TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Persoalan lingkungan di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah semata.
Mulai dari pengelolaan sampah hingga pelestarian kawasan pesisir membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan masyarakat, akademisi, dunia usaha, hingga komunitas lokal yang selama ini bergerak langsung di lapangan.
Urgensi tersebut tercermin dari data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup yang mencatat timbulan sampah dari 319 kabupaten/kota pada 2024 mencapai sekitar 34,27 juta ton.
Dari jumlah tersebut, sekitar 13,81 juta ton atau 40,3 persen masih belum tertangani, sehingga dibutuhkan berbagai inovasi dalam pengelolaan lingkungan yang dimulai dari tingkat masyarakat.
Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara), Karyanto Wibowo, mengatakan Indonesia memiliki banyak pelopor lingkungan yang selama ini bekerja secara konsisten di berbagai daerah.
"Meski kiprahnya tidak selalu menjadi sorotan, mereka dinilai mampu menghadirkan perubahan yang berdampak langsung bagi masyarakat," kata Karyanto saat penganugerahan Anugerah Hijau Amdatara 2026 di Jakarta, belum lama ini.
Penghargaan tersebut diberikan kepada individu, komunitas, akademisi, dan institusi yang dinilai berhasil menghadirkan solusi nyata melalui inovasi di bidang pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
"Indonesia memiliki banyak pelopor lingkungan yang bekerja tanpa pamrih. Mereka tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran, menciptakan nilai ekonomi, dan memperkuat ketahanan masyarakat," ujar Karyanto.
Menurut dia, penghargaan tersebut tidak sekadar menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga menjadi upaya mengangkat praktik-praktik baik yang layak menjadi inspirasi bagi daerah lain.
"Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi dan kolaborasi dapat menghadirkan dampak nyata bagi keberlanjutan Indonesia. Harapannya, semakin banyak inisiatif serupa yang tumbuh dan berkembang di berbagai daerah," katanya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Amdatara menetapkan tiga penerima penghargaan yang mewakili bidang pengelolaan sampah, pelestarian ekosistem mangrove, dan pemberdayaan generasi muda, yakni Bank Sampah Berseri Wonogiri, Yayasan Inspirasi Keluarga KeSEMaT (Ikamat) Semarang, serta KSP "Principium" Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Kategori Inovasi Penggerak Bank Sampah Berbasis Masyarakat diberikan kepada Bank Sampah BERSERI Wonogiri.
Komunitas ini dinilai berhasil membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui penerapan konsep ekonomi sirkular yang mendorong warga memilah sampah sejak dari rumah.
"Pendekatan tersebut tidak hanya membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat melalui kegiatan bank sampah dan berbagai program pemberdayaan." kata Karyanto.
Penghargaan ini dinilai relevan dengan kondisi nasional.
Berdasarkan data SIPSN, rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar, yakni sekitar 50,8 persen dari total timbulan sampah pada 2024. Kondisi itu menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya menjadi salah satu kunci untuk mengurangi beban sampah nasional.
Sementara itu, kategori Inovasi Pelestari Ekosistem Mangrove diraih Yayasan Inspirasi Keluarga KeSEMaT (IKAMAT) Semarang atas kiprahnya dalam rehabilitasi mangrove melalui kegiatan konservasi, edukasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Peran tersebut dinilai penting mengingat Indonesia memiliki kawasan mangrove terluas di dunia. Selain berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi, hutan mangrove juga menjadi habitat berbagai biota pesisir dan berperan sebagai penyerap karbon yang mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
Melalui pendekatan yang melibatkan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan, IKAMAT dinilai berhasil menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
Adapun kategori Inovasi Generasi Muda Pemberdayaan Masyarakat diberikan kepada KSP "Principium" Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Organisasi kemahasiswaan tersebut dinilai berhasil mendorong literasi hukum, advokasi sosial, serta pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program pengabdian.
Baca juga: Kejar Cakupan Layanan Air Minum Perpipaan 100 Persen, PAM JAYA Buka Penjajakan Mitra Strategis
Berbagai kegiatan yang dijalankan menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya berperan sebagai penerus, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan dengan menghadirkan solusi atas persoalan sosial di tengah masyarakat.