6 Ayat Al-Quran tentang Kesembuhan untuk Orang yang Sakit, Simak Fadhilahnya
Muhamad Ridlo August 01, 2026 12:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk hidup, tetapi juga sebagai sumber kesembuhan (As-Syifa’) bagi berbagai penyakit, baik yang bersifat rohani maupun jasmani. Ayat Al-Quran tentang kesembuhan untuk orang yang sakit telah menjadi kajian penting dalam khazanah keislaman, terutama dalam bidang tafsir dan pengobatan sejak masa klasik hingga modern.

Konsep asy-syifa atau kesembuhan dalam Al-Qur'an menunjukkan bahwa kitab suci ini memiliki dimensi terapeutik yang melampaui fungsi spiritualnya. Para ulama telah mengkaji ayat-ayat yang mengandung kata syifa dalam Al-Qur'an.

Penelitian Sismanto dan Tutik Hamidah dalam Jurnal Kajian Ayat-Ayat Syifa dalam Perspektif Tafsir dan Implementasinya dalam Pengobatan Ruqyah mengungkapkan bahwa terdapat enam ayat syifa dalam Al-Qur'an yang dapat menyembuhkan orang yang sakit. Keenam ayat tersebut tersebar dalam surat-surat Makkiyah dan Madaniyah, dengan fungsi yang mencakup penyembuhan penyakit hati dan jasmani.

As-Sa'di dalam kitabnya, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah penyembuh bagi semua penyakit hati, baik berupa syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat maupun syubhat yang mengotori iman. Berikut ini ulasannya.

Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Kesembuhan

Berdasarkan penelusuran tematik (maudhu'i), terdapat enam ayat Al-Qur'an yang mengandung kata syifa atau derivasinya. Berikut adalah keenam ayat tersebut beserta tulisan Arab, latin, arti, dan penjelasan ulama:

1. QS. At-Taubah (9): 14

Arab: فَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

Latin: Fa qātilūhum yu'adzdzibhumullāhu bi-aidīkum wa yukhzihim wa yanshurkum 'alaihim wa yasyfi ṣudūra qaumin mu'minīn

Artinya: "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman."

Ayat ini tergolong ayat Madaniyah. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa Allah meringankan hati orang-orang beriman dan menghilangkan kemarahan tersembunyi yang dibawa karena penganiayaan di masa lalu. Kata yasyfi dalam ayat ini berbentuk fi'il mudhari yang berarti "melegakan" atau "menyembuhkan" hati orang-orang beriman.

2. QS. Yunus (10): 57

Arab: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Latin: Yā ayyuhan-nāsu qad jā'atkum mau'izhatum mir rabbikum wa syifā'un limā fīṣ-ṣudūri wa hudaw wa rahmatul lil-mu'minīn

Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman."

Dalam ayat ini, Al-Qur'an disebut memiliki empat fungsi: (1) mau'izhah (pelajaran/nasihat), (2) syifa (penyembuh/obat), (3) huda (petunjuk), dan (4) rahmah (rahmat). Menurut Tafsir Jalalain, syifa dalam ayat ini bermakna penawar bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada, yakni penyakit akidah yang rusak dan keragu-raguan. As-Sa'di menjelaskan bahwa dalam Al-Qur'an terdapat nasihat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman yang akan memicu seseorang pada sikap harap (raja') dan takut (khauf).

3. QS. An-Nahl (16): 69

Arab: ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Latin: Tsumma kulī min kulliṡ-ṡamarāti faslukī subula rabbiki żululā, yakhruju min buṭūnihā syarābun mukhtalifun alwānuhu fīhi syifā'un lin-nās, inna fī dzālika la āyatal liqaumiy yatafakkarūn

Artinya: "Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir."

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini mengkomentari khasiat penyembuhan Al-Qur'an yang sering dilambangkan oleh madu, yang diyakini memiliki kualitas obat. Madu yang disebut dalam ayat ini menjadi simbol bahwa Allah telah menciptakan obat bagi manusia dari sumber-sumber alami.

4. QS. Al-Isra' (17): 82

Arab: وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Latin: Wa nunazzilu minal-qur'āni mā huwa syifā'uw wa rahmatul lil-mu'minīn, wa lā yazīduẓ-ẓālimīna illā khasārā

Artinya: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian."

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Adhim menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah syifa'. Artinya, Al-Qur'an dapat menyembuhkan penyakit-penyakit hati seperti keraguan, kemunafikan, kemusyrikan, kesesatan, dan ketidakistiqamahan. M. Quraish Shihab menyoroti Al-Qur'an sebagai obat untuk keraguan dan penyakit spiritual, berfungsi sebagai sumber rahmat bagi orang beriman.

5. QS. Asy-Syu'ara' (26): 80

Arab: وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Latin: Wa idzā mariḍtu fa huwa yasyfīn

Artinya: "dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku."

Ayat ini merupakan pengakuan Nabi Ibrahim 'alaihis salam bahwa hanya Allah-lah yang memiliki otoritas mutlak dalam menyembuhkan penyakit. M. Quraish Shihab menekankan bahwa penyembuhan hanya dapat dicapai melalui Allah Swt., khususnya bagi mereka yang menyangkal keesaan-Nya. Kata yasyfīn berbentuk fi'il mudhari yang menunjukkan bahwa kesembuhan adalah proses yang berlangsung dengan izin dan kehendak Allah.

