TRIBUNTRENDS.COM - Delapan hari setelah jasadnya ditemukan, misteri kematian satpam bernama Sumarna di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, masih menyisakan banyak tanda tanya.
Kasus yang menyita perhatian publik itu hingga kini belum menemukan titik terang terkait sosok pelaku yang diduga menghabisi nyawa korban.
Penyelidikan yang dilakukan aparat kepolisian terus berkembang meski pelaku pembunuhan belum berhasil diamankan.
Berbagai kemungkinan mulai dipetakan penyidik untuk mengurai rangkaian peristiwa yang berujung pada kematian Sumarna.
Sejumlah petunjuk penting pun telah berhasil dikumpulkan guna mengungkap fakta di balik kasus tersebut.
Perhatian penyidik kini tertuju pada aktivitas korban dalam beberapa waktu sebelum ditemukan meninggal dunia.
Informasi demi informasi terus dihimpun untuk menyusun kronologi lengkap yang mengarah pada pelaku.
Baca juga: Titik Terang Pembunuh Satpam Waduk Jatiluhur, Keberadaan Sumarna saat Hilang 5 Jam, Rute Tak Wajar
Diketahui, Sumarna ditemukan mengambang di Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026) pagi sekitar pukul 09.00 WIB.
Kondisi jasad korban saat ditemukan membuat publik terkejut karena kedua tangannya terborgol ke belakang.
Temuan tersebut menguatkan dugaan bahwa korban tidak meninggal karena kecelakaan biasa.
Sejak awal, polisi bergerak menelusuri setiap jejak yang mungkin ditinggalkan pelaku.
Proses penyelidikan dilakukan dengan memeriksa berbagai keterangan dan bukti yang ditemukan di lapangan.
Hasil pendalaman selama beberapa hari akhirnya membantu penyidik melacak keberadaan terakhir korban.
Rekam jejak aktivitas Sumarna sebelum tewas kini mulai terungkap dan menjadi petunjuk penting dalam penyidikan.
Meski masih menyisakan misteri, polisi optimistis rangkaian bukti yang telah dikumpulkan dapat mengarah pada pengungkapan pelaku pembunuhan tersebut.
Berikut adalah timeline Sumarna sebelum meninggal dunia yang dihimpun TribunnewsBogor.com dari berbagai sumber:
Selain rekam jejak, polisi juga berhasil menemukan lima fakta terkait kasus kematian Sumarna.
Apa saja?
Fakta pertama yang diungkap penyidik ke publik adalah terkait hasil autopsi.
Dari hasil pemeriksaan dokter forensik, diketahui bahwa Sumarna diduga dibunuh sebelum ditenggelamkan di Waduk Jatiluhur.
Artinya pembunuhan terhadap Sumarna terjadi saat di darat, dan korban tewas bukan karena tenggelam.
"Fakta disampaikan oleh hasil autopsi RS Sartika Asih, nampak dari jenazah memang ada memar otot di bagian belakang leher sampai leher kiri dan kanan, luka memar di bibir dan hidung korban, tenggorokan korban tidak ditemukan benda seperti lumpur dan pasir, kematiannya itu disebabkan sebelum yang bersangkutan tenggelam kondisinya masih hidup," kata Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan, dilansir TribunnewsBogor.com dari tayangan youtube metrotv news.
Fakta kedua, penyidik menyebut bahwa ada kemungkinan pembunuh Sumarna lebih dari satu orang.
"Dari beberapa penelusuran kita, pelakunya tidak hanya satu. Kita duga seperti itu," pungkas Kombes Pol Hendra Rochmawan.
Adapun perihal terduga pelaku adalah geng motor anak muda di Purwakarta, polisi masih mendalami kemungkinan tersebut.
Namun diungkap penyidik, korban memang sempat berinteraksi dengan sekelompok orang sebelum meninggal dunia.
"Memang ada beberapa interaksi yang kita dalami terus, dengan beberapa kelompok, yang nanti kita duga menuju apakah permasalahan ada di sini," sambungnya.
