Maestro Seni Lukis Indonesia Nasirun Meninggal Dunia Akibat Henti Jantung
Hari Susmayanti August 01, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL -  Maestro seni lukis kontemporer Indonesia, Nasirun (60), meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) pukul 05.50 WIB setelah mengalami serangan jantung.

Nasirun meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta.

Sebelum dilarikan ke rumah sakit oleh pihak keluarga, Nasirun sempat mengeluhkan sesak nafas.

Gejala sesak nafas itu muncul selama tiga hari terakhir.

Pada Sabtu dini hari, sesak nafas yang dialami oleh Nasirun semakin parah sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit.

Namun takdir berkata lan, pelukis kelahiran Cilacap itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 05.50 WIB.

Perupa kontemporer sekaligus tetangga dan sahabat almarhum, Jumaldi Alfi Chaniago menyebut almarhum sempat mengeluh sesak nafas sejak tiga hari terakhir.

Sesak nafas itu kandang hilang dan kadang muncul tiba-tiba.

Namun sesak nafas itu semakin serius hingga akhirnya oleh pihak keluarga dilarikan ke rumah sakit.

"Jam dua pagi tadi sesak napasnya sudah mencemaskan, akhirnya dibawa ke rumah sakit. Meninggal itu sekitar jam 05.50. Sekitar empat jam. Kita tidak membayangkan akan sejauh itu. Ketika dibawa, kita tidak menyangka bahwa ada serangan jantung, disangka sesak biasa saja, ternyata beliau mengalami henti jantung," ujar Alfi saat ditemui di rumah duka di Bayeman Permai, Jalan Wates, Onggobayan, Ngestiharjo, Bantul, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Alfi, selama ini Nasirun memiliki riwayat sakit radang paru-paru (pneumonia) dan asam lambung. 

Namun penyakitnya itu disembunyikan dari lingkungan sekitar sehingga banyak yang tidak mengetahuinya.

Bahkan Alfi mengaku baru mengetahui penyakit yang diderita oleh rekannya itu pada hari ini.

"Bahwa dia ternyata punya penyakit berat, kita baru tahu hari ini. Dia ternyata punya pneumonia, dia ternyata punya asam lambung. Tapi tidak pernah dilihatkan, tidak pernah tampil mengeluh, bahkan ke keluarga pun dia tidak pernah. Jadi ketika dia sakit pun, didatangi orang, dia hanya tertawa-tawa," tutur Alfi.

Baca juga: Maestro Seni Lukis Nasirun Meninggal Dunia, Dimakamkan Sore Ini di Makam Seniman Imogiri

Masih Sempat Menyapu

Menurut Alfi, sehari sebelum berpulang, Nasirun masih terlihat cukup sehat.

Bahkan Nasirun masih sempat menyapu halaman rumahnya.

Dua hari sebelumnya, mereka bahkan masih menyempatkan diri menonton pameran seni bersama di tempat Ugo.

Rencananya, pada Sabtu (1/8/2026) pukul 09.00 WIB, almarhum dijadwalkan menggelar rapat di rumahnya untuk membahas rencana pameran seni.

"Kemarin sudah janjian jam sembilan pagi ini mau rapat di sini. Rencananya kami mau pameran di OHD Museum, Magelang, pada bulan Oktober atau November," ungkap Alfi.

Adapun pameran bertajuk "Arundhati" yang digelar di kediaman pematung Dunadi tercatat menjadi pameran terakhir almarhum.

Sementara itu, pameran seni rupa bersama Alfi terakhir kali digelar di Sangkring pada bulan Juni, menyusul perjalanan bersama mereka ke Belanda dan Bangkok.

Sosok Rendah Hati yang Selalu Tertawa

Sebagai tetangga satu kompleks selama 15 tahun dan adik kelas semasa menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta era 1990-an, Alfi bersaksi bahwa Nasirun adalah sosok seniman besar yang "telah selesai dengan dirinya sendiri".

Nama besarnya tidak lantas membuatnya elitis atau membeda-bedakan kelas pameran.

"Beliau orang yang dipuji tidak akan besar kepala, dimaki tidak akan sakit hati. Orang yang dihajar dan dimaki setengah mati pun cuma membalas dengan tertawa. Orang yang ketika laparnya setengah mati, tapi melihat orang lapar di sebelahnya, roti yang sedang di mulutnya itu akan dia kasihkan ke orang lain," kata Alfi mengenang karakter almarhum.

"Sosok sekelas dia itu sudah pameran internasional di mana-mana, tapi pameran tingkat RT antar-gang saja dia tetap mau datang, tetap membuka acara. Karena buat dia, undangan itu wajib dituntaskan. Pameran di atas gunung pun, kalau dia disuruh buka, dia akan datang," tambahnya.

Sepanjang tiga dekade bersahabat, Alfi menyebut Nasirun hanya satu kali menunjukkan raut wajah tanpa tawa, yakni saat sang maestro menderita hemoroid (wasir) dan harus menjalani operasi.

"Hanya hari itu saya melihat dia tidak tertawa. Besoknya habis dioperasi, dia tetap tertawa lagi ke mana-mana bawa bantal. Selebihnya, seumur hidup saya tidak pernah melihat dia tidak tertawa," kenang Alfi.

Jenazah Nasirun akan dikebumikan di Makam Seniman Imogiri, Kabupaten Bantul. Prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung pada Sabtu sore pukul 16.00 WIB.

Jadwal ini sedikit bergeser dari rencana awal pada pukul 14.00 WIB lantaran struktur tanah di area pemakaman berupa batu padas, sehingga proses penggalian liang lahat membutuhkan waktu yang lebih lama.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.