SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Jumlah driver ojek online (ojol) perempuan di Surabaya mencapai ribuan.
Untuk mendukung kemandirian mereka, Pemkot Surabaya memberikan perlindungan sekaligus pemberdayaan.
Mengutip data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Surabaya, jumlah pengemudi ojol di Surabaya mencapai sekitar 21.000 hingga 22.000 orang.
Dari angka tersebut, 1.008 orang di antaranya merupakan perempuan.
Sebagai bentuk perlindungan, Pemkot memastikan masing-masing pengemudi terlah tergabung dalam jaminan sosial ketenagakerjaan.
Tidak hanya itu, mereka juga akan dibekali pelatihan keterampilan hingga pendampingan usaha untuk menambah penghasilan mereka.
Kepala Disperinaker Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro mengatakan, pekerjaan sebagai pengemudi roda dua memiliki risiko tinggi.
Sehingga intervensi utama yang dilakukan pemkot adalah memberikan perlindungan melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Baca juga: Terkait Dugaan Korupsi, Pemkot Surabaya Pastikan Satwa KBS Tak Ada yang Mati Karena Kelaparan
"Nah, ojol roda dua ini memiliki risiko besar. Jadi, intervensi kami di Disperinaker yang utama adalah memberikan mereka jaminan untuk pekerjaannya," ujar Hebi ketika dikonfirmasi SURYAMALANG.COM di Surabaya.
Dari para ojol yang tergabung dalam BPJS, lebih dari 10 pengemudi telah menerima manfaat dari program tersebut.
Beberapa di antaranya juga menerima santunan kematian dan beasiswa bagi anak hingga jenjang perguruan tinggi.
"Selama Januari sampai sekarang lebih dari 10 yang dapat intervensi. Jadi ada yang meninggal, dan sebagainya, kita klaim-kan ke BPJS Ketenagakerjaan dan alhamdulillah tidak hanya mendapat santunan kematian tapi juga mendapat beasiswa untuk anaknya sampai perguruan tinggi," tuturnya.
Menurutnya, perlindungan tersebut bertujuan mencegah munculnya kemiskinan baru ketika pencari nafkah utama mengalami musibah.
"Jadi pemikiran kita bahwa kita ikutkan BPJS Ketenagakerjaan untuk mengurangi risiko ada kemiskinan baru," tuturnya.
Selain perlindungan sosial, Disperinaker juga menyiapkan program peningkatan keterampilan bagi pengemudi ojol perempuan agar memiliki peluang bekerja dari rumah. Program tersebut diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
"Kalau misalnya mereka butuh latihan menjahit dan sebagainya, kita welcome. Kelompok-kelompok, (misal) 20 (orang) bisa kita tindaklanjuti."
"Tetapi untuk mesin nanti kita ke Disperindag atau kita carikan CSR dari Baznas atau apa, agar nantinya itu survive," ujar Agus Hebi.
Baca juga: Pemutihan Pajak Kendaraan Agustus 2026, Buruh Hingga Ojol Bebas Denda dan Dapat Keringanan Tunggakan
Meski demikian, Agus Hebi menilai bantuan peralatan saja belum cukup. Menurutnya, pendampingan dan penguatan mental menjadi faktor penting agar usaha yang dijalankan dapat bertahan.
"Misalnya hanya dikasih sarana prasarana tanpa software. Nah, software ini yang masuk mindset ke otak itu tidak akan berjalan dengan baik meskipun didampingi dan sebagainya," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya, Ida Widayati mengatakan, program pemberdayaan tidak hanya menyasar ojol perempuan, tetapi juga perempuan penyandang disabilitas agar semakin mandiri secara ekonomi.
"Jadi kita memang tidak hanya mengintervensi teman-teman ojol perempuan, tapi juga perempuan disabilitas. Itu juga perlu kami dampingi untuk lebih berdaya secara ekonomi," ujar Ida.
Ia menyebutkan pendampingan terhadap ojol perempuan telah dimulai sejak tahun lalu. Pada 2025, sekitar 150 pengemudi perempuan memperoleh berbagai pelatihan, mulai dari cooking class, makeup artist (MUA), hingga pemeriksaan kesehatan reproduksi yang bekerja sama dengan rumah sakit.
"Memang teman-teman ojol perempuan ini sejak tahun kemarin kita sudah mulai mengintervensi tetapi tidak dalam jumlah besar. Jadi tahun kemarin itu sekitar 150 ojol perempuan sudah mendapatkan pendampingan dari kita," katanya.
Ida menegaskan program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, agar pengemudi ojol perempuan dapat mengurangi waktu bekerja di jalan dan memiliki sumber pendapatan dari rumah.
"Memang arahan Pak Wali adalah agar perempuan Ojol ini mengurangi waktunya di jalan. Jadi boleh berkegiatan tetap menjadi Ojol, tetapi lebih dikurangi waktunya," ujarnya.
Menurut Ida, proses pemberdayaan membutuhkan waktu karena hasil pelatihan tidak dapat langsung meningkatkan pendapatan peserta.
"Memang perlu proses dan waktu, tidak serta-merta setelah kita lakukan pelatihan kemudian mereka bisa lepas dengan peningkatan ekonominya signifikan," katanya.
Ia mengakui tantangan terbesar adalah membangun semangat dan daya juang peserta. Sebab, penghasilan sebagai pengemudi ojol dapat diperoleh setiap hari, sedangkan usaha hasil pelatihan membutuhkan proses hingga berkembang.
"Mungkin salah satu faktornya adalah kalau ojol itu dia setiap hari langsung dapat uang. Nah, kalau kegiatan yang sudah kita latih itu kan pasti butuh proses," ujarnya.
Ida juga menceritakan pendampingan terhadap pasangan suami istri pengemudi ojol yang anaknya membutuhkan pengobatan rutin.
Pemkot memberikan berbagai bentuk bantuan, mulai dari pelatihan menjahit, bantuan mesin jahit, hingga membuka peluang usaha dan pekerjaan padat karya. Namun, hasilnya belum sesuai harapan karena masih terkendala semangat berusaha.
"Jadi memang proses ini kan ndak serta-merta. Sudah kita kasih bantuan mesin jahit sampai diletakkan di rumahnya. Nah ini ternyata tidak seperti (harapan) yang kita kira. Jadi tiap bulan kita tanya pendapatan berapa. Ternyata stuck, tetap seperti semula," tuturnya.
Menurut Ida, penguatan motivasi dan daya juang menjadi pekerjaan rumah bersama agar program pemberdayaan benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga pengemudi ojol perempuan.
"Nah itu yang masih menjadi salah satu PR-nya buat kami," katanya.
Baca juga: Kebakaran KMP Mutiara Santosa 2 di Perairan Sumenep Madura, 5 Orang Meninggal, 227 Selamat