Baca juga: Kejanggalan Tewasnya Sumarna Satpam Waduk Jatiluhur, Berjam-jam Tinggalkan Pos, Kunci Borgol di Saku
Fakta ketiga adalah adanya puluhan CCTV yang terpasang di lokasi Waduk Jatiluhur.
Sebelumnya viral isu bahwa tidak ada CCTV di Waduk Jatiluhur.
Namun belakangan, Dirut PJT II Jatiluhur Imam Santoso membantah hal tersebut.
Imam menyebut Waduk Jatiluhur dilengkapi 27 CCTV yang tersebar di beberapa lokasi.
"Kami di waduk Jatiluhur ini ada 27 CCTV. Jadi bukan tidak ada, ada CCTV dan letaknya tersebar," ujar Imam Santoso.
"Lokasi yang ada di ubruk itu ada tiga CCTV di sana yang beroperasi dan sudah diambil oleh polisi rekamannya," sambungnya.
Tapi untuk lokasi penemuan jasad Sumarna, kata Imam memang di tempat tersebut tidak ada CCTV.
"Sedangkan lokasi kejadian yang terjadi itu adalah di luar jangkauan CCTV karena jaraknya dua km dari CCTV," pungkas Imam.
Fakta keempat terkait tewasnya Sumarna adalah kepemilikan borgol.
Usut punya usut, borgol yang terpasang di tangan Sumarna bukanlah milik korban.
Polisi menduga borgol tersebut adalah milik pelaku.
"Borgol ini masih utuh. Karena perlengkapan satpamnya itu masih utuh. Sehingga kita duga borgol yang digunakan pelaku dalam hal ini yang melakukan pembunuhan ini bukan dari borgol korban, berarti dari pelaku," imbuh Kombes Pol Hendra Rochmawan.
Dari sanalah muncul dugaan adanya pembunuhan berencana yakni diduga pelaku telah menyiapkan borgol.
Namun perihal dugaan tersebut, polisi masih mendalaminya.
"Kita akan dalami lagi kalau untuk pembunuhan berencana atau tidaknya. Tapi faktanya itu borgol bukan milik dia, karena borgol yang bersangkutan borgol dan kuncinya masih ada di saku celana," ungkap Kombes Pol Hendra Rochmawan.
Fakta kelima adalah perihal gelagat aneh korban sebelum ditemukan tewas.
Dari rekaman CCTV dan aktivitas ponsel serta kesaksian warga di lokasi Waduk Jatiluhur, ternyata Sumarna sempat pergi meninggalkan pos jaga sekira pukul 21.00 Wib.
Sumarna diketahui baru kembali ke pos jaga sekira pukul 02.00 Wib.
Setelah ditelusuri, ternyata Sumarna pergi ke lokasi yang jaraknya cukup jauh dari Waduk Jatiluhur.
"(Korban) dari lokasi yang cukup jauh kurang lebih 3,2 km, dari sana kemudian kembali ke situ (ke pos)," imbuh Kombes Pol Hendra Rochmawan.
Tak hanya itu, gelagat aneh korban sebelum tewas juga turut jadi sorotan.
Setelah kembali ke pos jaga, Sumarna langsung menuju ke lokasi TKP tempatnya ditemukan tewas.
Namun Sumarna menuju ke TKP dengan melalui jalanan yang gelap.
"Terkait dengan lokasi ketika si korban ini dari tempat pos menuju ke TKP itu ada anomali bahwa yang bersangkutan tidak langsung menjurus ke lokasi di tempat dia tenggelam. Tapi dia memasuki, melewati perumahan-perumahan, di mana di situ tempatnya gelap, tidak ada penerangan lampu dan memasuki sekitar rumah-rumah ini," kata Kombes Pol Hendra Rochmawan.
"Bisa kita simpulkan bahwa perjalanan dari membawa si korban menuju ke lokasi TKP tidak langsung lurus pos itu ke TKP ditemukannya jenazah. Ini hipotesa kita pertama," sambungnya.
(TribuTrends/TribunBogor)