Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak naik pada Jumat, 31 Juli 2026. Kenaikan harga minyak dunia terjadi setelah Iran mengatakan telah menyerang dua kapal tanker yang sedang melintasi Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, Sabtu (1/8/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih dari 1%, dan ditutup ke posisi US$ 84,67 per barel. Harga minyak mentah Brent juga mendaki lebih dari 1%, dan ditutup di US$ 90,12.
Selama sepekan, harga minyak sempat turun lebih dari 5%, setelah aksi jual pada Senin pekan ini yang dipucu oleh harapan meredanya konflik Timur Tengah.
Menurut saluran berita pemerintah PressTV, Korps Garda Revolusi Islam menyatakan telah menghantam kapal-kapal tanker tersebut saat mereka mencoba melintasi Selat Hormuz di bawah pengawalan militer AS. Empat kapal tanker lainnya berbalik arah setelah serangan terjadi, demikian dilaporkan media pemerintah tersebut.
Organisasi keamanan maritim AS dan Inggris yang memantau lalu lintas pelayaran di Timur Tengah belum mengonfirmasi serangan-serangan tersebut.
CEO Chevron, Mike Wirth, mengatakan kepada CNBC pada Jumat, ancaman terhadap pasokan minyak di kawasan tersebut telah meluas hingga ke luar wilayah Hormuz. Sementara itu, Wirth menyebutkan bahwa cadangan minyak global sedang menurun.
Kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutu Iran, pekan lalu menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan telah menyerang kapal-kapal tanker di Laut Merah. Pekan ini, sebuah serangan pesawat nirawak (drone) merusak dua kapal pengangkut gas alam cair (LNG) di pelabuhan Damietta, Mesir, yang terletak di Laut Tengah. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
"Situasi ini sedang berada dalam tekanan dan saya khawatir kondisi ini akan terus berlanjut," ujar Wirth kepada Becky Quick dari CNBC. "Waktu kita semakin menipis. Setiap hari berlalu, situasi menjadi semakin sulit."

CEO Exxon, Darren Woods, mengatakan kepada CNBC Selat Hormuz harus dibuka kembali karena dunia membutuhkan pasokan minyak Timur Tengah yang saat ini tertahan di kawasan tersebut akibat perang.
"Selat ini adalah jalur utama pasokan dunia yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi di berbagai tempat, sehingga pada akhirnya minyak tersebut harus bisa mengalir," kata Woods dalam acara "Squawk Box" di CNBC. "Satu-satunya pertanyaan adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai penyelesaian agar selat tersebut bisa dibuka kembali dan produksi minyak di Timur Tengah dapat berjalan lagi."
Laba Exxon dan Chevron melonjak pada kuartal kedua seiring dengan kenaikan harga minyak.
Pekan ini, sejumlah kapal tanker juga mengalami serangan di Laut Hitam saat Ukraina menargetkan infrastruktur energi Rusia. Serangan-serangan tersebut mengancam ekspor melalui jalur pipa Kaspia yang diandalkan Kazakhstan untuk menyalurkan minyaknya ke pasar global.
Vice Chairman S&P Globa, Dan Yergin menuturkan, Teluk Persia, Laut Merah, Laut Tengah, Laut Hitam, Laut Baltik, dan Laut Kaspia semuanya telah menjadi arena perang minyak.
"Masalah besarnya terletak pada produk olahan," kata Yergin kepada program "Squawk Box" di CNBC.
Menurut perkiraan S&P, kapasitas kilang sebesar sekitar 6 juta barel per hari saat ini tidak beroperasi. Rusia telah menghentikan ekspor solar akibat serangan Ukraina terhadap sistem kilangnya. Ekspor produk olahan dari Timur Tengah juga terhenti akibat gangguan di Selat Hormuz.
"Hal ini berdampak pada keseluruhan ekonomi," ujar Yergin.
"Ini berdampak pada para petani di Brasil yang menghadapi kenaikan harga solar. Jadi, di situlah letak perebutan pasokan saat ini,” ia menambahkan.