dokter dan rumah sakit pengobatan Tibet tidak menolak penggunaan instrumen diagnosis dan perawatan modern

Beijing (ANTARA) - Seseorang yang biasa tinggal di dataran rendah dapat mengalami altitude sickness atau penyakit ketinggian saat berpindah ke dataran tinggi (plato) terlalu cepat karena tubuh tak punya waktu penyesuaian diri yang cukup.

Semakin tinggi suatu tempat semakin tipis udaranya dan semakin sedikit oksigen yang bisa dihirup. Pada ketinggian di atas 2.400 meter, risiko terkena penyakit ini meningkat. Gejala yang muncul umumnya mirip seperti mabuk atau sedang flu berat.

Gejalanya meliputi sakit kepala, mual, muntah, pusing, kelelahan, susah tidur hingga kehilangan nafsu makan. Hal ini biasa muncul dalam 6-12 jam setelah mencapai ketinggian baru dan akan membaik dalam 1-3 hari jika tidak naik lebih tinggi lagi.

Namun, gejala dapat memburuk hingga mengalami sakit kepala parah yang tidak hilang dengan obat biasa, kebingungan, hingga hilangnya koordinasi gerakan seperti sempoyongan.

Dalam kondisi yang lebih parah dapat terjadi penumpukan cairan di paru-paru yang ditandai dengan batuk-batuk yang mengeluarkan dahak busa atau berwarna merah muda, dada terasa tertekan, dan kulit atau bibir membiru (sianosis).

Bila hal-hal tersebut terjadi maka orang tersebut sudah mengalami kondisi yang sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan medis segera, termasuk pemberian oksigen maupun penurunan ketinggian.

Pencegahan terbaik adalah dengan melakukan aklimatisasi yaitu naik secara bertahap sehingga tubuh punya waktu untuk menyesuaikan diri.

Pengobatan Tibet

Persoalannya, sejumlah wartawan dari Beijing yang berkunjung ke Daerah Otonom Xizang pada pertengahan Juli 2026 tidak punya waktu cukup untuk melakukan aklimatisasi.

Berangkat dari Beijing yang punya ketinggian rata-rata sekitar 43,5 meter di atas permukaan laut (dpl), sebanyak 21 wartawan dari beberapa negara termasuk ANTARA langsung naik ke ibu kota "atap dunia", Lhasa, yang berada di ketinggian rata-rata 3.650 meter.

Oksigen portabel untuk membantu "penyakit ketinggian" (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Meski sudah diminta untuk meminum obat sebelum berangkat, berjalan dan bergerak secara perlahan, tidak mandi pada hari pertama hingga ketiga kunjungan, tapi penyakit ketinggian tetap menyambut.

Sebagian besar anggota rombongan mengalami sakit kepala, lelah, agak sempoyongan dan bahkan ada yang mengalami demam. Oksigen portabel berisi sekitar 750 mL pun selalu dibawa untuk membantu melancarkan pernafasan.

Meski begitu, setidaknya satu orang jurnalis asal Korea Selatan pada hari ketiga akhirnya harus kembali ke Beijing karena gejala sakit ketinggian yang makin parah.

Empat Tantra

Panitia sesungguhnya juga sudah menyiapkan obat khusus untuk mengatasi penyakit ketinggian, yaitu obat tradisional Tibet; Bawei Chenxiang Wan (BWCX). Obat itu merupakan formula klasik dari teks The Four Tantras, yang digunakan selama lebih dari 1000 tahun untuk mengobati sindrom hipoksia kardio-serebral seperti yang terjadi pada penyakit ketinggian kronis.

The Four Tantras atau Empat Tantra merupakan bagian inti dan paling fundamental dari pengobatan Tibet (Sowa Rigpa). Empat Tantra disusun oleh tabib Yutok Yönten Gönpo pada abad ke-12 berisi 156 bab dan tidak hanya berfungsi sebagai buku kedokteran, tetapi juga sangat terintegrasi dengan filsafat Buddha.

