TRIBUNNEWS.com - Guru Besar Universitas Bhayangkara Jakarta yang juga Penasihat Ahli Kapolri, Prof Hermawan Sulistyo, mencurigai adanya kemungkinan intimidasi terhadap polisi dalam kasus kematian Sutrimo.
Sutrimo adalah Kepala Rumah Tangga (Karumga) mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Jampidsus Kejagung), Febrie Adriansyah.
Sutrimo ditemukan tewas di depan klinik kecantikan terbengkalai di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026).
Lokasi ditemukannya Sutrimo ini hanya berjarak sekitar 450 meter dari kediaman Febrie.
Kecurigaan Hermawan ini disampaikan sebab polisi diketahui tak mengajukan permintaan visum terhadap Sutrimo untuk mengetahui penyebab kematian korban.
"Seharusnya pada saat mati itu dokter tidak merilis dulu. Polisi segera melayangkan SPV (surat permintaan visum) supaya bisa segera dilakukan visum oleh dokter forensik," katanya dalam tayangan KompasTV, Sabtu (1/8/2026).
"Ini polisi tidak melakukan itu (visum) sehingga kalau tidak ditemukan alat bukti yang lain dari segi fakta fisik, medis, itu sudah sulit," imbuhnya.
Baca juga: Penasihat Ahli Kapolri: Ada Indikasi Polisi Diancam jika Febrie Tak Diperiksa soal Kematian Sutrimo
Atas dasar itu, Hermawan menaruh curiga adanya kemungkinan intimidasi terhadap polisi oleh pihak terkait.
Sebab, menurutnya, Sutrimo bisa saja menjadi saksi utama dalam kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat Febrie.
"Saya curiga (polisi) ditekan-tekan sama jin dan setan itu kan. Iya, sangat bisa (Sutrimo menjadi saksi utama)," ungkapnya.
Hermawan Sulistyo lahir di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada 4 Juli 1957.
Pria yang akrab disapa Prof Kikiek ini dikenal sebagai akademisi dan pengamat di bidang keamanan, politik, serta terorisme.
Hermawan memperoleh Masters (MA) dalam bidang sejarah dari Ohio University-Athens di Amerika Serikat (AS).
Sementara, gelar Doktor (Ph.D) diperolehnya dari State University-Tempe.
Saat ini, ia dipercaya menjadi Penasihat Ahli Kapolri.
Di Universitas Bhayangkara Jakarta, Hermawan menjabat sebagai Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas).
Ia juga merupakan peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hermawan diketahui pernah menjadi anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dalam kasus penyiraman air keras terhadap mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.
Selain di Universitas Bhayangkara, Hermawan juga mengajar di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan, seperti Lemhannas, Sesko TNI, Sespimti Polri, dan Sespimmen Polri.
Di bidang kepenulisan, Hermawan telah menghasilkan sejumlah buku, antara lain Kumpulan Wawancara Imajiner: Kemana Indonesiaku?, Potret Transisi Reformasi, Potret Akhir Orde Baru, Bom Thamrin, Polri dalam Arsitektur Negara, serta Jenderal 600.
Hermawan juga menerjemahkan dan menerbitkan karya Gichin Funakoshi berjudul Karate-Do My Way of Life: Sejarah Karate Shotokan dan Inkai.
Di luar aktivitas akademik, Hermawan juga aktif menekuni olahraga karate.
Ia merupakan pelatih dan menyandang sabuk hitam Dan IV Institut Karate-Do Indonesia (Inkai).
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Mario Christian)