Rudal Balistik Rusia Hantam Kyiv, 9 Tewas, Ukraina Kembali Desak Tambahan Sistem Patriot
Nanda Lusiana Saputri August 01, 2026 04:35 PM

TRIBUNNEWS.COM - Sedikitnya sembilan orang tewas akibat serangan rudal balistik Rusia yang menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Sabtu (1/8/2026).

BBC melaporkan, sedikitnya 23 orang lainnya mengalami luka-luka, sementara otoritas militer Kyiv kemudian memperbarui jumlah korban terluka menjadi sedikitnya 27 orang, termasuk empat anak.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko mengatakan serangan rudal balistik tersebut memicu lebih dari 10 ledakan di berbagai titik kota.

Sejumlah kebakaran dilaporkan terjadi dan pemadaman listrik sempat melanda beberapa wilayah.

Layanan Darurat Negara Ukraina menyebut serangan menghantam sedikitnya lima distrik di Kyiv.

Di distrik Darnytskyi, tujuh orang dilaporkan tewas dan 14 lainnya terluka setelah sejumlah bangunan mengalami kerusakan.

Sementara itu, dua orang tewas dan delapan lainnya terluka di distrik Solomianskyi setelah sebuah bangunan tempat tinggal lima lantai mengalami kerusakan parah akibat serangan.

Tim penyelamat juga mengevakuasi lebih dari 100 orang dari lokasi terdampak.

Foto-foto yang dirilis layanan darurat memperlihatkan petugas pemadam kebakaran memadamkan api di bangunan yang rusak, sementara tim penyelamat menyisir puing-puing untuk mencari korban.

Ukraina Kembali Desak Tambahan Sistem Patriot

Serangan terbaru terjadi ketika Rusia meningkatkan penggunaan rudal balistik dan serangan jarak jauh terhadap kota-kota di Ukraina.

France 24 melaporkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya mencatat Juni 2026 sebagai bulan paling mematikan bagi warga sipil Ukraina sejak April 2022.

Baca juga: Ihor Obolensky, Komandan Garda Nasional Ukraina Lolos dari Upaya Pembunuhan

Di tengah meningkatnya serangan tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali mendesak negara-negara sekutu memperkuat pertahanan udara negaranya.

Awal pekan ini, Zelensky bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington DC.

Dalam pertemuan itu, Zelensky meminta Amerika Serikat memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi rudal pencegat Patriot.

Usulan tersebut dinilai penting karena sistem Patriot masih menjadi senjata utama Ukraina untuk menghadapi rudal balistik Rusia.

Namun, Trump mengatakan Amerika Serikat belum menyetujui permintaan tersebut.

Ia menyebut pembahasan masih berlangsung dan Washington harus "sangat berhati-hati" sebelum mengizinkan produksi rudal Patriot di Ukraina.

Trump juga menyatakan teknologi persenjataan canggih berpotensi disalahgunakan di masa depan sehingga keputusan itu memerlukan pertimbangan matang.

Serangan Balasan Ukraina Terus Berlanjut

Di sisi lain, Ukraina juga meningkatkan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia dalam beberapa bulan terakhir.

Baca juga: Rekaman Audio Tersebar, Komandan Ukraina Perintahkan Tembak Prajurit yang Kabur dari Medan Tempur

CBS News melaporkan, Kyiv menyatakan serangan tersebut menyasar infrastruktur logistik dan energi yang digunakan untuk mendukung operasi militer Rusia.

Salah satu target terbaru adalah fasilitas logistik milik perusahaan ritel daring Rusia, Wildberries, di Volgograd.

Pemerintah Ukraina menuduh fasilitas tersebut digunakan untuk menyimpan komponen drone dan mendukung kebutuhan militer Rusia.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan ratusan drone Ukraina dalam serangan semalam.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.