Empat Tantra sendiri terdiri atas Tantra Akar yang memberikan kerangka dasar tentang prinsip sehat dan sakit, Tantra Penjelasan yang membahas anatomi dan fisiologi tubuh, Tantra Instruksi Lisan yang berisi panduan praktis pengobatan berbagai penyakit, serta Tantra Tambahan yang berfungsi sebagai manual diagnosis dan obat-obatan.

Keempatnya merupakan bagian utama dari Sowa Rigpa atau "Ilmu Penyembuhan", sistem pengobatan tradisional Tibet yang memadukan ilmu pengobatan India (Ayurveda), China, Persia, bahkan Yunani kuno.

Teori dasar Sowa Rigpa berpusat pada keseimbangan tiga "cairan tubuh" atau energi, yaitu lung (angin), tripa (empedu), dan pekan (dahak/air).

Panduan dalam pengobatan tradisional Tibet. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Penyakit dinilai timbul karena ketidakseimbangan dari ketiga energi ini, yang bisa dipicu oleh faktor-faktor seperti gangguan emosi, perubahan musim, pola makan yang salah, atau bahkan pengaruh roh jahat.

Diagnosis dilakukan melalui metode pemeriksaan analisis denyut nadi dan analisis air seni serta pemeriksaan lidah dan dialog dengan pasien.

Dalam pengobatan, Sowa Rigpa menggunakan berbagai metode, mulai dari ramuan herbal, pengaturan pola makan dan perilaku, hingga terapi fisik seperti akupunktur Tibet, moksibusi (terapi pemanasan dengan membakar daun mugwort dekat tubuh pasien) dan pembedahan kecil.

Terapi lum

Salah satu terapinya yang bahkan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda adalah lum, yaitu pengobatan mandi uap atau air panas alami yang dicampur herbal untuk menyeimbangkan tubuh dan pikiran.

ANTARA pun sempat "menikmati" beberapa saat terapi lum tersebut di Rumah Sakit Pengobatan Tibet Daerah Otonom Xizang yang menjadi representasi modern dari lembaga pengobatan tradisional tersebut.

Rumah sakit itu awalnya berupa Men-Tsee-Khang (lembaga pengobatan dan astrologi Tibet) pada 1916 dan setelah reformasi demokratis Xizang pada 1959, Men-Tsee-Khang Lhasa digabung dengan Perguruan Tinggi Kedokteran Chakpori untuk membentuk Rumah Sakit Pengobatan Tibet Lhasa.

Kini, rumah sakit tersebut telah berkembang pesat menjadi rumah sakit besar dengan 700 tempat tidur dan lebih dari 900 staf, melayani lebih dari 530.000 pasien per tahun. Hal yang menarik, rumah sakit ini menggabungkan praktik kuno dengan teknologi modern.

Di satu sisi, dokter masih menggunakan metode diagnosis tradisional seperti memeriksa nadi dan air seni, serta meracik obat-obatan herbal. Di sisi lain, rumah sakit ini juga telah dilengkapi dengan alat diagnostik canggih seperti CT Scan dan MRI, serta memiliki jaringan telemedis yang memungkinkan konsultasi jarak jauh dengan dokter di daerah terpencil.

"Lhasa dan banyak wilayah lain di Daerah Otonom Xizang berada di kawasan yang sangat tinggi sehingga banyak masyarakat setempat menderita penyakit kronis yang berkaitan dengan lingkungan dataran tinggi," kata Direktur Rumah Sakit Pengobatan Tibet Daerah Otonom Xizang sekaligus Wakil Sekretaris Komite Partai Komunis setempat Ci Reng di Lhasa dalam wawancara dengan wartawan pada 22 Juli.

Penyakit paling umum di sana, antara lain, gangguan kardiovaskular, penyakit pada sistem pernapasan, serta gangguan persendian.

