7 Dekade Gobel Grup untuk Negeri: Warisan Berkelanjutan yang Tak Pernah Padam
adisaputro August 01, 2026 12:36 AM

TRIBUNWOW.COM – Di rumah sederhana di Depok, doa yang paling sering didengar Sajida Nur Zafir Abdurrahim sejak kecil bukanlah tentang harta, melainkan harapan agar seluruh anak bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

"Orang tua saya selalu berharap anak-anaknya bisa sekolah setinggi mungkin dan memiliki kehidupan yang lebih baik," tutur Sajida Nur Zafir Abdurrahim kepada TribunWow.com, Sabtu (4/7/2026).

Mimpi yang tumbuh di tengah keterbatasan itulah yang mendorong Sajida mengejar pendidikan setinggi mungkin tanpa membebani kedua orang tuanya.

Ayahnya tak lagi sekuat dulu setelah sempat jatuh sakit. Sejak saat itu, beban ekonomi keluarga lebih banyak dipikul sang ibu bersama kakak laki-lakinya.

Di tengah kondisi tersebut, Sajida semakin yakin bahwa pendidikan adalah jalan paling nyata mengubah kondisi ekonomi keluarganya.

Keyakinan itulah yang kelak membawanya bertemu dengan Panasonic Scholarship, sebuah program yang lahir dari filosofi Gobel Group bahwa membangun manusia selalu lebih dahulu daripada menghasilkan produk.

Dalam setiap langkahnya, Sajida selalu mengingat kutipan legendaris Neil Armstrong, "One small step for man, one giant leap for mankind."

Baginya, setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan membuka perubahan besar di masa depan.

Langkah Kecil Menuju Masa Depan

Sejak masih duduk di bangku SMA, Sajida telah berhasil meringankan beban kedua orang tuanya melalui beasiswa. Dari Depok ke Solo, saat itu tak pernah terbesit di dalam angannya akan mendapatkan sekolah yang seluruh biaya pendidikannya sudah ditanggung penuh.

Pengalaman itulah yang semakin membuat Sajida menyadari beasiswa bukan sekadar bantuan finansial, melainkan jalan yang lebih luas untuk meniti karier di masa depan.

Sajida menceritakan, saat dirinya duduk di kelas 12 SMA, langkah awal sebagai “hunter scholarship” dimulai kembali.

Perjalanannya menempuh pendidikan tinggi melalui jalur beasiswa tidak semudah membalikkan telapak tangan.  Ia sempat berkuliah di sebuah universitas swasta di Malang. Namun, setelah satu tahun, ia memutuskan pindah ke Universitas Diponegoro demi mengejar peluang yang lebih besar. 

“Dua tahun berkuliah di Universitas Diponegoro, beberapa beasiswa unggulan pernah dicoba tapi nihil,” ujar Sajida.

Selama ini, Sajida menganggap beasiswa hanya sebatas bantuan biaya pendidikan.

Namun, ia kemudian mengetahui bahwa Panasonic Scholarship hadir dengan semangat yang lebih besar, yakni memberi kesempatan kepada generasi muda untuk berkembang melalui filosofi “Make People Before Products” yang telah menjadi warisan Gobel Group selama puluhan tahun.

Kesempatan itu akhirnya datang tepat di semester lima. Saat itu Universitas Diponegoro membuka pendaftaran Panasonic Scholarship. Berbeda dengan beasiswa pada umumnya, Panasonic Scholarship justru diperuntukkan untuk mahasiswa minimal semester lima.

Di balik beasiswa yang diterimanya, terdapat warisan panjang Gobel Group dalam membangun manusia. Sejak hadir di Indonesia pada 1999, Panasonic Scholarship telah menjangkau 207 mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk 21 awardee pada 2025.

Saat Kesempatan Itu Datang

POTRET SAJIDA - Momen Sajida setelah mendapatkan beasiswa Panasonic Scholarship tahun 2025. (Tribunwow/Adi Manggala)

Sajida menceritakan proses seleksi beasiswa Panasonic Scholarship tidak sederhana. 

"Tahap pertama dilakukan di tingkat fakultas. Peserta harus melalui seleksi administrasi ketat dengan mempertimbangkan kemampuan bahasa Inggris, prestasi akademik maupun nonakademik, serta pengalaman organisasi," bebernya.

