TRIBUNNEWS.COM - Hari ASI Sedunia atau World Breastfeeding Day diperingati setiap 1 Agustus.
Peringatan Hari ASI Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) bagi tumbuh kembang bayi dan kesehatan ibu.
Peringatan ini juga menandai dimulainya Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week) yang berlangsung setiap 1–7 Agustus di berbagai negara.
Melalui kampanye ini, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai organisasi mengajak masyarakat mendukung praktik menyusui yang optimal sekaligus meningkatkan pemahaman tentang manfaat ASI eksklusif.
Hari ASI Sedunia diperingati setiap 1 Agustus sebagai penanda dimulainya Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week/WBW) yang berlangsung hingga 7 Agustus setiap tahun.
Kampanye global ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI), mendorong praktik menyusui yang optimal, serta memperkuat dukungan bagi ibu menyusui dari keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, hingga pemerintah.
Lahirnya Hari ASI Sedunia tidak terlepas dari Deklarasi Innocenti (Innocenti Declaration) yang disepakati pada 1 Agustus 1990 di Florence, Italia.
Deklarasi tersebut dihasilkan dalam pertemuan para pembuat kebijakan yang diselenggarakan oleh WHO dan UNICEF untuk melindungi, mempromosikan, dan mendukung pemberian ASI.
Melalui deklarasi ini, berbagai negara didorong untuk menyusun kebijakan yang mendukung ibu menyusui, meningkatkan pelayanan kesehatan, serta menciptakan lingkungan yang ramah terhadap praktik menyusui.
Baca juga: Poster Hari Kanker Paru Sedunia yang Diperingati 1 Agustus 2026
Sebagai tindak lanjut dari Deklarasi Innocenti, World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) dibentuk pada 1991 untuk menggalang kerja sama global dalam mendukung pemberian ASI.
Setahun kemudian, tepatnya pada 1992, WABA mulai menyelenggarakan World Breastfeeding Week setiap 1–7 Agustus guna memperingati Deklarasi Innocenti sekaligus mengajak masyarakat di seluruh dunia mendukung pemberian ASI.
Sejak saat itu, kampanye ini terus berkembang dan kini diperingati di lebih dari 170 negara dengan tema yang berbeda setiap tahunnya.
Seiring berjalannya waktu, Pekan ASI Sedunia mendapat dukungan luas dari WHO, UNICEF, berbagai kementerian kesehatan, organisasi profesi, serta lembaga masyarakat sipil di berbagai negara.
Pada 2018, World Health Assembly (WHA) secara resmi mengakui World Breastfeeding Week sebagai salah satu strategi penting dalam promosi kesehatan global.
Setiap tahun, kampanye ini mengangkat tema yang menyoroti berbagai isu, seperti dukungan menyusui di tempat kerja, perlindungan ibu menyusui, kebijakan publik, hingga keberlanjutan lingkungan.
Peringatan Hari ASI Sedunia menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa ASI merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi.
WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping yang bergizi sambil tetap menyusui hingga usia dua tahun atau lebih.
Melalui kampanye ini, diharapkan semakin banyak ibu memperoleh dukungan yang dibutuhkan sehingga setiap bayi memiliki kesempatan mendapatkan manfaat optimal dari ASI demi tumbuh kembang dan kesehatan jangka panjang.
Hari ASI Sedunia bertujuan mengajak seluruh elemen masyarakat menciptakan lingkungan yang mendukung praktik menyusui agar setiap bayi memperoleh haknya mendapatkan nutrisi terbaik sejak lahir.
Salah satu makna utamanya adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, sebagaimana direkomendasikan WHO dan UNICEF.
Setelah itu, pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi hingga usia dua tahun atau lebih.
ASI mengandung nutrisi, antibodi, enzim, dan hormon yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi.
Hari ASI Sedunia juga menjadi bentuk dukungan bagi ibu menyusui.
Keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, tetapi juga dukungan keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, dan pemerintah melalui kebijakan serta fasilitas yang ramah ibu menyusui, seperti ruang laktasi, cuti melahirkan, dan layanan konseling laktasi.
Selain itu, peringatan ini menjadi sarana edukasi untuk meluruskan berbagai mitos tentang menyusui dan memberikan informasi berbasis bukti ilmiah mengenai manfaat ASI serta cara mengatasi tantangan selama masa menyusui.
Makna penting lainnya adalah mendorong peningkatan kesehatan ibu dan anak.
Pemberian ASI terbukti membantu menurunkan risiko berbagai penyakit pada bayi, sekaligus mengurangi risiko kanker payudara, kanker ovarium, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung pada ibu.
Pada akhirnya, Hari ASI Sedunia menegaskan bahwa menyusui merupakan tanggung jawab bersama.
Melalui kampanye yang diadakan setiap tahun, masyarakat diajak untuk melindungi, mempromosikan, dan mendukung praktik menyusui agar setiap anak dapat tumbuh sehat dan setiap ibu memperoleh dukungan yang dibutuhkan selama masa menyusui.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)