TRIBUNNEWS.COM - Awal pekan ini bisa dibilang menjadi momen bersejarah bagi hubungan bilateral antara Indonesia dan Thailand.
Hal ini terjadi setelah Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dijadwalkan akan tiba di Jakarta pada Senin, (3/8/2026), untuk merangkai kunjungan resmi selama dua hari hingga Selasa, 4 Agustus 2026.
Kedatangan pimpinan pemerintahan Thailand ini menandai lawatan resmi pertama seorang Perdana Menteri Thailand ke Indonesia dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.
Dilansir dari Thairath, selama di Jakarta, PM Anutin dijadwalkan akan melakoni serangkaian agenda padat.
Di antaranya pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, konferensi pers bersama, hingga pembukaan Business Forum yang mempertemukan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dengan Thai Chamber of Commerce.
Selain itu, PM Anutin juga akan menyampaikan pidato di Sekretariat ASEAN guna memaparkan visi strategis Thailand menjelang Keketuaan ASEAN 2028.
Kunjungan ini bukan sekadar formalitas protokoler semata, melainkan momentum krusial untuk menyambung kembali intensitas diplomasi tingkat tinggi yang sempat melonggar, sekaligus menerjemahkan Kemitraan Strategis yang disepakati pada 2025 menjadi proyek konkret di sektor perdagangan, investasi, keamanan, ketahanan pangan dan energi, serta kerja sama kawasan.
Baca juga: PM Thailand Anutin Charnvirakul Tiba di Jakarta Sore Ini, Bakal Temui Prabowo hingga KADIN
Kunjungan Anutin ke Indonesia syarat akan nilai sejarah mengingat sudah cukup lama pemimpin tertinggi pemerintahan Negeri Gajah Putih menginjakkan kakinya ke tanah air.
Lawatan resmi terakhir oleh Perdana Menteri Thailand ke Jakarta terjadi pada September 2011, saat PM Yingluck Shinawatra diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Saat itu, pertemuan berfokus pada penguatan kerja sama ekonomi, energi. dan terutama pariwisata.
Selain itu, Yingluck dan SBY kala itu juga membahas keamanan pangan regional, serta peran diplomasi Indonesia sebagai Ketua ASEAN dalam meredakan ketegangan perbatasan Thailand-Kamboja.
Sejak saat itu, intensitas kunjungan resmi tingkat kepala pemerintahan Thailand ke Indonesia menurun.
Meski demikian, interaksi antara kedua negara tetap terjalin melalui forum multilateral seperti KTT ASEAN maupun pertemuan tingkat menteri.
Sebaliknya, Presiden Prabowo Subianto telah melakukan kunjungan resmi ke Bangkok pada Mei 2025 lalu.
Menariknya lagi, kedatangan Prabowo di Thailand juga mencatatkan sejarah sebagai kunjungan presiden Indonesia pertama dalam kurun waktu sekitar 20 tahun.
Dalam momen peringatan 75 tahun hubungan diplomatik tersebut, kedua negara sepakat menaikkan status hubungan menjadi Kemitraan Strategis.
Baca juga: PM Thailand Kunjungan ke Indonesia, Ditlantas Polda Metro Jaya Siapkan Pengaturan Lalu Lintas
Hubungan bilateral kedua negara berakar jauh sebelum peresmian hubungan diplomatik formal pada tahun 1950, mencakup jejak sejarah era kerajaan kuno hingga peran bersama sebagai pendiri ASEAN pada tahun 1967.
Berikut adalah pilar utama kerja sama strategis Indonesia-Thailand:
Melansir data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, perdagangan bilateral antara kedua mencatatkan rekor tertinggi di atas USD 19 miliar pada 2022, disusul USD 17,5 miliar pada 2023, dan USD 17,4 miliar pada 2024.
Ekspor utama Indonesia ke Thailand mencakup bahan bakar mineral, tembaga, kendaraan/suku cadang, serta produk pertanian dan perikanan.
Sementara impor dari Thailand didominasi oleh mesin, kendaraan, plastik, sereal/beras, dan gula.
Investasi Thailand di Indonesia diperkuat oleh korporasi besar seperti Charoen Pokphand (CP), SCG, Banpu, PTT, hingga sektor perbankan seperti Bangkok Bank.
Sementara investasi Indonesia di Thailand difokuskan pada sektor energi dan transportasi.
Bersama Malaysia, Indonesia dan Thailand membentuk lembaga International Tripartite Rubber Council (ITRC).
Lembaga ini dibentuk guna menjaga stabilitas pasokan dan harga karet dunia.
Kerja sama antara Indonesia dan Thailand dalam sektor ini juga mencakup riset pertanian, cadangan pangan regional ASEAN, serta pengembangan industri halal.
Di bidang ini, kolaborasi difokuskan pada penanganan kejahatan transnasional, keamanan maritim, serta koordinasi stabilitas kawasan melalui mekanisme kerja sama militer dan kepolisian.
Di sektor ini, baik Indonesia dan Thailand sama-sama menjalin hubungan melalui penguatan sektor pariwisata, pertukaran pelajar dan tenaga pendidik, serta ekonomi kreatif.
Terbaru adalah rencana pembaruan MoU pendidikan yang mencakup pelatihan kecerdasan buatan (AI) dan pertukaran talenta.
Sebagai tindak lanjut dari peningkatkan status hubungan pada Mei 2025, Kabinet Thailand telah menyetujui Thailand–Indonesia Strategic Partnership Plan 2026–2030 sebagai panduan kerja sama lima tahun ke depan.
Secara simbolis, kehadiran PM Anutin berhasil mengisi ruang kosong diplomasi tingkat tinggi selama 15 tahun dan menyeimbangkan dinamika hubungan bilateral pasca-kunjungan Presiden Prabowo ke Bangkok pada 2025.
Lawatan ini mengokohkan rasa saling percaya (mutual trust) di tingkat pimpinan tertinggi.
Secara praktis, kunjungan ini membuka peluang nyata bagi kedua negara.
Baca juga: PM Thailand Anutin Charnvirakul Dijadwalkan Tiba di Jakarta, Bahas Penguatan Ekonomi dengan Prabowo
Bagi Thailand, Indonesia dengan populasi 280 juta jiwa dan ekonomi terbesar di ASEAN merupakan pasar strategis, destinasi investasi utama, serta mitra penting dalam rantai pasok regional.
Bagi Indonesia, Thailand merupakan mitra vital di bidang otomotif, agroindustri, manufaktur, dan energi.
Secara jangka pendek, hubungan ini diharapkan mendorong percepatan dialog bisnis melalui forum KADIN-Thailand, memfasilitasi penandatanganan kesepakatan investasi baru, serta memperkuat koordinasi ketahanan pangan dan energi.
Di dalam jangka menengah, kedatangan Anutin ke Jakarta diharapkan dapat mengakselerasi implementasi Roadmap Strategic Partnership 2026–2030 Indonesia-Thailand guna meningkatkan volume perdagangan dua arah, keterlibatan UMKM, kolaborasi industri pertahanan, serta program interaksi antarmasyarakat (people-to-people).
Jika seluruh agenda teknis berjalan optimal, kunjungan PM Anutin akan menjadi titik balik penting yang menjadikan Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand sebagai pilar utama stabilitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara di masa depan.
(Tribunnews.com/Bobby)