Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Cristin Adal
TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA– Lomba Bertutur Cerita Rakyat tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Lembata tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan bercerita.
Kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai upaya menanamkan karakter anak sekaligus menjaga kelestarian cerita rakyat di tengah derasnya arus globalisasi.
Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Lembaga Abdi Masyarakat (LAM) melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 Balai Pelestarian Kebudayaan Nusa Tenggara Timur (NTT) itu berlangsung di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata, Sabtu (1/8/2026).
Puluhan siswa dari berbagai SD dan MI di Kabupaten Lembata mengikuti lomba tersebut. Mereka tampil membawakan cerita rakyat daerah dengan didampingi guru dan orang tua.
Baca juga: Pater Markus Pulang Kampung, Bawa Peninggalan Kudus Santo Petrus Rasul dari Vatikan ke Lewouran
Saat membuka kegiatan, Wakil Bupati Lembata Muhamad Nasir mengatakan lomba bertutur memiliki tiga tujuan utama.
Pertama, memperkuat budaya literasi yang sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Kabupaten Lembata. Kedua, menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal sekaligus meningkatkan minat membaca. Ketiga, membentuk karakter anak melalui nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat.
Ketua Yayasan Lembaga Abdi Masyarakat (LAM), Midun Husein Ratuloli, mengatakan lomba bertutur menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan menghidupkan kembali cerita rakyat melalui penyampaian yang kreatif, komunikatif, serta sesuai perkembangan zaman.
"Kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana dokumentasi budaya guna memastikan keberlanjutan cerita rakyat sebagai bagian dari identitas masyarakat," kata Midun.
Menurut dia, Lembata memiliki beragam cerita rakyat yang merekam pandangan hidup masyarakat, hubungan dengan alam dan leluhur, serta nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan sosial.
Nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, kerja keras, dan semangat kebersamaan dinilai masih relevan sebagai bekal pembentukan karakter generasi muda.
Namun, Midun mengakui perkembangan teknologi informasi dan derasnya arus globalisasi membuat generasi muda semakin akrab dengan budaya populer dan media digital. Akibatnya, tradisi bertutur cerita rakyat mulai ditinggalkan sehingga pewarisan budaya menghadapi tantangan.
Karena itu, kata dia, diperlukan upaya yang terencana dan berkelanjutan agar tradisi bertutur kembali tumbuh di kalangan anak-anak dan remaja.
Salah satu luaran kegiatan tersebut adalah penyusunan buku cerita rakyat Lembata. Buku itu akan dibagikan kepada sekolah-sekolah peserta sebagai bahan bacaan sekaligus media pembelajaran budaya lokal.
Midun menambahkan, Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata memiliki peran penting sebagai pusat literasi yang tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga menjadi ruang publik untuk mendukung pelestarian budaya dan pengembangan kreativitas masyarakat.(KAN)