu nama mereka dipanggil, sebagian lainnya sudah menjalani latihan didampingi fisioterapis. 

Di tengah aktivitas itu, Tari Artika Tarigan (32) berjalan perlahan memasuki ruang terapi. 

Perempuan yang akrab disapa Tata itu sesekali menundukkan kepala, memusatkan perhatian pada setiap langkah yang diayunkannya. 

Bagi orang lain, berjalan beberapa meter mungkin terasa biasa. 

Namun bagi Tata, setiap langkah adalah perjuangan yang harus dilalui dengan kesabaran dan tekad. 

Memasuki tahun keempat hidup sebagai penyintas autoimun, Tata sudah terbiasa dengan rutinitas rumah sakit. 

Namun, setiap sesi fisioterapi tetap menjadi tantangan tersendiri. 

Setelah melakukan pemanasan, Tata mulai mengikuti latihan peregangan. 

Kedua lengannya diangkat perlahan, kemudian bahunya diputar mengikuti instruksi fisioterapis. 

Gerakan sederhana itu harus diulang beberapa kali untuk menjaga kelenturan sendi dan kekuatan ototnya. 

Sesekali wajahnya meringis saat rasa nyeri muncul di lengan dan kaki. 

Napasnya terdengar semakin berat setelah beberapa kali mengulang gerakan sehingga berhenti sejenak untuk mengatur pernapasan sebelum kembali melanjutkan latihan. 

Meski terlihat kelelahan, Tata memilih tetap menyelesaikan setiap rangkaian terapi. 

Baginya, latihan itu bukan sekadar rutinitas medis, melainkan usaha untuk mempertahankan kemampuan tubuhnya agar tetap bisa bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari. 

Rutinitas itu telah menjadi bagian dari hidupnya sejak Oktober 2022, ketika dokter mendiagnosisnya menderita autoimun anemia aplastik. 

Tiga tahun berselang, tepatnya pada November 2025, cobaan kembali datang. 

Tata kembali divonis mengidap lupus yang menyebabkan kondisinya semakin menurun hingga sempat mengalami pengeroposan tulang dan kesulitan berjalan. 

Di tengah perjuangan panjang tersebut, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi penopang penting baginya. 

Kondisi kesehatannya mengharuskan Tata menjalani kontrol rutin, fisioterapi, hingga transfusi darah. 

Ia mengaku sangat terbantu dengan layanan JKN yang kini semakin mudah diakses. 

Melalui aplikasi, Tata dapat mendaftar layanan kesehatan tanpa harus datang sejak pagi hanya untuk mengambil nomor antrean. 

Dari aplikasi yang sama, ia juga bisa mengetahui jadwal kontrol maupun fisioterapi sehingga dapat mengatur waktu kedatangannya dengan lebih baik. 

"Sekarang lebih praktis. Cukup daftar lewat aplikasi, lalu bisa melihat jadwal pelayanan dan fisioterapi. Jadi tinggal datang sesuai jadwal yang sudah ditentukan," ujar Tata kepada Tribun Medan. 

Bukan hanya soal kemudahan administrasi, JKN juga membuatnya tidak lagi dibayangi kekhawatiran akan biaya pengobatan. 

Sebab, hampir setiap minggu harus menjalani transfusi darah atau fisioterapi. 

Jika seluruh tindakan medis itu harus dibiayai secara mandiri, pengeluarannya tentu tidak sedikit. 

"Karena harus rutin berobat hampir setiap minggu, adanya JKN benar-benar sangat membantu. Tidak perlu khawatir memikirkan biaya pengobatan sehingga bisa lebih fokus menjalani terapi dan berusaha pulih," katanya. 

Tak pernah terlintas di benaknya bahwa di usia yang masih produktif harus menjalani hidup berdampingan dengan penyakit kronis. 

Sebelum sakit, Tata bekerja sebagai staf di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). 

Ia memiliki mimpi sederhana yaitu memiliki penghasilan sendiri, membantu perekonomian keluarga, dan menabung untuk masa depan anaknya. 

Semua rencana itu seolah berhenti ketika dokter menyampaikan diagnosis autoimun anemia aplastik. 

"Pertama kali dengar vonis, rasanya dunia ini gelap. Aku duduk depan rumah sakit sambil diam, tapi pikiran aku cuma, 'kok bisa?" kenangnya.

Ia akhirnya memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk fokus menjalani pengobatan. 

Mimpi menjadi perempuan mandiri yang memiliki penghasilan sendiri pun harus ditunda. 

Namun, di tengah rasa putus asa, ada satu pelukan yang mengubah cara pandangnya. 

Saat pulang dari rumah sakit, anaknya yang ketika itu baru berusia tiga tahun berlari menghampirinya. 

"Dia bilang 'Ammi' sambil lari peluk aku. Saat itu aku kayak kena sambar petir. Aku mikir, kalau aku nyerah, anak ini bakal kehilangan dunianya," katanya. 

Ia menjalani setiap transfusi darah, menelan obat setiap hari, mengikuti fisioterapi, dan perlahan belajar menerima kondisi tubuhnya. 

