SURYA.CO.ID - Tren peningkatan kasus penyakit metabolik kini menjadi perhatian serius di dunia kesehatan.
Penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, obesitas, gangguan jantung, hingga gagal ginjal terus menunjukkan grafik kenaikan yang signifikan.
Merespons tantangan tersebut, Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr Ramelan Surabaya menyelenggarakan Metabolic Diseases Ramelan Symposium (MRS) 2026.
Acara ilmiah tahunan ini digelar di Aula Gedung Pulau Miangas pada Sabtu (1/8/2026) dengan tujuan menyelaraskan persepsi sekaligus memperbarui pengetahuan tenaga medis dalam menangani pasien metabolik.
Kepala RSPAL dr Ramelan Surabaya, Laksamana Pertama TNI Mukti Fahimi, mengatakan simposium ini memiliki nilai strategis.
Selain menjadi ajang pembaruan ilmu, MRS 2026 juga merupakan bagian dari persiapan RSPAL menyambut status sebagai rumah sakit pusat pendidikan, sekaligus memperingati Hari Jadi RSPAL dr Ramelan.
"Melalui simposium ini, kami menyiapkan dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) dan dokter spesialis agar siap menjadi tenaga pengajar," ujar Mukti di sela acara.
Langkah tersebut menjadi fondasi penting bagi RSPAL dr Ramelan yang diproyeksikan membuka program pendidikan spesialis penyakit dalam berbasis rumah sakit (Hospital Based) pada 2027 di bawah naungan Kementerian Kesehatan.
Urgensi penanganan penyakit metabolik terlihat dari data pelayanan harian di RSPAL dr Ramelan. Mukti mengungkapkan, setiap hari rumah sakit tersebut melayani rata-rata 1.500 pasien.
Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen merupakan pasien dengan penyakit metabolik, seperti komplikasi diabetes, hipertensi, dan gagal ginjal.
Seiring pesatnya perkembangan teknologi kedokteran, tenaga medis dituntut terus memperbarui kemampuan dan kompetensinya.
Melalui MRS 2026, diharapkan para dokter mampu mengadopsi paradigma dan terapi terbaru guna meningkatkan kualitas hidup pasien serta menurunkan risiko kematian maupun kecacatan akibat penyakit metabolik.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Staf Medis (KSM) Penyakit Dalam RSPAL dr Ramelan, Dr. dr. Libriansyah, MM., Sp.PD., K-EMD., FINASIM., CEP., CIPA., menjelaskan adanya pergeseran metode pengobatan.
Saat ini, pendekatan medis mulai mengarah pada precision medicine atau terapi presisi.
Metode ini memungkinkan pemberian terapi yang disesuaikan secara spesifik dengan profil dan kondisi unik setiap pasien.
Dr. Libriansyah menegaskan, dengan penanganan yang tepat serta perubahan gaya hidup yang disiplin, harapan pasien untuk pulih semakin besar.
"Sejumlah penyakit metabolik saat ini bahkan sudah bisa mencapai kondisi remisi (gejala mereda atau hilang)," jelas Libriansyah.
Selain berfokus pada aspek kuratif (pengobatan), simposium ini juga diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya deteksi dini.
Gaya hidup sehat tetap menjadi kunci utama untuk memutus mata rantai penyakit metabolik yang kerap disebut sebagai "pembunuh senyap" di era modern.