Pesan Romo Sindhu Jelang Derby DIY PSIM vs PSS: Jangan Sampai Ada Kekerasan, Eman-eman!
Yoseph Hary W August 02, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Atmosfer persaingan sengit berbalut gengsi tinggi dipastikan bakal mewarnai gelaran Liga Super Indonesia musim 2026/2027 mendatang. 

Sajian Derby DIY yang mempertemukan dua kekuatan sepak bola Bumi Mataram, PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman, diprediksi bakal menjadi laga paling ditunggu-tunggu publik sepak bola Tanah Air.

​Namun, di balik panasnya intrik persaingan di atas lapangan, petuah menyejukkan datang dari budayawan sekaligus pemerhati sepak bola, Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, S.J. 

Pria yang akrab disapa Romo Sindhu ini mengingatkan pentingnya menjaga kedewasaan serta semangat persaudaraan di tengah tensi tinggi Derby DIY.

​Pesan tersebut disampaikan Romo Sindhu di sela-sela kegiatan diskusi dan peluncuran bukunya yang berjudul "Bola, Luka, dan Harapan" serta "Bola, Nasib, dan Air Mata, di Omah Petroek, Yogyakarta, Minggu (2/8/26).

Romo Sindhu: PSIM dan PSS di kasta tertinggi layak dirayakan 

​Menurut Romo Sindhu, keberadaan PSIM dan PSS di kasta tertinggi liga domestik merupakan sebuah keuntungan yang sudah selayaknya dirayakan bersama. 

Bukan tanpa alasan, tensi rivalitas justru menjadi bumbu pemacu semangat bagi pendukung fanatik kedua tim untuk terus berkembang secara sehat.

​"Nanti kalau PSIM kehilangan PSS, atau PSS kehilangan PSIM, kita juga kurang semangat melihatnya. Sepak bola jadi menarik karena kita memang memihak, tidak mungkin tidak memihak. Namun, bagaimana pemihakan ini tidak menjadi segala-galanya," ujarnya.

Jangan sampai ada kekerasan

​Jurnalis senior itu pun mewanti-wanti agar suporter kedua kubu tidak terjebak dalam fanatisme berlebihan yang berpotensi memicu kekerasan atau kerusuhan. 

Sebab, dampak negatif dari gesekan suporter justru akan merugikan klub kesayangannya dalam mengarungi musim kompetisi yang sarat akan persaingan ketat.

​"Jangan sampai terjadi perkelahian atau kekerasan. Ini akan merugikan kita sendiri, merugikan sepak bola, serta kecintaan dan kesetiaan kita pada klub. Sementara pemain dan pelatih bisa pergi kapan saja, enak saja mereka. Nah, hal seperti ini yang harus kita kritisi," tegasnya.

​Ia pun menyoroti sanksi tak kalah merugikan yang membayangi jika laga derby berujung rusuh, seperti larangan menggelar laga kandang hingga potensi terusir ke luar daerah.

Menurutnya, tidak hanya suporter, publik DI Yogyakarta secara umum sudah menanti-nanti pertemuan PSIM vs PSS di kasta tertinggi sepakbola tanah air.

​"Eman-eman nanti menyesal kalau fans harus melawat ke Kudus, Malang, atau luar Jawa, terlalu banyak keluar uang. Jangan sampai kedewasaan liga dan klub terganggu. Semoga warga di kota maupun kabupaten betul-betul mengharapkan perdamaian," harapnya.

Momen penguatan persaudaraan suporter Laskar Mataram dan Super Elja

​Dalam kesempatan yang sama, jurnalis sekaligus mantan pemain PSIM Yogyakarta, FX Harminanto, mengamini pandangan Romo Sindhu.

Ia menilai, tragedi Kanjuruhan beberapa waktu lalu justru menjadi momentum titik balik penguatan persaudaraan antara pendukung Laskar Mataram dan Super Elang Jawa.

​"Tragedi itu dimaknai secara luar biasa oleh teman-teman PSS dan PSIM. Justru dari Yogyakarta muncul persaudaraan antarsuporter yang gaungnya meluas ke seluruh Indonesia. Di media sosial juga narasi Mataram Is Love, lalu Mataram Islah terus digaungkan," ungkap Harminanto.

​Alhasil, ia meyakini, seiring berjalannya waktu, persaingan antara PSIM dan PSS di kasta tertinggi sepak bola Indonesia tidak lagi berwujud gesekan fisik atau aksi saling balas dendam.

Selaras harapan Romo Sindhu, Harminanto pun menginginkan realisasi tensi persaingan yang sehat dan membanggakan antara dua klub terbaik di DIY tersebut.

​"Bahwa ada gesekan kecil di lapangan itu pasti ada, tetapi suara mayoritas yang digaungkan adalah persaudaraan. Saya yakin ke depan rivalitas PSS dan PSIM jadi rivalitas yang positif dan mengarah ke sepak bola yang oke," pungkasnya. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.