60 Ribu Migran Serbu Ceuta demi Kejar Mimpi Hidup Lebih Layak, Eropa Perketat Perbatasan
Salma Fenty August 01, 2026 03:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Harapan puluhan ribu warga Maroko untuk mengubah nasib justru berubah menjadi krisis kemanusiaan yang mengguncang Eropa.

Dalam waktu hanya dua hari, sekitar 50.000 hingga 60.000 migran nekat memasuki Ceuta, wilayah kecil milik Spanyol di pesisir Afrika Utara yang selama ini menjadi salah satu gerbang menuju Eropa, demi mengejar kehidupan yang lebih layak.

Gelombang migrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir itu berakhir tragis.

Sedikitnya 57 orang dilaporkan meninggal dunia dalam perjalanan, sementara ribuan lainnya akhirnya kembali ke Maroko setelah Ceuta kewalahan menghadapi lonjakan pendatang.

Associated Press (AP) melaporkan sebagian besar migran memilih pulang secara sukarela pada Jumat (31/7/2026), sehari setelah kedatangan massal mereka memicu kekacauan di perbatasan dan krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Dampaknya tidak berhenti di Ceuta.

Spanyol mengerahkan pasukan tambahan untuk memulihkan situasi, sementara Italia dan Prancis memperketat pengawasan perbatasan karena khawatir gelombang migran akan meluas ke negara-negara Eropa lainnya.

Harapan Hidup Lebih Baik Berujung Kenyataan Pahit

Sebagian besar migran berasal dari Maroko dan mengaku nekat menyeberang karena sulit mendapatkan pekerjaan serta penghasilan yang layak di negara asal.

Baca juga: 60.000 Migran Masuk Ceuta dari Maroko, Spanyol Hadapi Krisis Terbesar dalam Bertahun-tahun

AP mengutip pengakuan Abdulah Buji (21), pemuda asal Tetouan, yang mengatakan dirinya bekerja hingga 12 jam sehari dengan upah sangat rendah sehingga memilih mempertaruhkan nyawa demi mencari kesempatan baru di Spanyol.

Namun, harapan itu pupus sesampainya di Ceuta.

Ribuan orang terpaksa tidur di taman, trotoar, dan ruang terbuka karena fasilitas penampungan tidak mampu menampung gelombang kedatangan yang begitu besar.

Reuters melaporkan ratusan migran akhirnya kembali ke Maroko setelah tidak mendapatkan makanan, tempat berlindung, maupun peluang kerja yang mereka harapkan.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyebut sekitar 48.300 migran telah kembali ke Maroko hingga Jumat malam, sementara ratusan lainnya terus meninggalkan Ceuta setiap jam.

Mimpi Menyeberang ke Eropa Dibayar Nyawa

Banyak migran mencapai Ceuta dengan berenang beberapa kilometer dari pesisir Maroko.

Sebagian lainnya berdesakan melewati pemecah gelombang dan pagar perbatasan.

Dalam proses itu, sejumlah orang tenggelam, sementara lainnya tewas akibat insiden saling dorong saat mencoba memasuki wilayah Spanyol.

Aparat keamanan berupaya menghalau arus migran menggunakan meriam air, gas air mata, hingga tembakan peringatan.

Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas mengatakan wilayahnya menghadapi gelombang migrasi terbesar yang pernah terjadi.

Pemerintah daerah memperkirakan jumlah pendatang mencapai sekitar 60.000 orang, membuat layanan kesehatan, distribusi makanan, serta tempat penampungan darurat kewalahan dalam hitungan jam.

Baca juga: Imbas Imigran Gelap Maroko Serbu Spanyol, Italia Perketat Perbatasan

Spanyol Kerahkan Militer, Sánchez Salahkan Sindikat Penyelundup

Menghadapi situasi yang memburuk, pemerintah Spanyol mengirim tambahan personel militer dan kepolisian ke Ceuta.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez bahkan langsung mengunjungi wilayah tersebut dan menyebut penyeberangan massal itu sebagai "pelanggaran terhadap integritas teritorial Spanyol."

CNN melaporkan Sánchez menilai lonjakan migran bukan terjadi secara spontan.

Ia menuding jaringan penyelundup manusia memanfaatkan putusan terbaru Mahkamah Agung Spanyol mengenai perlakuan terhadap migran yang tiba melalui jalur laut.

Menurut Sánchez, informasi yang disebarkan sindikat penyelundup membuat ribuan orang percaya mereka memiliki peluang lebih besar untuk menetap di Spanyol.

Ia menegaskan para penyelundup telah menipu banyak anak muda hingga mempertaruhkan nyawa mereka demi menyeberang ke Eropa.

Efek Domino Menjalar ke Eropa

Krisis di Ceuta dengan cepat berubah menjadi persoalan keamanan yang mengguncang kawasan Eropa.

Italia memberlakukan kembali pemeriksaan terhadap kedatangan dari Spanyol melalui jalur udara dan laut selama 30 hari.

Prancis juga memperketat pengawasan di sepanjang perbatasannya dengan Spanyol guna mengantisipasi perpindahan migran ke wilayahnya.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen menegaskan Uni Eropa tidak dapat membiarkan siapa pun memasuki kawasan tanpa mematuhi aturan yang berlaku.

Ia juga mendesak agar jaringan penyelundupan manusia segera dibongkar dan proses pemulangan migran dilakukan lebih cepat.

Perdebatan Baru Soal Kebijakan Migrasi

Lonjakan migran ke Ceuta kembali memanaskan perdebatan mengenai kebijakan migrasi Spanyol.

Pemerintah Sánchez sebelumnya melonggarkan aturan bagi ratusan ribu migran yang telah lama tinggal tanpa dokumen resmi di negara itu.

Meski pemerintah menegaskan kebijakan tersebut tidak berkaitan dengan krisis Ceuta, para politikus oposisi menilai langkah itu justru mengirim sinyal bahwa Spanyol semakin terbuka terhadap migrasi ilegal.

Baca juga: Terima Dubes Maroko, Megawati Harapkan Penguatan Kembali Solidaritas Negara Asia-Afrika

Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ikut mengkritik kebijakan migrasi Spanyol dan menyebut insiden di Ceuta sebagai konsekuensi dari pendekatan yang dinilai terlalu longgar terhadap migrasi ilegal.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.