Laporan Reporter TribunTangerang.com, Nurmahadi
WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG – Di balik nama Desa Sodong, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, tersimpan sejarah panjang yang diwariskan secara turun-temurun.
Bukan hanya menjadi salah satu desa tertua di wilayah tersebut, Sodong juga menyimpan kisah kecerdikan warga mengelabui tentara kolonial Belanda hingga kini dikenal sebagai kampung yang menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi.
Kepala Desa Sodong, Dony Bambang Priyangga, mengatakan keberadaan desa itu telah tercatat dalam peta Pemerintah Hindia Belanda tahun 1939.
Catatan tersebut menjadi bukti bahwa Desa Sodong telah dikenal sebagai wilayah administratif jauh sebelum Indonesia merdeka pada 1945.
"Desa Sodong sudah ada sebelum kemerdekaan. Keberadaannya bahkan tercantum dalam peta Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1939," kata Dony saat ditemui, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Dony, nama "Sodong" memiliki cerita yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat.
Berdasarkan cerita para sesepuh, nama tersebut berasal dari kata sedong, yaitu lubang besar yang dahulu digunakan warga sebagai tempat persembunyian ketika tentara Belanda melakukan pengejaran.
Saat aparat kolonial mencari penduduk kampung, warga sengaja memberikan informasi yang menyesatkan.
Mereka mengatakan para warga bersembunyi di "sedong" yang berada di wilayah sekarang bernama Desa Sodong. Padahal, lubang persembunyian yang dimaksud sebenarnya berada di kawasan Pinang, Kelurahan Tigaraksa.
"Kalau orang Belanda bertanya, 'Mana orang kampung?', dijawabnya, 'Ada di sono, di sedong.' Mereka mengira lubangnya ada di wilayah ini, padahal adanya di Pinang. Sampai sekarang sumurnya masih ada," ujar Dony.
Selain dikenal karena kisah tersebut, Desa Sodong juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perkebunan pada masa kolonial.
Dalam peta tahun 1939 masih tercatat kawasan perkebunan dengan status erfpacht, yakni hak guna usaha yang diberikan pemerintah kolonial Belanda kepada perusahaan perkebunan.
Pada masa itu, sebagian besar masyarakat setempat bekerja sebagai penggarap lahan maupun buruh di perkebunan karet milik Belanda yang tersebar di sekitar wilayah tersebut.
Meski bangunan peninggalan kolonial kini sudah tidak ditemukan, jejak sejarahnya masih tersimpan melalui arsip peta lama serta cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Memasuki era modern, Desa Sodong berkembang menjadi kawasan permukiman yang dihuni lebih dari 12 ribu jiwa dengan latar belakang suku dan agama yang beragam.
Keberagaman itu tercermin dari berdirinya berbagai rumah ibadah dalam satu wilayah desa. Terdapat Pura Parahyangan untuk umat Hindu, klenteng bagi umat Khonghucu, vihara untuk umat Buddha, serta puluhan masjid dan musala bagi umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk.
Bahkan, Masjid Agung Al-Amjad Kabupaten Tangerang juga berada di wilayah administratif Desa Sodong.
Menurut Dony, kerukunan antarumat beragama telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lama dan terus dipertahankan hingga sekarang.
"Keberagaman ini bukan menjadi kelemahan atau bahan perdebatan, tetapi justru menjadi kekuatan Desa Sodong. Ini miniatur Indonesia dengan semangat kebinekaan yang terus kami jaga," katanya.
Berangkat dari kekayaan sejarah dan nilai toleransi tersebut, Pemerintah Desa Sodong kini tengah menyiapkan konsep eduwisata religi.
Program itu akan memadukan wisata sejarah, keberagaman budaya, toleransi antarumat beragama, serta potensi agrowisata yang telah berkembang di desa tersebut.
Bagi masyarakat setempat, Desa Sodong bukan sekadar nama sebuah wilayah. Kampung yang dahulu dikenal melalui kisah persembunyian warga dari kejaran tentara kolonial itu kini tumbuh menjadi simbol harmoni, keberagaman, sekaligus pengingat akan sejarah panjang perjuangan masyarakat Tangerang.