TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Alunan gejog lesung terdengar dari area pertanian Mojo Legi, Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Minggu (2/8/2026) pagi.
Suara musik tradisional itu menjadi tanda diawalinya penanaman sorgum.
Tanaman sorgum kini mulai dilirik dan dikembangkan oleh masyarakat setempat.
Guna mendorong ketahanan pangan dan kesejahteraan warga, jajaran pemerintah daerah bersama masyarakat menggelar aksi penanaman bersama tanaman sorgum.
Ketua Gapoktan Sedyomakmur Karangtengah, Sogiyanto, mengatakan keberadaan sorgum ini sudah lama dikenal.
Sorgum sebelumnya belum pernah dibudidayakan secara masif di kawasan ini, tetapi akhir-akhir ini baru kembali digalakkan.
"Masyarakat kini sangat antusias sekali begitu mengetahui hasilnya. Jadi, sekarang sudah banyak sekali yang tanam di sini," ucapnya kepada awak media saat penanaman sorgum.
Dikatakannya, dari 17 hektare lahan sawah milik warga, sekitar 10-15 hektare di antaranya mulai ditanami tanaman sorgum.
Rata-rata hasil per hektare mencapai tiga ton. Tanaman itu digarap sekitar 150-an warga setempat.
Adapun lama penanaman sampai panen, kata Sogiyanto, tergantung kebutuhan.
Jika petani bermaksud untuk menjual sebagai pakan ternak maka di usia tanaman dua bulan dapat dipanen, sedangkan untuk kebutuhan konsumsi diperlukan waktu tiga bulan untuk panen.
Pasalnya, sorgum sendiri juga dapat dipergunakan sebagai bahan baku untuk membuat tape, tempe, bubur, pengganti nasi, dan sebagainya.
Bagi masyarakat yang mengonsumsi, bisa mendapatkan manfaat asupan nutrisi, menjaga kadar gula darah, dan melancarkan pencernaan.
"Jadi, hasil panen ini untuk dijual. Tetapi, di sini memang mencari bibit. Dan penanaman sorgum ini kami lakukan dengan bekerja sama dengan pondok pesantren (Ponpes). Karena Ponpes yang menerima bantuan, kami sebagai petani yang melaksanakan," jelasnya.
Nantinya, akan ada pembagian hasil dengan skema 40 persen untuk petani, 40 persen untuk Ponpes Al Mahalli Watu Ageng, dan 20 persen untuk pemilik lahan sorgum.
Walau begitu, hasil dari tanaman sorgum ini dinilai memiliki keuntungan lebih banyak dibandingkan jagung dan padi.
"Di samping itu, sangat mudah menanam sorgum. Tanaman sorgum ini tidak membutuhkan asupan air yang banyak. Cukup dua kali penyiraman, tanaman sorgum ini bisa hidup. Karena, setiap pagi ada embun yang menempel di tanaman sorgum, sehingga dapat menjadi asupan nutrisi untuk tanaman itu sendiri," papar dia.
Baca juga: Terungkap! Ini Alasan Sapi Penarik Cikar Bantul Tak Boleh Sembarangan
Pengelola Ponpes Al Mahalli Watu Ageng, Naufal Elbusthommy, menyebut pihaknya sengaja ingin memberdayakan lahan yang ada mengingat manusia memiliki peran penting untuk mengelolanya.
Melalui tanaman sorgum tersebut, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
"Kita mendayagunakan lahan-lahan yang dititipkan oleh Allah kepada kita. Karena kita menjadikan khalifah fil ardhi itu ya harus mengelola bukan pemilik. Mengelola suatu tempat, jangan menunggu kita menjadi presiden, bupati, atau apa baru bergerak. Khalifah fil ardhi itu menjadi pengelola di Bumi harus tahu kapasitas dan daerah kita," tuturnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, menyebut bahwa pada tahun 2013-2015 lalu, hasil tanaman sorgum di Bantul cukup baik.
Namun, harga yang ditawarkan offtaker sorgum belum baik, sehingga belum banyak dilirik petani.
"Dulu, hasil produksi per hektare itu sekitar enam sampai tujuh ton, walau sorgum ini banyak disukai oleh hama burung. Tetapi, kemarin di lahan pasir tidak ada hama burung dan sebagainya. Jadi, sekarang kami harapkan ini dapat dikembangkan di lahan marginal," ucap dia.
Itu diharapkan mengingat sorgum dapat sebagai pengganti produk nasi. Di samping itu, limbah tumbuhan sorgum bisa untuk pakan ternak.
Dengan begitu, tanaman sorgum ini dinilai memiliki manfaat baik untuk manusia maupun hewan peternakan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DI Yogyakarta, Aris Eko Nugroho, turut menyampaikan bahwa masyarakat bisa menggunakan lahan Sultan Ground untuk perkembangan pertanian. Semua itu tergantung dengan keinginan masyarakat.
"Namun, kami berharap ada pemetaan terhadap lahan itu. Jangan sampai kita menanam sesuatu, tetapi pada akhirnya kita kesulitan di penjualnya. Maka selalu kami harapkan selain pengembangan pertanian, kami juga memikirkan pengolahannya," kata dia.(*)