Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat inflasi pada Juli 2026 sebesar 0,23 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Sementara itu, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara year-on-year (yoy), inflasi Provinsi Bengkulu pada Juli 2026 mencapai 3,78 persen.
Hal itu diungkapkan dalam press release BPS Provinsi Bengkulu di Aula Rafflesia BPS Provinsi Bengkulu, Senin (3/8/2026).
Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Provinsi Bengkulu, Reny Puspasari, mengatakan inflasi bulanan pada Juli 2026 terutama didorong oleh sejumlah kelompok pengeluaran.
Salah satu kelompok yang memberikan andil terbesar adalah kelompok transportasi dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen.
Selain transportasi, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya juga mengalami inflasi cukup tinggi, yakni sebesar 1,84 persen. Namun, andil kelompok tersebut terhadap inflasi secara keseluruhan relatif kecil.
Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi. Kelompok tersebut mengalami penurunan harga sebesar 0,19 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,07 persen terhadap inflasi Juli 2026.
Jika dilihat berdasarkan komoditas, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar di Bengkulu pada Juli 2026 dengan andil sebesar 0,10 persen.
Baca juga: Dana Bagi Hasil 2026 di Bengkulu Tembus Rp99,2 Miliar, Ini Rincian untuk 11 Pemda
Reny menjelaskan, kenaikan tersebut berkaitan dengan adanya perubahan harga bahan bakar minyak, khususnya Pertamax.
“Untuk bensin, pada bulan Juli mengalami kenaikan. Pertamax mengalami kenaikan, walaupun diimbangi juga dengan penurunan Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Namun, kenaikan Pertamax lebih tinggi dibandingkan penurunan tadi,” jelasnya.
Selain bensin, komoditas daging ayam ras memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen.
Kemudian, memasuki tahun ajaran baru, komoditas sekolah dasar turut memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen.
Menurut Reny, penyesuaian biaya pendidikan terjadi pada sejumlah jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga perguruan tinggi.
Namun, berdasarkan catatan BPS, biaya pendidikan pada jenjang sekolah dasar memberikan andil inflasi paling besar dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
“Pada Juli 2026 ini tahun ajaran baru. Beberapa sekolah melakukan penyesuaian harga, baik di jenjang TK, SD, SMP, bahkan perguruan tinggi. Akan tetapi, yang memberikan andil inflasi paling besar adalah sekolah dasar,” ujarnya.
Komoditas lain yang turut memberikan andil inflasi adalah mainan anak sebesar 0,03 persen serta ikan tongkol atau ikan ambu-ambu sebesar 0,03 persen.
Sementara itu, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi.
Cabai merah menjadi komoditas dengan andil deflasi terbesar, yakni 0,11 persen. Kemudian bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,08 persen, telur ayam ras 0,03 persen, kopi bubuk 0,02 persen, serta emas perhiasan sebesar 0,02 persen.
Dengan perkembangan tersebut, BPS mencatat inflasi Provinsi Bengkulu pada Juli 2026 secara bulanan berada di angka 0,23 persen, sedangkan secara tahunan mencapai 3,78 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas, khususnya bahan bakar dan biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru, menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi perkembangan inflasi Bengkulu pada Juli 2026.