Kisah Anak Papua Frengki Kogoya: Dulu Gagal CPNS, Kini Jadi 'Raja Ayam' di Lanny Jaya
Paul Manahara Tambunan August 01, 2026 12:15 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-papua.com,Noel Iman Untung Wenda

========

BAU tanah basah dan hawa dingin khas pegunungan menyambut pagi di Kampung Dukom, Distrik Yiginua, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan.

Di dalam sebuah bangunan bersederhana ukuran 3x5 meter, seorang pemuda tampak sibuk menyapu sisa pakan.

Tangannya terampil menuangkan wadah air minum, sementara ratusan pasang mata ayam pedaging mengawasinya dengan riuh. 

Pemuda itu adalah Frengki Kogoya.

Di saat ribuan anak muda di tanah Papua menggantungkan asa pada selembar formulir seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) atau menanti uluran bantuan sosial, Frengki memilih menempuh jalan yang sama sekali berbeda. Jalan yang sunyi, penuh cemooh, namun menjanjikan kemandirian.

Ia adalah seorang Sarjana Peternakan dari Universitas Kanjuruhan Malang.

Baca juga: Kisah Atinus Sahe, Pemuda Yalimo Lulus Cumlaude di STFT GKI Jayapura: Siap Lanjut S2 di Yogyakarta

Bukannya mencari kenyamanan berAC di kota besar atau memburu seragam cokelat ASN, Frengki justru memilih pulang ke kampung halaman untuk menjadi seorang peternak.

Keputusan Frengki merintis usaha tidak lahir dari gelimang modal. Kisah ini justru bermula dari sebuah kegagalan.

Sama seperti pemuda Papua pada umumnya, Frengki sempat mengadu nasib ikut tes CPNS. Namun, takdir berkata lain. Nama Frengki tidak ada di daftar kelulusan.

"Motivasi saya sederhana. Sekarang anak-anak muda hanya fokus mencari kerja, terutama CPNS. Saya juga pernah ikut tes, tetapi tidak diterima," kenang Frengki kepada Tribun-Papua.com, Sabtu (1/8/2026).

Kegagalan itu tak membuatnya terpuruk. Justru dari sana timbul gelora pembuktian.

"Dari situ saya berpikir, kenapa saya tidak menciptakan pekerjaan sendiri?." 


Agustus 2025 menjadi saksi awal perjuangannya. Berbekal tabungan pas-pasan sebesar Rp 3 juta, Frengki bertolak ke Wamena. Uang itu ia tukarkan dengan 30 ekor anak ayam pedaging (Day Old Chick) beserta pakan seadanya.

Langkah awal Frengki tak lantas berjalan mulus. Begitu tiang-tiang kandang bambunya berdiri, nada sumbang dan cemoohan warga sekitar mulai bermunculan.

Banyak warga meragukan eksperimennya. Dalam benak masyarakat setempat, ayam pedaging adalah unggas yang ringkih dan hanya bisa hidup di daerah pesisir yang panas. Menyuruh ayam tumbuh di dinginnya Lanny Jaya dianggap sebagai tindakan sia-sia.

"Banyak yang bilang nanti ayamnya mati semua karena cuaca dingin. Katanya ayam tidak tahan," tutur Frengki.

Namun, ilmu peternakan yang ia timba di Pulau Jawa tak mengkhianati hasil.

Dengan ketelatenan tinggi, menjaga kehangatan kandang, mengatur sirkulasi udara, hingga memastikan pakan tak pernah kosong—ayam-ayamnya justru tumbuh gemuk dan sehat.

Keraguan warga pun perlahan luluh berganti rasa kagum.

Kini, dari yang semula hanya 30 ekor, populasi ayam di kandangnya terus bergulir. Usai panen pertama, ia beli 50 ekor, lalu naik lagi menjadi 100 ekor.

Hingga hari ini, Frengki mengaku belum mengambil sepeser pun uang hasil penjualan untuk kepentingan pribadinya. Seluruh keuntungan diputar kembali demi mengejar mimpi yang lebih besar.

"Target saya minimal punya 500 ekor dulu. Setelah itu baru saya bisa melihat keuntungan yang lebih besar," katanya.

Di Lanny Jaya, Frengki menjual ayamnya dalam kondisi hidup agar konsumen mendapatkan daging yang benar-benar segar.

Harganya bervariasi, mulai dari Rp 100.000 untuk bobot 1,2 kg hingga Rp 150.000 untuk ayam berbobot 2 kg.

Tantangan terberatnya justru bukan soal pakan atau penyakit, melainkan budaya kekeluargaan yang amat kental.

Tidak jarang kerabat dekat datang minta ayam secara cuma-cuma. Namun, di sinilah mental profesionalismenya diuji.

Baca juga: Kisah Merik Kuepe, Anak Suku Kamoro Asal Pigapu Mimika Raih Beasiswa YPMAK ke Poltek KP Sidoarjo

"Kami sudah sepakat dengan keluarga. Ini usaha baru dibangun. Kalau keluarga mau ayam, silakan membeli. Sebab kalau semua diberikan gratis, usaha ini tidak akan pernah berkembang," tegasnya.

Merubah Pola Hidup, Membuka Masa Depan

Bagi Frengki, kandang ayam berukuran 3x5 meter itu tak hanya memberi income, tapi juga merombak gaya hidupnya secara drastis.

 Ia tak lagi punya waktu untuk sekadar nongkrong atau berjalan-jalan tanpa tujuan.

"Ayam pedaging ini sensitif sekali. Makan tidak boleh habis, air tidak boleh kosong. Jadi waktu saya habis untuk fokus di sini," ujarnya.

Mimpinya tak berhenti di Kampung Dukom. Ia membayangkan suatu hari nanti memiliki peternakan berkapasitas 2.000 ekor, sehingga Kabupaten Lanny Jaya tak perlu lagi bergantung pada pasokan ayam beku dari luar daerah.

Di akhir perbincangan, pemuda ini menyelipkan pesan mendalam untuk para sarjana muda di tanah Papua Pegunungan.

"Jangan hanya fokus menjadi PNS. Kita punya tanah yang luas, kita punya potensi luar biasa. Ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah harus dipakai untuk membangun daerah sendiri. Yang penting, beranilah untuk memulai," kata Frengki.

Dari balik kandang bersederhana di Yiginua, Frengki Kogoya telah membuktikan: masa depan Papua yang cerah tidak hanya diketik di balik meja kantor pemerintahan, tetapi juga dicangkul dan dirawat oleh tangan-tangan anak muda yang berani berkarya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.