Perbedaan

Direktur Rumah Sakit Pengobatan Tibet Daerah Otonom Xizang Ci Reng di kota Lhasa. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Menurut Ci Reng, pengobatan tradisional Tibet punya perbedaan dengan pengobatan tradisional Tiongkok, terutama pada teori dasarnya.

"Meski begitu, sebagai sesama sistem pengobatan tradisional, keduanya juga memiliki bagian yang dapat saling berhubungan dan melengkapi, terutama dalam penerapan klinis," ungkap Ci Reng.

Sedangkan dengan pengobatan modern barat, Ci Reng menyatakan, pengobatan Tibet dilakukan dengan mengandalkan kemampuan indra dokter sementara pengobatan modern menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memeriksa berbagai unsur tubuh pada tingkat yang lebih kecil atau mikroskopis.

"Namun, dalam perkembangannya, banyak pakar dan pemimpin bidang pengobatan Tibet menyadari bahwa teknologi modern dapat meningkatkan kemampuan pengamatan dan diagnosis dokter. Karena itu, dokter dan rumah sakit pengobatan Tibet tidak menolak penggunaan instrumen diagnosis dan perawatan modern," ungkap Ci Reng.

Ci Reng yang sudah mempelajari pengobatan Tibet sejak 1990. Untuk menjadi tenaga ahli di bidang pengobatan Tibet tidak hanya harus menguasai ilmu dan teknologi pengobatan, tapi harus dapat memahami dan menerapkan cara berpikir serta konsep diagnosis dan pengobatan tradisional yang berorientasi pada manusia. Hal itu butuh latihan selama puluhan tahun.

"Keberhasilan pewarisan pengobatan Tibet bergantung pada kesabaran untuk mendidik kelompok tenaga profesional semacam ini," kata Ci Reng.

Sejauh ini kerja sama dalam pengobatan Tibet baru terjadi dengan negara-negara di sekitar Pegunungan Himalaya seperti India, Bhutan, dan Nepal karena kedekatan geografis sekaligus filosofis.

Rumah Sakit Pengobatan Tibet Daerah Otonom Xizang di kota Lhasa. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Sementara salah satu produsen obat tradisional Tibet yaitu Xizang Ganlu Tibetian Medicine mengungkapkan sistem standardisasi obat Tibet semakin lengkap ditambah proses produksi obat juga semakin teratur dan sesuai dengan standar.

"Keamanan, kualitas, serta efektivitas obat telah memperoleh jaminan yang semakin baik karena proses produksi dan pengawasannya telah distandardisasi," Deputi General Manager perusahaan tersebut sekaligus anggota Partai Komunis setempat Puqiong Cireng di Lhasa.

Perusahaan tersebut, menurut Puqiong, melakukan inovasi tapi dengan tetap mempertahankan dan mewarisi pengetahuan serta resep yang telah ada.

Puqiong mengungkapkan terdapat banyak resep lama yang telah dicatat dalam kitab-kitab pengobatan klasik, kemudian sejumlah resep yang dianggap paling baik telah melalui proses konsultasi dan kajian.

Badan pengawas obat milik pemerintah kemudian menerbitkan daftar resep tersebut. Setelah sebuah resep dicantumkan dalam daftar resmi, hal itu berarti banyak penelitian dan kajian yang mendukung resep tersebut telah dilaksanakan.

"Dengan demikian, proses untuk memperoleh nomor registrasi atau izin produk dapat menjadi lebih cepat dan jalurnya lebih jelas. Cara ini juga dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap obat-obatan," ungkap Puqiong.

Obat andalan produksi Xizang Ganlu Tibetian Medicine adalah "Pil 75 Mutiara" yang diklaim mengandung banyak bahan mineral. Obat tersebut digunakan untuk membantu menangani gangguan kardiovaskular, serebrovaskular maupun untuk mengatasi sejumlah gangguan yang banyak ditemukan di wilayah dataran tinggi.

