Asa Triningsih Jemput Kesembuhan Anak Kembali Muncul Berkat JKN
raka f pujangga July 31, 2026 11:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Triningsih (31) menggenggam tangan kecil putra keduanya, Muhammad Rizki Anugerah, yang sedang memegang potongan puzzle berbentuk mobil.

Perlahan, dia mengarahkan sang putra agar meletakkan potongan puzzle tersebut ke papan puzzle.

Di dekat mereka, Rudi Eko Pramono (42), suami Triningsih, ikut memberi semangat sambil menunjukkan bagian kosong papan puzzle.

Baca juga: Cakupan JKN di Semarang Capai 100 Persen, BPJS Perkuat Layanan dan Antrean Digital

Mereka tersenyum senang melihat Rizki antusias.

Menderita mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari ukuran normal usia anak), Rizki memperlihatkan perkembangan yang baik.

Setelah diarahkan Triningsih, Rizki meletakkan potongan puzzle itu ke tempatnya dengan tangan sedikit gemetar.

"Saya menyadari anak saya istimewa di usianya 1,5 tahun."

"Setelah diperiksakan, Rizki didiagnosis mengalami mikrosefali," kata Trinsingsih, warga Desa Kebumen RT 02 RW 04, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (29/7/2026).

Kelainan medis yang diderita Rizki membuat tumbuh kembangnya tertinggal.

Di usia yang saat ini sudah 4,5 tahun, tingkah laku Rizki nampak seperti bocah 2 tahun.

Dia belum bisa bicara.

Saat berjalan, langkahnya tertatih dengan kondisi tangan yang tidak mau lurus.

Saat ada yang menatapnya, senyumnya merekah.

"Satu tahun terakhir ini, banyak sekali perkembangan Rizki."

"Dulu, hanya bisa duduk dan ngesot. Sekarang bisa jalan, pegang benda, bahkan diajak bicara juga paham," ungkapnya.

Keluarga Rudi dan Triningsih jauh dari kata mampu.

Sehari-hari, Rudi hanyalah buruh serabutan.

Sementara Triningsih, membatu perekonomian dengan menjual jajanan risol.

Penghasilan mereka pun tak menentu.

Dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Kemeterian Sosial (Kemensos), keluarga tersebut masuk kategori Desil Satu alias sangat miskin atau miskin ekstrem.

Sempat mendapat bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH), kondisi rumah mereka juga belum sepenuhnya permanen.

Sebagian dinding rumah masih ada yang menggunakan anyaman bambu.

Sebagian lain, terbuat dari bata putih yang belum terplester.

Sementara, lantai rumah hanya berupa plesteran semen.

Di rumah tersebut juga hanya ada satu kamar.

Biasanya, Rudi dan anak pertamanya, Haris Bintang Pratama (14), tidur di ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang tamu.

"Biarpun keluarga kami tidak mampu. Tapi kesehatan menjadi hal penting, makannya kami juga semangat untuk mengobati Rizki," jelas Triningsih.

Usahakan Pengobatan Anak

Menyadari tumbuh kembang buah hatinya tak seperti anak lain, Triningsih segera membawa Rizki ke RSIA Bunda Arif Purwokerto.

Saat itu, Rizki berumur 1,5 tahun.

Berbekal BPJS Kesehatan mandiri, Triningsih mengupayakan kesembuhan bagi putra bungsunya.

Di RSIA Bunda Arif, dokter merekomendasikan Rizki ditangani dokter anak di rumah sakit lebih besar.

Mereka merujuk ke RS Wijaya Kusuma Purwokerto.

Dokter juga merekomendasikan agar kepesertaan BPJS keluarga Triningsih ditanggung pemerintah.

"Saat itu, dokter memberikan rekomendasi untuk ke Dinas Kesehatan agar bisa ditanggung BPJS Kesehatan yang dibiayai pemerintah."

"Alhamdulillah disetujui, karena saat hamil mengajukan ke desa, bilangnya sudah tidak ada program," katanya.

Datang ke RS Wijaya Kusuma, dokter mengatakan, Rizki membutuhkan terapi.

Sementara, di rumah sakit tersebut tidak memiliki program terapi anak.

Itu sebabnya, tiga bulan kemudian, Rizki dipindah rujukan ke dokter anak di RS Hermina.

Dua bulan menjalani terapi fisik di RS Hermina, Rizki menunjukkan perkembangan baik.

Rizki mulai bisa berjalan.

Satu tahun kemudian, genggaman tangannya mulai menguat.

"Jadi, selama satu tahun, anak saya menjalani fisioterapi."

"Alhamdulillah hasilnya bagus."

"Bahkan sekarang, Rizki bisa memahami perintah sederhana, seperti diminta untuk mengambilkan sapu ataupun tisu," kata imbuhnya.

Meski begitu, Triningsih tidak cepat puas.

Dia mengusulkan agar buah hatinya mendapat pemeriksaan neurologi.

Di bagian ini, putranya menjalani cek darah dan sempat dinyatakan mengalami anemia atau leukosit rendah.