Kehadiran layanan BPJS Kesehatan
MANFAAT JKN- Tari Artika Tarigan, penyintas autoimun dan lupus, melakukan pendaftaran layanan kesehatan di konter BPJS Kesehatan yang berada di RS Adam Malik Medan. Kehadiran layanan BPJS Kesehatan di rumah sakit memudahkan peserta JKN dalam mengurus administrasi sebelum mendapatkan pelayanan medis.

Layanan Digital Percepat Akses Pasien JKN 

Manajer Pelayanan Medik RS Adam Malik, dr. Ade Rachmat Yudiyanto, M.Ked(Ped), Sp.A(K), mengatakan untuk meningkatkan kualitas layanan, RS Adam Malik Medan menerapkan transformasi pelayanan end-to-end sesuai standar Kementerian Kesehatan bagi rumah sakit vertikal. 

Di tahap pendaftaran, rumah sakit menerapkan sistem pembagian kuota pelayanan per jam yang diinisiasi Direktur Utama sehingga pasien tidak perlu datang sejak dini hari untuk mengantre. 

Selain itu, tersedia fasilitas registrasi mandiri yang memudahkan proses administrasi. 

Pada tahap pelayanan medis, rumah sakit memanfaatkan sistem Digital Monitoring. 

Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), misalnya, tersedia dashboard yang memantau kondisi pasien secara real time sehingga pasien yang melewati batas waktu pelayanan dapat segera ditangani. 

“Target kami untuk pelayanan rawat jalan tanpa pemeriksaan penunjang adalah selesai dalam waktu kurang dari 120 menit. Hingga saat ini, capaian tersebut konsisten berada di kisaran 93 hingga 97 persen setiap bulannya,” kata Ade. 

Digitalisasi juga diterapkan dalam sistem pendaftaran pasien. 

Layanan pendaftaran daring yang terintegrasi dengan Mobile JKN maupun aplikasi registrasi milik rumah sakit dinilai efektif mengurangi kepadatan antrean di poliklinik. 

Ade menegaskan seluruh layanan unggulan RS Adam Malik dapat diakses peserta JKN sesuai indikasi medis. 

“Sebagai rumah sakit pengampu nasional untuk berbagai penyakit prioritas, layanan seperti Pusat Jantung Terpadu, CT-Scan 128 Slices, Cathlab, Linac, SPECT-CT hingga Program Transplantasi Ginjal Mandiri seluruhnya dapat dimanfaatkan peserta JKN. 

Bahkan saat ini kami sedang melanjutkan pembangunan Gedung Pusat Onkologi Terpadu Tahap 3 untuk memperluas akses pelayanan kanker,” katanya. 

Ia memastikan tidak ada perbedaan kualitas pelayanan antara pasien JKN dan pasien umum. 

Seluruh pelayanan klinis mengacu pada standar yang sama dan dipantau melalui 54 indikator mutu di 12 layanan. 

Dalam kondisi gawat darurat, Ade menegaskan pasien dapat langsung datang ke IGD tanpa memerlukan surat rujukan. 

PEMERIKSAAN KESEHATAN: Sejumlah masyarakat sedang melakukan pengecekan data BPJS sebelum pemeriksaan kesehatan di salah satu Puskesmas di Medan beberapa waktu lalu.
PEMERIKSAAN KESEHATAN: Sejumlah masyarakat sedang melakukan pengecekan data BPJS sebelum pemeriksaan kesehatan di salah satu Puskesmas di Medan beberapa waktu lalu. (TRIBUN MEDAN)

Mobile JKN Permudah Peserta Akses Layanan Kesehatan 

BPJS Kesehatan terus memperkuat transformasi layanan digital untuk memudahkan peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengakses pelayanan kesehatan. 

Melalui aplikasi Mobile JKN, peserta kini dapat mendaftar pelayanan, mengambil antrean online, mengubah data kepesertaan, membayar iuran, hingga mengakses berbagai layanan administrasi tanpa harus datang ke kantor BPJS Kesehatan. 

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Medan, dr. Yasmine Ramadhana Harahap, mengatakan digitalisasi layanan menjadi salah satu upaya meningkatkan kemudahan dan efisiensi pelayanan bagi peserta JKN. 

Selain Mobile JKN, BPJS Kesehatan juga menyediakan layanan non tatap muka melalui Care Center 165 dan WhatsApp PANDAWA. 

"Kami terus mengembangkan kemudahan layanan agar peserta tidak perlu datang ke kantor cabang untuk mengurus administrasi. 

Berbagai layanan kini dapat diakses melalui Mobile JKN, Care Center 165, maupun WhatsApp PANDAWA, termasuk fitur antrean online sehingga waktu tunggu di fasilitas kesehatan menjadi lebih efisien," ujar Yasmine. 

Menurutnya, digitalisasi juga telah diterapkan di berbagai fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. 

Hingga Juni 2026, sebanyak 276 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan 63 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) di wilayah kerja BPJS Kesehatan Cabang Medan telah memanfaatkan fitur Antrean Online Mobile JKN.

(pra/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.