Persyaratan seleksi juga mencakup sertifikat IELTS, rekam jejak prestasi akademik maupun nonakademik, termasuk pengalaman sebagai finalis Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), kompetisi monolog, serta aktivitas organisasi. 

Sajida mengungkapkan, dari seluruh pendaftar di fakultasnya, hanya ada lima nama yang akhirnya dikirim UNDIP ke Panasonic Gobel untuk ikut seleksi nasional.

Tak lama kemudian, kabar yang ditunggu datang. Namanya dinyatakan lolos sebagai awardee Panasonic Scholarship 2025.

"Saya termasuk angkatan pertama setelah program ini kembali dibuka pascapandemi,” ucapnya dengan bangga.

Bagi Sajida, Panasonic Scholarship menawarkan sesuatu yang lebih besar bukan sekadar bantuan biaya perkuliahan.

Program tersebut membuka kesempatan yang jauh lebih luas baginya untuk mengenal dunia industri melalui Panasonic.

Saat itu, ia memilih jalur magang reguler dengan mengajukan permohonan langsung kepada perusahaan. Statusnya sebagai awardee Panasonic Scholarship memudahkannya mengajukan program magang, meski seluruh tahapan seleksi tetap harus dilalui.

"Selama magang, perusahaan bisa melihat langsung bagaimana cara saya bekerja,” beber wanita berusia 23 tahun tersebut.

Dari pengalaman itulah Sajida memahami bahwa Panasonic tidak hanya mencari individu berprestasi secara akademik. 

Perusahaan juga turut mempercayai penerima beasiswa untuk belajar langsung di dunia kerja sekaligus menunjukkan karakter yang sejalan dengan filosofi Panasonic bahwa manusia adalah investasi paling berharga.

Pengalaman magang tersebut kemudian ia manfaatkan untuk mengikuti proses rekrutmen karyawan Panasonic.

Namun kali ini, tidak ada jalur instan atau perlakuan khusus.

“Semua kandidat tetap harus melewati proses seleksi sebagaimana pelamar lainnya,” ungkapnya.

Semakin Dekat Wujudkan Mimpi

Sebagai lulusan psikologi, ia aktif dalam berbagai kegiatan pelatihan, pengabdian kepada masyarakat, dan edukasi kesehatan mental. Bahkan belum lama ini ia berkesempatan memberikan pelatihan kepada para guru di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan.

Ilmu yang diperolehnya tidak berhenti di ruang kelas. Sajida mulai terlibat dalam pelatihan guru, edukasi kesehatan mental, hingga berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, kesempatan yang diberikan melalui Panasonic Scholarship harus kembali menjadi manfaat bagi orang lain.

Terlebih, Panasonic Scholarship semakin memudahkan langkahnya untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

"Saya belajar supaya semua kegiatan saling mendukung, bukan saling mengganggu," ucap Sajida.

Suatu hari nanti ia ingin melanjutkan pendidikan profesi psikologi agar dapat menjadi psikolog sekaligus fasilitator pelatihan yang memiliki kompetensi profesional.

"Untuk saat ini saya ingin memperoleh pengalaman kerja dulu di Panasonic. Setelah itu baru melanjutkan pendidikan profesi,” imbuhnya.

Perjalanan Sajida mungkin baru dimulai. Namun, kisahnya menjadi satu dari banyak bukti bahwa warisan Gobel Group tidak berhenti pada produk elektronik yang digunakan jutaan keluarga Indonesia.

Warisan itu terus ada dan hidup melalui orang-orang yang berkesempatan untuk belajar bertumbuh dan kelak bisa kembali mengabdikan ilmu kepada masyarakat

Bagi Gobel Group, membangun masa depan memang selalu dimulai dengan membangun manusianya. Dan bagi Sajida, satu kesempatan yang diberikan hari ini bisa menjadi awal lahirnya dampak yang jauh lebih besar di masa depan.

Jejak Warisan yang Menjangkau Lebih Banyak Anak Bangsa

POTRET BIMO - Momen Bimo setelah mendapatkan beasiswa Panasonic Scholarship tahun 2025.
POTRET BIMO - Momen Bimo setelah mendapatkan beasiswa Panasonic Scholarship tahun 2025. (Tribunwow/Adi Manggala)

Jika Sajida menemukan jalan untuk mewujudkan mimpinya melalui Panasonic Scholarship, Muhammad Bimo Oryosejo menemukan makna yang berbeda. Bagi mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta itu, beasiswa tersebut mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan dan arah karier.

