Jejak Patung St. Yusuf Arimatea di Vatikan dari Yogyakarta, Mukjizat untuk Niko
asto s August 02, 2026 12:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Beberapa kalimat meluncur pelan dari Niko Harahap Tanubrata. Pemilik Brata Gallery di Yogyakarta itu sejenak terdiam sebelum melanjutkan ceritanya.

"Jika papa masih hidup, ia pasti sangat terharu karena patung buatan Brata Gallery diterima langsung oleh Paus Leo XIV," ujarnya pelan di Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026)

Bagi Niko, momen ketika patung Santo Yusuf Arimatea diterima langsung oleh Paus Leo XIV bukan sekadar kabar menggembirakan.

Peristiwa itu menjadi jawaban atas impian lama almarhum ayahnya.

"Sebenarnya itu keinginan papa sejak lama, patung buatannya bisa diterima Paus. Kami paham keinginan itu sangat sulit terwujud. Ternyata justru patung Santo Yusuf Arimatea ini yang memenuhi harapan tersebut," ujarnya.

Patung Yusuf Arimatea diterima oleh Paus Leo XIV dalam audiensi, Rabu (25/03/2026).
DITERIMA - Patung Yusuf Arimatea diterima oleh Paus Leo XIV dalam audiensi, Rabu (25/03/2026). Dari kiri – ke kanan : Ketua Komisi Komsos KWI Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, Sekretaris Komsos KWI Rm Petrus Agoeng Noegroho Sri Widodo, Stanislaus Jumar Sudiyana (berpeci), Asni Ovier Dengen Paluin (Ikat kepala), AM Putut Prabantoro, Mayong Suryo Laksono (belakang), Bonifacius Mahendra Wahanaputra (berkacamata), Paus Leo XIV dan Rm. Markus Solo Kewuta SVD.

Niko mengaku tidak pernah membayangkan akan ada sesuatu yang luar biasa setelah penyerahan patung tersebut.

Namun, kenyataan justru berbicara lain.

Siapa Pembuatnya

Awal Mei 2026, Tribun berkesempatan berbincang dengan Niko di Brata Gallery.

Dalam perbincangan itu, ia didampingi Rosalinda Widjajanto atau Linda, staf yang bertanggung jawab langsung mengawal proses pembuatan patung Santo Yusuf Arimatea.

Keduanya sama-sama mengakui, perjalanan lahirnya patung tersebut penuh kejutan.

Bahkan, bagi Niko, seluruh prosesnya menyimpan misteri yang sulit dijelaskan dengan logika.

Patung itu menjadi karya pertama Brata Gallery yang menggambarkan sosok Santo Yusuf Arimatea.

Selama galeri itu berdiri, mereka belum pernah menerima pesanan serupa.

Santo Yusuf Arimatea dikenal sebagai tokoh yang mengurus pemakaman Yesus Kristus setelah penyaliban.

Ia merupakan seorang kaya, anggota Mahkamah Agama Yahudi atau Sanhedrin, sekaligus murid Yesus yang mengikuti-Nya secara diam-diam.

Yusuf dari Arimatea yang pertama kali dibuat di Indonesia dan dipersembahkan untuk Paus Leo XIV.
PERTAMA - Yusuf dari Arimatea yang pertama kali dibuat di Indonesia dan dipersembahkan untuk Paus Leo XIV.

Yusuf Arimatea mempersembahkan makam keluarga yang baru disiapkannya untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir Yesus.

Gereja mengenang Santo Yusuf Arimatea setiap 31 Agustus.

Patung itu dipesan oleh AM Putut Prabantoro, pendiri Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI).

Saat menerima pesanan tersebut, Niko tidak memiliki gambaran sedikit pun bahwa karya itu akan menjadi bagian dari sebuah perjalanan bersejarah.

Apalagi hingga akhirnya berada di tangan Paus.

Perjalanan itu justru membuka pintu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Tak lama setelah kabar penyerahan patung kepada Paus Leo XIV tersebar luas, Brata Gallery menerima pesanan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah galerinya.

Seorang kolektor dari Bandung memesan satu set patung Jalan Salib.

Bukan sekadar satu atau dua patung, melainkan satu rangkaian lengkap yang terdiri atas 14 stasi.

Yang membuatnya berbeda, setiap tokoh memiliki tinggi sekitar 180 sentimeter.

Niko menyebut pesanan itu sebagai yang pertama dalam perjalanan usahanya.

Awalnya, pemesan menginginkan setiap stasi hanya terdiri atas dua tokoh.

Namun, ketika sampai pada Stasi XIII, yakni peristiwa Bunda Maria memangku jenazah Yesus, Niko mengusulkan satu tambahan tokoh.

Tokoh itu adalah Santo Yusuf Arimatea.

Usulan tersebut langsung disetujui.

Bagi Niko, persetujuan itu terasa begitu istimewa.

Ia tidak berani menyimpulkan apa pun.

Namun, ia menganggap rangkaian peristiwa tersebut sebagai bagian dari jalan yang telah digariskan Tuhan.

Delapan Orang ke Vatikan

Perjalanan patung Santo Yusuf Arimatea menuju Vatikan mencapai puncaknya pada 25 Maret 2026.

Hari itu, delapan orang membawa patung tersebut dalam audiensi dan mempersembahkannya kepada Paus Leo XIV.

Rombongan terdiri atas lima delegasi PWKI, yakni AM Putut Prabantoro, Mayong Suryo Laksono, Asni Ovier Dengen Paluin, Stanislaus Jumar Sudiyana, dan Bonfilio Mahendra Wahanaputera.

Turut mendampingi dua delegasi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yaitu Mgr Agustinus "Didik" Tri Budi Utomo selaku Ketua Komisi Komunikasi Sosial serta Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo sebagai Sekretaris Komisi Komsos.

Rombongan juga didampingi Rm Markus Solo Kewuta SVD, pejabat Vatikan asal Indonesia.

Keduanya sama-sama terkejut.

Mereka tidak pernah membayangkan karya yang dibuat di sebuah galeri di Yogyakarta itu akhirnya berada di hadapan pemimpin Gereja Katolik sedunia.

"Waktu menerima pesanan pada Agustus 2025, saya cuma tahu patung itu akan dibawa ke Vatikan," kata Niko.

"Saya sama sekali tidak membayangkan akan diterima langsung oleh Paus. Saya pikir mungkin hanya akan masuk museum. Ternyata bisa diterima Paus Leo XIV. Itu benar-benar berkah luar biasa."

Linda pun memiliki pengalaman serupa.

Saat membantu proses pengepakan sekaligus membuat video panduan pembongkaran patung, ia belum memahami ke mana sebenarnya karya tersebut akan bermuara.

Peristiwa itu, menurut Linda, mengingatkannya pada satu ayat Kitab Suci.

"Saya seperti diingatkan bahwa apa yang tidak pernah terlintas dalam hati manusia, justru itulah yang diberikan Tuhan," katanya.

Linda yang beragama Kristen Protestan mengaku momen tersebut menjadi pengalaman iman yang tidak akan pernah ia lupakan.

Baca juga: 10 Ide Lomba 17 Agustusan yang Seru, Cocok Digelar di RT hingga Sekolah

Baca juga: Alasan Vatikan Tegas Tolak Gabung Board of Peace Bentukan Donald Trump

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.