6. QS. Fussilat (41): 44

Arab: قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

Latin: Qul huwa lilladzīna āmanū hudaw wa syifā', walladzīna lā yu'minūna fī ādzānihim waqruw wa huwa 'alaihim 'amā, ulā'ika yunādauna min makānin ba'īd

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Al-Qur'an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.' Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur'an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh."

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa ayat ini ditujukan atas ucapan orang-orang musyrik yang meragukan Al-Qur'an. Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk menjelaskan bahwa Al-Qur'an merupakan obat hati (penawar hati) dan menghilangkan keragu-raguan. M. Quraish Shihab menafsirkan bahwa petunjuk dan penyembuhan berdampak berbeda pada individu, dengan sebagian mendapat manfaat dan yang lain tetap tidak terpengaruh berdasarkan keyakinan.

Fadhilah Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Kesembuhan

1. Menyembuhkan Penyakit Hati (Ruhani)

Keutamaan utama ayat-ayat syifa adalah kemampuannya menyembuhkan berbagai penyakit hati seperti keraguan, kemunafikan, kesyirikan, kesesatan, dan ketidakistiqamahan. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Adhim menegaskan bahwa Al-Qur'an membersihkan hati dari setiap najis dan kotoran. As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa Al-Qur'an menyembuhkan hati dari syahwat yang menghalangi ketaatan dan syubhat yang mengotori iman.

2. Menyembuhkan Penyakit Jasmani

Ayat-ayat syifa tidak terbatas pada penyembuhan rohani, tetapi juga mencakup penyakit fisik. Asy-Syinqithi dalam Tafsir Adhwa' al-Bayan menyatakan bahwa Al-Qur'an dapat menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Hal ini sebagaimana dilakukan para sahabat yang membacakan surat Al-Fatihah kepada seorang pemimpin kampung yang tersengat kalajengking hingga sembuh.

3. Menjadi Rahmat bagi Orang Beriman

Al-Qur'an sebagai syifa juga berfungsi sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra' (17): 82, Al-Qur'an adalah penawar dan rahmat bagi orang yang beriman. Fakhruddin al-Razi menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah obat yang bermanfaat bagi kesehatan jasmani dan rohani manusia secara global.

4. Memberikan Ketenangan Jiwa dan Kecerdasan

Penelitian menunjukkan bahwa membaca dan menghafal Al-Qur'an memberikan implikasi psikologis sebagai obat dan penenang rasa cemas, memberikan ketenangan jiwa, serta meningkatkan kecerdasan dan prestasi belajar. Ruqyah dengan ayat-ayat syifa juga memberikan pengaruh signifikan dalam menurunkan tingkat kecemasan, stres, dan depresi.

5. Sarana Pengobatan Alternatif (Ruqyah)

Ayat-ayat syifa menjadi dasar utama dalam praktik ruqyah syar'iyyah. Pengobatan ini dilakukan dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan ditiupkan ke pasien atau melalui media air. Metode ini tidak hanya efektif untuk mengobati penyakit jiwa, tetapi juga penyakit medis. Ruqyah dengan ayat-ayat syifa diyakini memiliki keunggulan dibandingkan media pengobatan lain karena diikat dengan keimanan.

Pertanyaan Seputar Ayat Al quran

1. Apa saja ayat-ayat syifa dalam Al-Qur'an?

Ayat-ayat syifa dalam Al-Qur'an berjumlah enam ayat, yaitu QS. At-Taubah (9): 14, QS. Yunus (10): 57, QS. An-Nahl (16): 69, QS. Al-Isra' (17): 82, QS. Asy-Syu'ara' (26): 80, dan QS. Fussilat (41): 44. Lima ayat diturunkan di Makkah dan satu ayat di Madinah.

2. Bagaimana cara mengamalkan ayat-ayat syifa untuk kesembuhan?

Ayat-ayat syifa dapat diamalkan dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan ditiupkan ke pasien atau melalui media air. Cara lainnya adalah dengan metode air asma (membacakan ayat ke dalam air lalu diminumkan), metode sentuhan, metode tiupan dan usapan, serta metode sima'i (mendengarkan).

3. Apakah Al-Qur'an dapat menyembuhkan penyakit fisik?

Ya, menurut Asy-Syinqithi dalam Tafsir Adhwa' al-Bayan dan Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad, Al-Qur'an dapat menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Hal ini telah dipraktikkan sejak masa Rasulullah dan para sahabat.

4. Siapa ulama yang menjelaskan tentang ayat-ayat syifa?

Beberapa ulama yang menjelaskan ayat-ayat syifa antara lain Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Adhim, As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, dan Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir.

5. Apa perbedaan antara syifa untuk penyakit hati dan jasmani?

Syifa untuk penyakit hati (ruhani) mencakup penyembuhan dari keraguan, kemunafikan, kesyirikan, kesesatan, dan penyakit psikis lainnya. Sedangkan syifa untuk jasmani dilakukan melalui metode ruqyah dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an kepada orang yang sakit, seperti yang dipraktikkan para sahabat Rasulullah.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.