Bimo mengaku, beasiswa yang diterimanya bukan sekadar bantuan kuliah.

"Saya merasa Panasonic Scholarship bukan hanya membantu secara finansial, tetapi juga mengubah cara saya memandang perjalanan karier. Saya jadi berani memilih jalan yang sesuai dengan nilai yang saya yakini, bukan semata-mata mengejar penghasilan," ujar Bimo kepada TribunWow.com pada Jumat (10/7/2026).

Aktif di organisasi kemahasiswaan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat membuat Bimo percaya bahwa ruang belajar tidak hanya berada di dalam kelas. Keyakinan itu mengantarkannya menjadi penerima Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) 2024 dan menempuh satu semester perkuliahan di University of Information Technology and Management in Rzeszów, Polandia.

Sekembalinya ke Indonesia, ia kembali memperoleh kesempatan sebagai penerima Panasonic Scholarship. Kesempatan itu membawanya mengikuti Panasonic Global Scholarship International Essay Competition hingga mewakili Indonesia pada kompetisi tingkat internasional di Jepang.

Meski belum meraih gelar juara dunia, pengalaman tersebut menjadi salah satu pencapaian paling berharga dalam hidupnya.

"Saya belajar bahwa nilai yang diajarkan Panasonic tidak berhenti pada teori. Kami didorong untuk terus belajar, berani mencoba, dan memberi manfaat bagi orang lain. Itu yang paling saya rasakan selama menjadi awardee," katanya.

Bimo mengungkapkan, bantuan pendidikan sekitar Rp22 juta per tahun membuatnya lebih leluasa menentukan arah karier tanpa dibebani persoalan biaya kuliah. Alih-alih mengejar tempat magang dengan bayaran tertinggi, ia memilih bergabung bersama organisasi nirlaba Focus on the Family Indonesia dan berkarya di Symbiosis Indonesia sebagai kreator podcast serta desainer grafis.

Baginya, pekerjaan bukan semata-mata tentang memperoleh penghasilan, melainkan juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

"Beasiswa ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang apa yang kita capai untuk diri sendiri, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain," tuturnya.

Jalan yang ditempuh Bimo memang berbeda dengan Sajida. Seorang memilih mengabdikan ilmunya melalui pelatihan dan edukasi kesehatan mental, sementara yang lain membangun kontribusi lewat karya kreatif dan organisasi sosial. Namun keduanya dipertemukan oleh nilai yang sama: kesempatan yang diterima melalui Panasonic Scholarship bukan berhenti sebagai bantuan biaya pendidikan.

Bimo mungkin tidak menciptakan produk elektronik. Namun melalui karya kreatif dan aktivitas sosial yang ia jalani, ia sedang meneruskan nilai yang sama: menggunakan ilmu yang dimiliki untuk memberi manfaat bagi orang lain. Dari satu awardee ke awardee berikutnya, estafet itu terus berjalan. 

Kisah Sajida dan Bimo hanya dua cerita dari ratusan kisah yang lahir dari Panasonic Scholarship. Sejak hadir di Indonesia pada tahun 1999, program ini telah menjangkau 207 mahasiswa dari berbagai jenjang, mulai dari diploma hingga doktoral. Dari waktu ke waktu, cakupannya terus berkembang mengikuti kebutuhan pendidikan Indonesia, tetapi semangat yang dibawanya tetap sama.

Nilai itu berakar pada filosofi “Make People Before Products” yang diwariskan Gobel Group selama tujuh dekade. Bagi Gobel Group, membangun masa depan tidak hanya dilakukan melalui inovasi dan teknologi, tetapi juga dengan menyiapkan manusia yang kelak mampu berkarya bagi bangsanya.

Karena itulah, ketika Sajida mengabdikan ilmunya melalui pelatihan dan edukasi kesehatan mental, atau Bimo memilih berkarya di organisasi sosial, filosofi tersebut tidak lagi berhenti sebagai slogan perusahaan. Nilai itu hidup melalui orang-orang yang meneruskannya kepada masyarakat.

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.