Dokter neurologi kemudian merujuk Rizki ke RSUD Prof Dr Margono Purwokerto.

Di sinilah diketahui, Rizki juga mengalami masalah kesehatan lain, yaitu fimosis, kelainan pada kulup penis.

"Lalu dioperasi, katupnya ditutup sekaligus sunat."

"Habis itu jadi gak sering demam, berat badan juga jadi naik," katanya.

Saat menjalani pemeriksaan di RSUD Dr Margono, Rizki juga mendapatkan rujukan ke terapi okupasi dan terapi wicara.

Pemeriksaan juga berkembang ke bagian mata karena ada dugaan terjadi saraf layu.

Kondisi ini membuat Rizki dirujuk lagi ke dokter oftalmologi di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

Hasil tes Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Elektroensefalografi (EEG) menunjukkan, Rizki tak hanya mengalami mikrosefali.

"Tetapi Rizki juga mengalami papil atrofi (kerusakan saraf mata) dan kista arachnoid (kista otak)," jelasnya.

Beban Ditopang JKN

Hingga saat ini, Rizki masih rutin berobat ke RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

Sebulan dua kali, Rizki harus menjalani kontrol dengan dokter neurologi dan dokter mata.

Triningsih mengaku, perjalanan menemukan kesembuhan bagi Rizki tidaklah mudah.

Semangatnya sempat meredup lantaran masalah biaya.

Dengan penghasilan pas-pasan, mereka harus membayar iuran bulanan BPJS Kesehatan Kelas 3 untuk empat orang, biaya sekolah si sulung, biaya listrik dan air, kebutuhan makan, juga transportasi ke fasilitas kesehatan.

Namun, berkat Program Jaminan Kesehatan Nasional, tiga tahun pengobatan Rizki yang mereka upayakan bisa berjalan lancar.

Mereka pun tak bingung lagi membayar iurang BPJS Kesehatan Kelas 3 lantaran telah terdaftar sebagai penerima BPJS Kesehatan segmen PBI.

Triningsih dan Rudi mungkin tidak akan mampu jika mereka harus menanggung biaya pengobatan dengan uang pribadi.

Rudi mencontohkan, biaya terapi untuk Rizki Rp150 ribu per 30 menit.
Kemudian, biaya dokter Rp250 ribu.

Selain bantuan pemerintah lewat JKN, Triningsih dan Rudi mendapat bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Mereka tak perlu memusingkan sarana dan biaya transportasi kontrol ke Yogyakarta.

Melihat banyaknya tangan-tangan yang terulur membantu mereka, Triningsih dan Rudi hanya bisa bersyukur serta berterima kasih.

"Rizki ini amanah dan anugerah dari Allah."

"Saya yakin, keluarga kami kuat. Kesehatan anak dan masa depan anak, bagi saya itu sangat penting."

"Alhamdulillah, saya masih diberi kemudahan karena BPJS Kesehatan," ungkap Rudi.

Permudah Akses Kesehatan

Pemerintah Kabupaten Banyumas berkomitmen memberi kemudahan masyarakat mengakses kesehatan.

Berkat Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2026, masyarakat miskin bisa mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan segmen PBI hanya menggunakan KTP.

"Saat ini, cukup membawa KTP, proses pengaktifan akan dibantu melalui petugas Puskesmas. Proses input melalui puskesmas."

"Karena Banyumas sudah berstatus UHC non cut-off, maka setelah didaftarkan BPJS Kesehatan, kepesertaannya aktif dalam waktu 1×24 jam," kata Kepala Dinkes KB Banyumas, dr Dani Esti Novia.

Data Dinkes KB Banyumas per Juni 2026, kepesertaan aktif JKN di wilayah tersebut mencapai 1.540.944 jiwa atau 82,14 persen dari jumlah penduduk Banyumas, 1.876.060 jiwa.

Dari jumlah tersebut, sistem kepesertaan 224.151 jiwa ditanggung APBD Banyumas lewat PBI.

Pemkab Banyumas pun sudah menganggarkan dana Rp80,7 miliar di tahun 2026 untuk membayar angsuran warga kategori PBI ini.

"Setelah ada Perbup tersebut, masyarakat tidak khawatir lagi dengan biaya."

"Ini juga menjadi komitmen dari Pemkab Banyumas untuk terus mendukung program JKN," jelasnya.

Baca juga: Batuk Kecil Azalea yang Membuat Eva Cemas, Dua Tahun Berjuang Melawan Leukemia dengan JKN

Sementara, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Purwokerto Hamdani menjelaskan, tingkat keaktifan kepesertaan JKN di Banyumas terkategorikan baik.

Capaian ini menunjukkan, hampir seluruh masyarakat Banyumas telah terlindungi Program JKN.

"Persentasenya, delapan dari 10 warga status kepesertaanya aktif."

"Hal ini menunjukkan warga Banyumas semakin memahami pentingnya menjaga kepesertaan tetap aktif, sehingga bisa digunakan kapan saja, baik untuk pemeriksaan kesehatan, pengobatan penyakit, hingga tindakan medis yang memerlukan biaya besar," ujarnya. (fba)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.