Proses pengemasan obat tradisional Tibet di perusahaan Xizang Ganlu Tibetian Medicine Co., Ltd, kota Lhasa, Daerah Otonom Xizang. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Obat-obatan tradisional Tibet yang diproduksinya, menurut Puqiong, sekitar 50 persen dipasarkan ke wilayah lain di luar Xizang, meski belum sampai pada pasar internasional.

Madu Tibet

Selain punya kekhasan obat, Tibet juga punya kekhasan lebah lokal yang mampu beradaptasi dengan lingkungan Xizang sehingga tidak memiliki hama penyakit.

Hal itu disampaikan Direktur Yeban Fengsheng Cultural Tourism Development Zhang Liangfu, di kota Shannan, yang berjarak sekitar 70 km dari Lhasa.

Zhang Liangfu adalah seorang insinyur bidang lingkungan yang sempat bekerja di perusahaan listrik negara Tiongkok. Ia pernah bertugas di Sri Langka, Indonesia, hingga akhirnya memutuskan untuk belajar mengenai ternak lebah tradisional di Thailand hingga mendirikan perusahaan produksi dan pengolahan produk madu di Distrik Naidong, Shannan 10 tahun lalu.

Pekerja mengambil madu di peternakan lebah milik perusahaan Yeban Fengsheng Cultural Tourism Development Co., Ltd, kota Shannan, Daerah Otonom Xizang. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Lokasi peternakan lebahnya berada di Lembah Sungai Yarlung Zangbo dan wilayah di kedua sisi sungainya memiliki kelembapan yang cukup sehingga keanekaragaman tumbuhannya relatif tinggi. Dari Mei-Agustus, berbagai jenis tumbuhan berbunga secara bergantian sehingga sumber makanan bagi lebah mencukupi selama beberapa bulan tersebut.

Dalam program revitalisasi perdesaan pada 2025, perusahaan telah membantu sekitar 60 desa mengembangkan peternakan lebah dan meningkatkan pendapatan kolektif per desa dari 80 ribu hingga 200 ribu RMB. Hingga Juli 2026, perusahaan memiliki 46 pegawai, termasuk 14 orang etnis Tibet dan telah melatih lebih dari 300 pekerja lapangan peternakan lebah.

"Pada awalnya, masyarakat setempat belum terlalu memahami peternakan lebah, sebagian bahkan mengira lebah akan memakan bunga sehingga mereka kurang menyukai perusahaan, tapi setelah berjalan selama beberapa tahun, banyak penduduk desa mulai memperoleh manfaat ekonomi," kata Zhang.

Terlebih untuk menyuplai madu ke perusahaannya, Zhang mengatakan masyarakat tidak perlu menggiring lebah keluar setiap pagi dan membawanya kembali pada malam hari seperti menggiring ternak karena lebah sudah bekerja mandiri. Warga hanya perlu membantu pada waktu-waktu tertentu seperti ketika panen madu atau ketika diperlukan pekerjaan di sekitar sarang.

"Dengan demikian, pendapatan dari peternakan lebah pada dasarnya menjadi sumber pendapatan tambahan dan bukan pengganti seluruh mata pencaharian mereka. Kegiatan kami mencakup lebih dari 9.200 rumah tangga," ungkap Zhang.

Meski begitu, industri madu di Xizang tak bebas tantangan. Zhang mengaku salah satu tantangan berasal dari banyaknya satwa liar seperti beruang di sekitar lokasi peternakan lebah yang kadang datang untuk mencuri madu atau merusak sarang lebah.

Tantangan lain adalah tingginya biaya logistik dan terbatasnya sumber daya manusia, khususnya tenaga teknis.

Untuk meningkatkan margin keuntungan perusahaan, Zhang juga mengolah madu menjadi sabun, masker, hingga progam budidaya bagi pengunjung yang ingin mengetahui cara beternak lebah.

Jadi, setelah tahu bagaimana mengatasi "penyakit ketinggian" di Daerah Otonom Xizang, saatnya untuk merasakan sendiri berbagai daerah eksotis di Xizang. Silakan.